Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Februari, 2026

Trilogi Resital Oleh Ibn Sina

Trilogi Resital Oleh Ibn Sina

Menjelang ramadan berbagai upaya untuk mensucikan, mengistimewakan bulan suci mulai dipetakan seperti uninstall aplikasi media sosial, rencana-rencana tarawih keliling ke setiap masjid beda organisasi keagamaan hingga membeli buku sebagai 'bekal' sebelum dan saat ramadan. Diantara rencana tersebut ada satu yang sudah dilakoni yakni membeli buku spiritual dan keagamaan khususnya Islam. Buku yang saya beli dari market place dan dikirim   dari Malang - Jawa Timur, buku ini termasuk sangat murah. Mungkin karena halamannya hanya 50 lembar saja, sungguh cukup tipis. Cukup 15.000 rupiah buku tersebut sudah menjadi milik kita, sangat murah. Jangan lupa ini kondisi baru ya! Buku ini merupakan terjemahan dari Hayy Ibn Yaqzan karya Ibnu Sina, seorang filsuf, sastrawan, dokter dan berbagai profesi keilmuan yang disematkan padanya. Buku tersebut diterjemahkan oleh Lutfi Mardiansyah dan diterbitkan Penerbit Pondok Pesantren Al Ma'aarij Sumedang, sungguh saya kagum pada pesantrèn yang tel...

Akulah Yang Tersesat

Menjadi diriku dalam setiap waktu dan ruang menjadi beban tanggung jawab dari segala hal penjuru. Kehidupan ini adalah kerinduan akan kurnia dewata, setiap orang yang merindu selalu haus akan segala hal tentang kedewataan. Semakin jauh langkah akan mengingat Tuhan, sejatinya hati kita semakin rindu akan kedewataan. Kehampaan seperti kekasih dikepung rindu yang hakiki.  Jadilah perindu yang tak pernah haus dan takkan kentang oleh segala hal kerinduan. Jadilah cinta yang mengandung kedewataan.  Tuhan siapakah aku sebenarnya. Sampai di masa ini masih mencari tentang segala hal kesunyian. Terlihat kucing dengan mata basah memandang tanpa arti, lebur bulunya menjadi hal yang nyaman seperti kenyamanan duniawi. Kini aku hanya melihat senyum patung dewa yang menjadi asbak rokok para tetamuku. Senyum dewa membawa uang yang berkah.  Untuk hal ini aku terlalu menguap, sirna.

Belantik - Perjalanan Lasi Menjadi Bekisar Merah

Muka depan Belantik - Novel lanjutan dari Bekisar Merah Lasi telah lama meninggalkan Karangsoga , desa permai di wilayah Banyumasan . Kedamaian yang 'panas' oleh ulah mantan suaminya, hingga akhirnya Lasi minggat ke Jakarta dan jatuh menjadi Bekisar Merah tuan Handarbeni . Kehidupan yang serba mewah dan serba mudah layaknya bekisar yang dirawat dengan segala kemewahan dan menjadi pajangan untuk setiap insan berduit di ibukota. Di sisi terdalam Lasi masih diterkam kesepian, hampa dan tanpa tujuan dalam hidup. Layaknya bekisar nan ayu, Lasi masih saja menjadi barang dagangan Bu Lanting. Perkara hidup Lasi semakin rumit, permainan tangan pembesar semakin nyata. Kini dirinya dicerai oleh Handarbeni melalui informasi dari Bu Lanting dan yakinkan kembali oleh Handarbeni sendiri. Handarbeni menjual Lasi ke Pak Bambung dengan imbalan menjadi direktur dan menerima keuntungan lebih besar lainnya. Dari penjualan bekisar merah ini yang paling diuntungkan adalah Bu Lanting s...

Sumatera Tempo Doeloe - Anthony Reid

Membaca sejarah dari buku ke buku, seakan menyusuri waktu dari cerita seseorang dengan cerita yang dialami sendiri atau orang (sumber) lainnya lagi. Sungguh seperti menyusun sebuah teka teki yang terpecah dan kembali disatukan oleh beberapa sumber yang sama apa yang diceritakan. Kali ini saya bergeser ke barat, pulau tetangga dari Jawa. Merupakan salah satu pulau terbesar di Indonesia dan juga dunia, Sumatra . Pulau yang menjulur dari barat daya ke selatan (tenggara), dikenal sebagai pulau emas dengan berbagai kekayaan alam dan sejarahnya. Seminggu sudah membaca biografi Franz Wilhelm Junghuhn , kini dikuatkan kembali pada surat-surat atau laporan dari berbagai sumber tentang Sumatra kala itu. Dan inilah pengungkapan sejarah dari berbagai sumber dan apa yang mereka tulis satu sama lain hampir sama. Seperti Junghuhn tulis tentang keadaan suku Batak kala itu dan oleh laporan dari beberapa orang seperti misionaris Ginsberg hampir sama. Nama Junghuhn sendiri disebut sekali sa...