Langsung ke konten utama

Kisah 1001 Malam Jilid 2

Trilogi Resital Oleh Ibn Sina

Menjelang ramadan berbagai upaya untuk mensucikan, mengistimewakan bulan suci mulai dipetakan seperti uninstall aplikasi media sosial, rencana-rencana tarawih keliling ke setiap masjid beda organisasi keagamaan hingga membeli buku sebagai 'bekal' sebelum dan saat ramadan. Diantara rencana tersebut ada satu yang sudah dilakoni yakni membeli buku spiritual dan keagamaan khususnya Islam. Buku yang saya beli dari market place dan dikirim dari Malang - Jawa Timur, buku ini termasuk sangat murah. Mungkin karena halamannya hanya 50 lembar saja, sungguh cukup tipis. Cukup 15.000 rupiah buku tersebut sudah menjadi milik kita, sangat murah. Jangan lupa ini kondisi baru ya!

Buku ini merupakan terjemahan dari Hayy Ibn Yaqzan karya Ibnu Sina, seorang filsuf, sastrawan, dokter dan berbagai profesi keilmuan yang disematkan padanya. Buku tersebut diterjemahkan oleh Lutfi Mardiansyah dan diterbitkan Penerbit Pondok Pesantren Al Ma'aarij Sumedang, sungguh saya kagum pada pesantrèn yang telah mempunyai percetakan dan mencetak karya-karya baik dari pengajar dan santrinya.

Buku memang tipis karena hanya 50 lembar, tapi bab 1&2 atau resital 1&2 saya yakin bab tersebut untuk orang-orang pemikir, orang yang mempunyai wawasan tinggi kebahasaan yang paham maksud dari resital tersebut. Di sini saya menemukan banyak kosakata yang belum pernah tahu artinya, satu lembar bisa bolak-balik melihat kamus digital bahasa Indonesia. Pada bab 3 atau rastal terakhir cerita dan bahasa sangat mengalir, tanpa banyak olah pikir dan mencari cari arti dari kosakata yang dipilih. 

Judul: Trilogi Resital: Hayy Ibn Yaqzan, Risalat at-Tayr, Salaman wa Absal - Ibn Sina 
Penerjemah: Lutfi Mardiansyah 
Penyunting: Zaini Lutfi 
Dimensi: viii+ 49 hlm, 13x20 cm
Cetakan: Pertama, 2023
Penerbit: Pondok Pesantren Al Ma'aarij 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Review Sepatu Gunung SNTA

Sepatu SNTA Jika dirunut waktu kira-kira sudah menginjak usia tiga tahun sepatu gunung merek SNTA yang ku beli dari teman satu perusahaan sewaktu masih menjadi kuli di Jakarta Raya. Saya membeli sepatu SNTA bukanlah sebuah pilihan dari hati ataupun penalaran akal, melainkan sebuah pilihan terpaksa dari sebuah ketidaktahuan yang mendalam pada peralatan out door . Bisa dikatakan aku hanya manut saran dari temanku yang sekaligus menjadi penjual dari sepatu yang ku beli.  Berawal dari niat mendaki gunung Semeru pada tahun 2016 lalu, semua tuntutan peralatan out door harus dilunasi oleh sejumlah lembaran merah biru dari dalam dompet. Sepatu gunung, jaket gunung, tongkat, sarung tangan, keril dan sejumlah aksesorir terbayar lunas tanpa berpikir merek, warna, jenis barang. Yang tergambar dalam otakku hanyalah sebuah kepemilikan saja dan berangkat mendaki.  Tidak salah pilihan dari temanku ini membawa manfaat andalan dari merek sepatu SNTA yang saya rasakan dari awal ...

Nama-nama Tai

Sega, beras yang ditanak Apa benar bahasa Jawa itu terlalu 'manut' ke bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris? Tampaknya ada benarnya juga, bahasa Jawa terpengaruh/meminjam banyak kosa kata dari bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris. Kekurangan kosakata dalam bahasa Jawa memang kebanyakan untuk hal-hal seperti teknologi ataupun hal lainnya. Jangan berkecil hati untuk penutur bahasa Jawa di seluruh dunia! Perlu diingatkan bahasa Jawa mempunyai keunikan tersendiri, misalnya saja untuk belajar bahasa Jawa 'satu paket' atau juga keseluruhan dari bahasa kasar/ngoko, bahasa sedang/madya hingga bahasa halus/kromo, sama saja belajar tiga bahasa!! Bayangkan belajar tiga bahasa, apa gak repot ya?! Itulah keistimewaan bahasa Jawa. Bersyukur! Berbagai keistimewaan bahasa Jawa juga terdapat di istilah-istilah yang sangat detail/spesifik pada suatu beda yang mengalami sebuah perubahan sedikit maupun perubahan besar. Misalnya saja untuk rangkaian nama dari sebuah padi/po...

Istilah-istilah Anak dalam Keluarga Jawa

1. Ontang-anting: anak laki-laki/perempuan tanpa saudara (semata wayang). 2. Uger-uger lawang: dua bersaudara anak laki-laki. 3. Kembang sepasang: dua bersaudara anak perempuan. 4. Kendhana-kendhini: dua anak bersaudara, laki-laki yang tua, perempuan yang muda. 5. Kendhini-kandana: dua anak bersaudara, perempuan yang tua, laki-laki yang muda. 6. Pandhawa: Kelima anak berjenis kelamin laki-laki semua. 7. Ngayoni: Kelima anak berjenis kelamin perempuan semua. 8. Madangka: Lima anak bersaudara, empat orang lelaki dan satu perempuan. 9. Apil-apil: lima bersaudara, empat orang lelaki dan satu perempuan. Sumber Serat Centhini II - UGM Press.