Membaca sejarah dari buku ke buku, seakan menyusuri waktu dari cerita seseorang dengan cerita yang dialami sendiri atau orang (sumber) lainnya lagi. Sungguh seperti menyusun sebuah teka teki yang terpecah dan kembali disatukan oleh beberapa sumber yang sama apa yang diceritakan. Kali ini saya bergeser ke barat, pulau tetangga dari Jawa. Merupakan salah satu pulau terbesar di Indonesia dan juga dunia, Sumatra. Pulau yang menjulur dari barat daya ke selatan (tenggara), dikenal sebagai pulau emas dengan berbagai kekayaan alam dan sejarahnya.
Seminggu sudah membaca biografi Franz Wilhelm Junghuhn, kini dikuatkan kembali pada surat-surat atau laporan dari berbagai sumber tentang Sumatra kala itu. Dan inilah pengungkapan sejarah dari berbagai sumber dan apa yang mereka tulis satu sama lain hampir sama. Seperti Junghuhn tulis tentang keadaan suku Batak kala itu dan oleh laporan dari beberapa orang seperti misionaris Ginsberg hampir sama. Nama Junghuhn sendiri disebut sekali saja di buku ini dan disanjung sebagai peneliti pemberani, namun laporan Junghuhn sendiri tidak disajikan.
Dua bab menjadi sambungan dari novel yang membuat saya mabuk saat masih SMP, dimana Radio Netherlands Wereldomroep seksi bahasa Indonesia menyiarkan sandiwara radio berjudul "Koeli" karya Madelon Szèkely-Lulofs. Tulisan Lulofs muncul dalam dua bab menceritakan perkara nyai, kuli dan perempuan di perkebunan tembako di Deli.
Uniknya buku ini bukan saja perkara lini waktu sejarah pulau Sumatera, melainkan bahasa yang digunakan. Buku ini tercipta dan diciptakan untuk orang asing dan menggunakan bahasa asing (Inggris), tetapi saat diterjemahkan ada hal yang berbeda pada penggunaan bahasa Indonesia. Hampir semua bab menggunakan terjemahan bahasa Indonesia saat ini, hanya ada satu bab yang menggunakan bahasa Indonesia tempo lalu. Di mana bahasa Indonesia sudah digaungkan saat Sumpah Pemuda sebagai bahasa persatuan. Bab Tan Malaka mungkin tidak langsung diterjemahkan dari bahasa Inggris ke bahasa Indonesia dewasa ini, melainkan teks asli dari biografi Tan Malaka yang masih menggunakan bahasa Indonesia saat itu (1897-1947). Perlu membaca ulang dan pelan untuk memahami benar apa yang ditulis, bahasa Indonesia saat itu ada beberapa kosakata yang menggunakan bahasa Belanda asli.
Tan Malaka hadir dengan kemanusiaannya, membela nasib proletar yang selalu dikuras tenaganya oleh para lintah-lintah perusahaan. Dirinya juga mengungkap sistem sosial yang memang mengganti manusia menjadi hewan, tidak ada harganya. Fokus tulisan tetap berada di Deli dengan segala gudang permasalahan politik, kemanusiaan dan lain sebagainya.
Buku sejarah kali ini saya beli dengan harga kortingan dari harga 140.000 menjadi 90.345 rupiah, sungguh rejeki yang baik. Buku ini berhalaman cukup tebal yakni 423 halaman, sungguh akan sangat membosankan jika memang tidak ada hasrat, ketertarikan ataupun rasa penasaran. Beberapa halaman dan bab selalu disajikan lukisan-lukisan ataupun barang bukti sejarah. Disusun atau ditulis oleh Anthony Reid dan diterbitkan oleh Komunitas Bambu di Depok, Jawa Barat. Sumatera Tempo Doeloe dari Marcopolo sampai Tan Malaka, sebuah buku yang membedah sejarah Sumatera dari laporan-laporan penjelajah dunia sampai pelaku sejarah kemerdekaan Republik Indonesia. Sungguh buku ini membuat hasrat bergejolak untuk segera membacanya.
Judul: Sumatera Tempo Doeloe dari Marcopolo Sampai Tan Malaka
Penulis: Anthony Reid
Penerjemah: Tim Komunitas Bambu
Dimensi: xxiv + 424 hlm; 15.5 X 24 cm
Cetakan: Kedua, Januari 2014
Penerbit: Komunitas Bambu - Depok
ISBN: 979-3731-94-x
Komentar