Langsung ke konten utama

Postingan

Belantik - Perjalanan Lasi Menjadi Bekisar Merah

Postingan terbaru

Sumatera Tempo Doeloe - Anthony Reid

Membaca sejarah dari buku ke buku, seakan menyusuri waktu dari cerita seseorang dengan cerita yang dialami sendiri atau orang (sumber) lainnya lagi. Sungguh seperti menyusun sebuah teka teki yang terpecah dan kembali disatukan oleh beberapa sumber yang sama apa yang diceritakan. Kali ini saya bergeser ke barat, pulau tetangga dari Jawa. Merupakan salah satu pulau terbesar di Indonesia dan juga dunia, Sumatra . Pulau yang menjulur dari barat daya ke selatan (tenggara), dikenal sebagai pulau emas dengan berbagai kekayaan alam dan sejarahnya. Seminggu sudah membaca biografi Franz Wilhelm Junghuhn , kini dikuatkan kembali pada surat-surat atau laporan dari berbagai sumber tentang Sumatra kala itu. Dan inilah pengungkapan sejarah dari berbagai sumber dan apa yang mereka tulis satu sama lain hampir sama. Seperti Junghuhn tulis tentang keadaan suku Batak kala itu dan oleh laporan dari beberapa orang seperti misionaris Ginsberg hampir sama. Nama Junghuhn sendiri disebut sekali sa...

Dua Buku Karya C.W Wormer Tentang Gunung & Junghuhn

Carel Willem Wormser atau C.W Wormser adalah seorang sarjana hukum sekaligus pecinta gunung, dia hidup pada tahun 1876 - 1946 terlahir sebagai seorang Belanda. Selain menjadi hakim dan pecinta gunung C.W Wormser dikenal juga sebagai jurnalis dan pemimpin koran De Preangerbode (1921-1942) yang terbit di Bandung. Seperti disebutkan pada buku terjemahan C.W Wormser terinspirasi dan mengagumi Franz Wilhelm Junghuhn seorang naturalis terkenal di Hindia Belanda asal Jerman.  Saking kagumnya beberapa buku karya C.W Wormser 'melibatkan' Junghuhn seperti pada dua buku yang saya baca saat ini: Pesona Gunung Gunung Jawa dan Biografi Frans Junghuhn yang terbit tahun ini (2026) dan diterjemahkan oleh Malik Ar Rahiem. Kekaguman ini melebihi fandom artis terkenal dewasa ini, C.W Wormser melakukan 'ziarah' napak tilas semua gunung-gunung yang didaki oleh idolanya di tanah Jawa. Dan dia sendiri mempunyai hobi yang sama yakni kecintaan pada alam dan pendakian gunung.  Melalui penerjemaha...

Berhembus Sirna

Bila ada rela Aku pun berhembus sirna  Terbawa pada air Menjelma tanah bercacing             Tidak ada menjadi ada tak terkendali             Sirna hilang Akulah kedamaian kini Di hadapanku  Yang Maha  Tak ada apapun  Hanyalah Dia

Recap Tahun Baca 2025

Membaca buku pada tahun 2025 termasuk katagori padat, tapi tidak terlalu 'nafsu' karena jumlah buku baca dan beli, lebih banyak jumlah beli (termasuk 10 buku yang dibeli menggunakan anggaran tahun baca 2026). Selain itu ada semacam kejenuhan membaca setelah membaca buku yang menguras otak baik buku tebal, ataupun buku yang njlimet.   Tahun baca 2025 menghabiskan 28 judul buku, ada 2 judul buku yang dilewati karena berbagai alasan yang membuat enggan melanjutkan baca. Diantaranya: Nyanyi Sunyi Seorang Bisu - Pramoedya Ananta Toer dan Max Havelaar - Multatuli . Dua buku yang saat itu terasa berat dibaca dan melangkah ke buku yang ringan dan mudah dicerna, seperti serat mangga dan genjer .  Dari ke-28 judul buku beberapa menjadi favorit:  1. Subjek Sunda oleh Holy Rafika 2. Ronggeng Dukuh Paruk Versi Bahasa Banyumasan - Ahmad Tohari   3. Kubah - Ahmad Tohari   Subjek Sunda membawa saya mengerti apa itu Sunda, buku yang cukup jarang membahas kesundaan. Sebagai warg...

Mas Mantri Menjenguk Tuhan: Refleksi Spiritual Kebudayaan Oleh Ahmad Tohari

Pagi di hari Ahad, rintik hujan dan kabut putih menyelimuti segenap sisi perkampungan. Di ujung sawah masih saja burung derkuku berbunyi layaknya sambutan meriah pada panen raya akan datang. Waktu romansa yang sungguh membawa kesan mendalam. Dua hari lalu saya menerima paket buku yang dibeli melalui toko buku online, kali ini saya membeli buku Mas Mantri Menjenguk Tuhan. Sebuah karya dari maestro sastra Indonesia, Ahmad Tohari. Kumpulan cerita ini dihimpun dalam beberapa judul dan tema mengangkat isu spiritual, sosial, kebudayaan dan keagamaan. Setiap judul membawa permasalahannya sendiri dan saat itu juga muncul jawaban dari permasalahan tersebut, sungguh cerita yang membawa renungan. Terbentuk dari beberapa kolom surat kabar Harian Merdeka, terkumpul menjadi satu hingga berbentuk pada sebuah buku berjumlah 208 halaman. Kolom ini berisikan sebuah cerita dengan berbagai topik kasus mulai dari kasus spiritual agama hingga pada budaya pada masyarakat. Kolom berbentuk sebuah cerita dengan...

Hutan Lindung Gunung Gegerbentang Pamarican dan Refleksi Diri

Awal tahun adalah hal yang baik untuk menjadi lebih baik dari segala aspek, baik aspek yang akan dibangun dalam diri sendiri atau di luar diri sendiri. Aspek di luar diri ini sering teracuhkan, bahkan terlupa, sebenarnya apa saja sih yang termasuk aspek luar ini? Ekologi , rumah terbesar umat manusia. Dalam ranah Jawa rumah besar kita sebagai umat manusia adalah jagad gedhé atau jagat besar yakni bumi dan seisinya , dalam arti sempit lingkungan. Lupa, terlupa dan dilupakan rumah sendiri yang mestinya dijaga, dirawat dan dipercantik ( memayu hayuning båwånå), malah dirusak dan dieksploitasi layaknya seorang pelacur. Akhir tahun 2025 gambaran nyata hasil 'pelacuran' ekologi, di mana bumi kita sendiri sudah muak dengan segala perusakan.  Bencana ekologi tahun 2025 lalu hampir rata di wilayah républik ini, mulai dari wilayah barat sampai pada ujung timur di mana Mentari menyinari kasihnya. Hutan terbabat habis, hewan yang dilindungi undang-undang tercampakan, menangis pilu di sisi ...