| Muka depan Belantik - Novel lanjutan dari Bekisar Merah |
Lasi telah lama meninggalkan Karangsoga, desa permai di wilayah Banyumasan. Kedamaian yang 'panas' oleh ulah mantan suaminya, hingga akhirnya Lasi minggat ke Jakarta dan jatuh menjadi Bekisar Merah tuan Handarbeni. Kehidupan yang serba mewah dan serba mudah layaknya bekisar yang dirawat dengan segala kemewahan dan menjadi pajangan untuk setiap insan berduit di ibukota. Di sisi terdalam Lasi masih diterkam kesepian, hampa dan tanpa tujuan dalam hidup. Layaknya bekisar nan ayu, Lasi masih saja menjadi barang dagangan Bu Lanting.
Perkara hidup Lasi semakin rumit, permainan tangan pembesar semakin nyata. Kini dirinya dicerai oleh Handarbeni melalui informasi dari Bu Lanting dan yakinkan kembali oleh Handarbeni sendiri. Handarbeni menjual Lasi ke Pak Bambung dengan imbalan menjadi direktur dan menerima keuntungan lebih besar lainnya. Dari penjualan bekisar merah ini yang paling diuntungkan adalah Bu Lanting sebagai mucikari kelas atas para konglomerat di Jakarta.
Diketahui pak Bambung sebagai orang penting dari segala lini bisnis dan kekuasaan, apapun bisa diraih dengan mudah. Termasuk Sang Bekisar Merah dari Karangsoga, Lasi. Bu Lanting sudah menyerahkan sepenuhnya Bekisar Merah ke Pak Bambung, sebuah rumah di Slipi telah diberikan untuk Sang Bekisar. Lasi dengan kelembutan hati, kepolosan alami, dan naluri perempuan yang baik akhirnya minggat ke sana ke mari dan akhirnya bermuara ke kampung halamannya, Karangsoga. Karangsoga tidak pernah membenci Lasi sebagai peranakan Jawa Jepang, tidak pernah mengutuk saat minggat ke Jakarta dan kehidupannya yang mewah. Karangsoga selalu menerima dengan ketulusan sejati, begitu pula kakek Mus yang selalu membawa kedamaian.
Kembalinya Lasi di Karangsoga tidak menutup kemungkinan komunikasi kembali pada cinta dalam hatinya Lasi, Kanjat. Pemuda gagah yang telah menjadi dosen tersebut kini dipertemukan kembali pada cintanya yang lama telah hilang. Akankah Kanjat dan Lasi menikah dan hidup bahagia tanpa bayang bayang Pak Bambung, Handarbeni dan Bu Lanting?.....
Belantik judul yang tepat untuk jilid II dari Bekisar Merah, sesuai dengan artinya, belantik mempunyai arti sebagai perangkap. Dalam perjalanan cerita banyak perangkap-perangkap untuk si Bekisar Merah dari Karangsoga.
Gramedia memungkinkan untuk mencetak buku ini dengan ukuran yang tak biasa, boleh dikata unik daripada buku-buku cetakan lainnya yang mempunyai ukuran sewajarnya. Novel ini berukuran 21 cm ukuran yang lebih lebar daripada novel umumnya. Dengan lantar jilid artistik membawa Belantik dikejar oleh kolektor dan pemburu karya Ahmad Tohari. Di pasar sendiri buku ini termasuk buku siluman, buku yang ada namun terbatas. Peredaran tidak masif.
Saya sendiri membeli novel ini dalam keadaan bekas terawat. Tidak ada coretan ataupun cacat robek. Cukup sempurna untuk dikoleksi dan dipajang sebagai bahan pamer kepada tetamu yang masuk ke ruangan keluarga. Sungguh hal yang bisa disombongkan. Harga yang ditawarkan melalui DM Instagram sekitar 110.000 Rupiah, tidak termasuk ongkos kirim. Jika digital dengan ongkos kirim maka menjadi 120.000 rupiah. Sungguh menjadi harga yang pantas untuk novel yang bersifat siluman ini.
Judul: Belantik (Bekisar Merah II)
Penulis: Ahmad Tohari
Dimensi: 142 hlm; 21 cm
Cetakan: Pertama, 2001.
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
ISBN: 979-665-607-3
Komentar