Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Juni, 2023

Corat Coret Di Toilet - Eka Kurniawan

Dan Perang Pun Usai - Ismail Marahimin

Dan Perangpun Usai, pertama dengar judul ini dari podcast Bang Rane Hafid di KepoBuku. Kalau tidak salah saat ini membicarakan buku tema 'kipas-kipas' alias tema hot, seperti buku Nyi Gowok yang pernah aku beli sebelumnya, karya besar dari Enny Erow. Nah buku yang saya baca ini juga disebut kala itu, jelas ini mengundang gairah lelaki dan keperjakaanku.  Buku 'kipas-kipas' hasil pembicaraan host  KepoBuku memang tidak semua saya beli, hanya beberapa saja seperti buku Nyai Gowok dan yang sekarang saya baca. Beruntung sekali saya mendapatkan melalui market place warna ijo, dengan harga yang murah. Saat itu Nyai Gowok sekitar 60.000 rupiah masih segel dan original, sementara buku ini didapat dari toko loak. Lembaran yang menguning dan ringkihnya tulang belakang dari buku membuat ekstra hati-hati saat membukanya. Hanya dengan harga 15.000 rupiah ditambah ongkos kirim menjadi 27.200 rupiah. Sangat murah memang.  Dibeli dengan kondisi loak, menjadi hal yang haru

Membedah Gatholoco Rahasia Ilmu Sejati dan Asmaragama - Damar Shashangka

Selain Serat Tembang Raras alias Centhini, ada banyak serat karya bangsa Jawa yang populer. Beberapa serat agung tersebut mengungkap kesejatian hidup, juga mengarah pada seks salahsatunya Serat Gatholoco. Serat vulgar diantara serat lainnya, dari namanya juga sudah terlalu vulgar. Mari kita bedah si vulgar ini. Gatholoco terdiri dari dua suku kaya yakni Gatho dan Loco, Gatho/Gathil sendiri bermakna Kontol, Penis, Alat kelamin. Sementara loco sebuah kata kerja bermakna mengocok atau tempat untuk mengocok. Jika dijabarkan berarti sebuah aktifitas seksual baik penetrasi oenis dengan vagina atau aktivitas onani. Buku ini ditulis oleh seorang ahli kejawen bernama Damar Shashangka, beliau telah menulis berbagai buku mengenai filsafat jawa, naskah-naskah kuno termasuk Serat Gatholoco. Buku yang terdiri dari 395 halaman ini berisi naskah lengkap Serat Gatholoco dalam bahasa Jawa berserta terjemahan dalam bahasa Indonesia. Tak lupa penulis juga menjabarkan arti dan maksud dari pupuh

Oleh-oleh Khas Kalipucang - Pangandaran

Pergi suatu kota tidak akan lengkap jika tidak memakan makanan khasnya, hal yang bodoh jika seseorang pergi ke satu kota hanya makan mie instan. Dan mie instan tersebut tersebar seantero negeri, hal yang menjemukan. Nah jika anda sekalian pergi ke Pangandaran, boleh cicipi masakan khas Kalipucang yakni sate towe atau sate kijing.  Kalipucang merupakan salah satu kecamatan yang berada di kabupaten Pangandaran, lokasinya berjiran dengan kecamatan Pangandaran. Jika dilihat dari geografinya kecamatan Kalipucang berbatasan langsung dengan Kabupaten Cilacap - Jawa Tengah, nah batas provinsi ini dibelah oleh sungai Citanduy. Sungai inilah yang membawa keberkahan pada setiap penduduknya baik sebelah barat dan timur bantaran sungai. Khusus di wilayah timur bantaran sungai terdapat rawa-rawa. Rawa inilah yang mengandung banyak ikan dan hewan lainnya yang membawa rezeki seperti towe atau kijing.  Kalipucang terkenal akan sate kijing, sate ini dijual oleh ibu-ibu yang menjajakan dagang

Mengulang Kembali Burung-Burung Manyar oleh Y.B Mangunwijaya

Otakku masih menyimpan sedikit perihal roman Burung-burung Manyar karya Romo Mangun, saat itu berada di kelas 2 SMP. Remaja yang sedang asik mencari hiburan dalam bentuk tulisan, perpustakaan sekolah yang tak banyak buku ternyata menyediakan buku karangan beliau. Mau tidak mau akupun melahapnya. Ah kelas 2 SMP sudah terpaut jauh dengan sekarang, memoripun hanya sebatas judul yang masih terpatok kuat, jalan cerita dan tokoh hilang sudah seperti lenyapnya kota Soddom.  Beberapa kali mencari buku ini tak sempat untuk dibeli atau ditemukan, sekali ditemukan beranda di perpustakaan kabupaten yang lumayan jauh. Sementara di perpustakaan kota tidak ada, padahal perpustakaan kota paling dekat di rumah. Beruntung buku ini tergeletak di Lapan Film Lab, sebuah perusahaan kecil penggerak hobi kamera analog yang ada di Cisaga, Ciamis. Aku dan pemilik buku memang sudah kenal, walaupun belum genap setahun. Atas kepercayaannya aku diberi kesempatan untuk membaca dua buku yang tersedia, diantaranya buk

Sarkasme dari Seekor Kucing dari Buku Soseki Natsume

Merupakan bacaan ke-tiga sastra Jepang, sebelumnya saya membaca karya sastra Jepang berbentuk cerita hantu dan cerita rakyat. Sungguh cerita dari mereka mengandung banyak manfaat rohani, terutama soal lingkungan, kemanusiaan dan keagamaan khususnya agama Buddha. Sekali lagi aku merasa harus ada tambahan membaca karya-karya bangsa Jepang baik klasik ataupun kontemporer.  Novel ini terdiri dari 3 volume, tidak semua volume sambung menyambung dengan baik. Di sini ada permainan sudut pandang, atau hanay sebagai cerita yang didengarkan oleh si Kucing. Kucing tanpa nama ini dipelihara oleh keluarga guru, biasanya disebut Master. Dia memelihara kucing tanpa nama tersebut dengan acuh tak acuh. Tidak ada istimewa sama sekali, tidak seperti kucing tetangga yang selalu disayang.  Cerita ini memang seonggok sarkas yang ditujukan pada manusia Jepang saat itu, dimana pergumulan kehidupan disoalkan oleh seekor kucing. Bagiku sudut pandang kucing merupakan sudut pandang dari sang penulis yang mengkrit

Pergilah dengan Damai Sukom II

Beberapa hari memang Sukom II tampak lemas, makan pun sungkan. Beberapa makanan kering tidak dimakan. Tampak terjadi penurunan nafsu makan, hidung tampak basah. Kupikir ini flu saja dan segera membaik. Namun dugaan itu salah besar, kini dia telah berlari bersatu dengan ibunya Kucing Sukam (Kucing Ompong) yang telah tewas. Sore di awal Juni, Sukom II tampak lemas. Menyudut di ember dekat WC, mencari hal dingin dekat air. Wajahnya tampak murung dan sedikit lemas. Beberapa kali diberi makanan kering tetap tidak mau makan, disuapi juga dilepeh. Dia istirahat di kasurku dan pindah ke kotak tempat biasanya tidur. Selepas magrib dia menghilang entah kemana. Yakinku kembali ke sumur (WC). Mendekati tengah malam ada auman menyedihkan, kupikir dia berantem dengan kucing oren si penguasa lingkungan. Ternyata sangkaan itu salah, auman itu seperti kesakitan dan teringat auman akhir dari Panda I saat melepas nyawa di depanku. Sungguh pedih melihat kucing kesayangan meringkuk kaku, matany