Langsung ke konten utama

Dua Buku Karya C.W Wormer Tentang Gunung & Junghuhn

Dua Buku Karya C.W Wormer Tentang Gunung & Junghuhn

Carel Willem Wormser atau C.W Wormser adalah seorang sarjana hukum sekaligus pecinta gunung, dia hidup pada tahun 1876 - 1946 terlahir sebagai seorang Belanda. Selain menjadi hakim dan pecinta gunung C.W Wormser dikenal juga sebagai jurnalis dan pemimpin koran De Preangerbode (1921-1942) yang terbit di Bandung. Seperti disebutkan pada buku terjemahan C.W Wormser terinspirasi dan mengagumi Franz Wilhelm Junghuhn seorang naturalis terkenal di Hindia Belanda asal Jerman. 

Saking kagumnya beberapa buku karya C.W Wormser 'melibatkan' Junghuhn seperti pada dua buku yang saya baca saat ini: Pesona Gunung Gunung Jawa dan Biografi Frans Junghuhn yang terbit tahun ini (2026) dan diterjemahkan oleh Malik Ar Rahiem. Kekaguman ini melebihi fandom artis terkenal dewasa ini, C.W Wormser melakukan 'ziarah' napak tilas semua gunung-gunung yang didaki oleh idolanya di tanah Jawa. Dan dia sendiri mempunyai hobi yang sama yakni kecintaan pada alam dan pendakian gunung. 

Melalui penerjemahan Malik Ar Rahiem jendela baru dari masa kolonial kembali terbuka, seperti pemandangan indah yang lama tidak bukan karena kunci jendela yang hilang. Dari segi bahasa buku terjemahan ini sangat mudah dicerna, nyaman saat dibaca juga memberikan gambaran terbaru dari lokasi lokasi saat ini dengan foto terbaru. Dengan harga prapesan saya mendapatkan harga memikat yakni Rp 242.500 dengan rincian: dua buku, ongkos kirim Bandung - Pamarican, dan biaya BI Fast.


Pesona Gunung-gunung Jawa

Hampir 30 gunung didaki beberapa kali dalam periode masa hidupnya. C.W Wormser mengabdikan diri pada gunung-gunung di Jawa, walaupun dirinya sebagai ahli hukum di masa kolonial. Kecintaannya pada alam tak terpisahkan dari gunung-gunung yang menjulang, sama seperti idolanya Junghuhn. Buku Pesona Gunung-gunung Jawa tak lain sebagai ziarah terbesar hidupnya pada sang idola Junghuhn, C.W Wormser mengadakan pendakian sesuai dengan apa yang dilakukan oleh Junghuhn. 

Detail keindahan, keistimewaan dan terjalnya pendakian diceritakan secara rinci sehingga kita pembaca merasuk pada setiap kata hingga paragraf yang tersusun. Seakan-akan pembaca ikut di belakangnya saat pendakian, tak lupa susana kolonial pun terasa sampai sanubari. 

Terlalu sulit saya menggambarkan keindahan buku ini sehingga kata kalimat pun menyempit dan terhenti. Sama seperti menikmati keindahan gunung saat mendaki, diam dan lenyap dalam alam. 

Judul: Pesona Gunung-gunung Jawa
Judul asli: Drie en dertig Jaren op Java vol-2
Penulis: C.W Wormser 
Penerjemah: Muhammad Malik Ar Rahiem 
Dimensi: xvi + 405 hlm
Cetakan: Pertama, 2025 (Projek Indie)
Penerbit: Mizan Grafika Sarana - Bandung 

Frans Junghuhn 

Bisa jadi merupakan buku ke-3 biografi yang saya baca setelah biografi dokter Cipto Mangunkusumo & Rasul Muhammad, saya jarang sekali membaca biografi. Saya jarang mengidolakan sekali sosok seseorang, singkatnya tidak punya idola yang wajib membaca biografinya. Dari terbitan Kang Malik inilah saya kembali membaca buku biografi dengan berbagai asalan sehingga jatuh cinta pada sosok Junghuhn. 

Junghuhn sosok yang saya kenal sejak SMP atau SMA dalam bab geografi pegunungan dalam pelajaran IPS Geografi. Namanya malang melintang selalu disebut dan kami kesulitan menulisnya kadang kurang 'h' Junghun atau kelebihan 'h' Jhunghuhn. Begitulah kira kira saat saya masih duduk di sekolah. Namanya mashur, tapi tidak ada dalam otak untuk mencari siapa dia hingga pada periode tahun 2023 saya mendapatkan Kang Malik menerjemahkan Cahaya dan Bayang-bayang dari Jawa. Pada saat itulah saya kembali jatuh cinta pada sosok Junghuhn. 

Sebagai penggemar C.W Wormser mengambil sikap untuk menulis biografi sang idola dan terbit pada tahun 1942. Dalam bukunya riwayat Junghuhn terbagi menjadi beberapa bab: Awal kehidupan, Kehidupan di Jawa (Hindia Belanda), Kembali ke Eropa dan Pernikahan dan Akhir kehidupannya dan budidaya kina. 

Membaca buku ini pikiranku terpental jauh dan jatuh pada diri sendiri dan memikirkan bagaimana jika saya meninggal adakah yang mengenangkku sampai beratus tahun nanti? Tapi itu seperti hal yang tidak mungkin karena seseorang yang akan diingat sampai 100 tahun lebih mempunyai kontribusi pada dunia yang lebih banyak. Sementara saat ini saya belum ambil aksi apapun pada dunia, dan timbullah pikiran gak mungkin ada yang menulis dan mengenang. Keluargapun hanya mengenang sampai 1000 hari atau 3 tahunan selanjutnya memuai bagai arwah yang terhisap oleh udara di atas sana. Oh Junghuhn kaulah legenda!

Masa kecil Junghuhn penuh dengan kasih juga kedisiplinan yang dipaksakan oleh sesosok ayah, pada periode ini saya sebagai pembaca merasa remuk saat saya (masuk pada diri Junghuhn) dipaksa untuk menuruti apa yang Ayah suka, sementara mencampakkan kecintaan pribadi pada pilihan ilmu ataupun jalan hidup. Rasa sakit yang mendalam terasa padaku sebaya pembaca, namun tak lepas dari ungkapan cinta ayah pada anak. Seperti sebuah paradoks. 

Satu episode yang paling menyayat dalam hidupnya saat perpisahan pada gunung-gunung tercinta dan pada anak istri. Dia mengucap selamat tinggal dan menatap gunung yang dicintai sebelum hembusan terakhir ruhnya. Sungguh terlalu sakral! Aku sebagai pembaca terlalu larut masuk dalam diri Junghuhn hingga air mata dan cita-cita, semangate dan cinta masuk perlahan berdesir di sudut nadi.

"Groneman yang baik, bukalah jendela kamarku lebar-lebar... Aku ingin pamit pada gunung-gunung kesayanganku... Melihat hutanku satu kali lagi untuk terakhir kali... Menghirup udara pegunungan murni..."

Judul: Frans Junghuhn - Sebuah Biografi 
Judul Asli: Frans Junghuhn (terbit 1942)
Penulis: C.W Wormser (1876-1946)
Penerjemah: Muhammad Malik Ar Rahiem 
Penyunting: Damaring Tyas Wulandari Palar
Dimensi: xvi + 425 hlm
Terbit: Pertama, 2025 (Projek Indie)
Dicetak: Mizan Grafika Sarana - Bandung 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Nama-nama Tai

Sega, beras yang ditanak Apa benar bahasa Jawa itu terlalu 'manut' ke bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris? Tampaknya ada benarnya juga, bahasa Jawa terpengaruh/meminjam banyak kosa kata dari bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris. Kekurangan kosakata dalam bahasa Jawa memang kebanyakan untuk hal-hal seperti teknologi ataupun hal lainnya. Jangan berkecil hati untuk penutur bahasa Jawa di seluruh dunia! Perlu diingatkan bahasa Jawa mempunyai keunikan tersendiri, misalnya saja untuk belajar bahasa Jawa 'satu paket' atau juga keseluruhan dari bahasa kasar/ngoko, bahasa sedang/madya hingga bahasa halus/kromo, sama saja belajar tiga bahasa!! Bayangkan belajar tiga bahasa, apa gak repot ya?! Itulah keistimewaan bahasa Jawa. Bersyukur! Berbagai keistimewaan bahasa Jawa juga terdapat di istilah-istilah yang sangat detail/spesifik pada suatu beda yang mengalami sebuah perubahan sedikit maupun perubahan besar. Misalnya saja untuk rangkaian nama dari sebuah padi/po...

Istilah-istilah Anak dalam Keluarga Jawa

1. Ontang-anting: anak laki-laki/perempuan tanpa saudara (semata wayang). 2. Uger-uger lawang: dua bersaudara anak laki-laki. 3. Kembang sepasang: dua bersaudara anak perempuan. 4. Kendhana-kendhini: dua anak bersaudara, laki-laki yang tua, perempuan yang muda. 5. Kendhini-kandana: dua anak bersaudara, perempuan yang tua, laki-laki yang muda. 6. Pandhawa: Kelima anak berjenis kelamin laki-laki semua. 7. Ngayoni: Kelima anak berjenis kelamin perempuan semua. 8. Madangka: Lima anak bersaudara, empat orang lelaki dan satu perempuan. 9. Apil-apil: lima bersaudara, empat orang lelaki dan satu perempuan. Sumber Serat Centhini II - UGM Press.  

Menegang dan Mengeras Oleh Nyai Gowok

Ah...sialan! Padahal aku sudah kenal buku ini sejak Jakarta Islamic Book Fair tahun 2014 lalu! Menyesal-menyesal gak beli saat itu, kupikir buku itu akan sehambar novel-novel dijual murah. Ternyata aku salah, kenapa mesti sekarang untuk meneggang dan mengeras bersama Nyai Gowok . Dari cover buku saya sedikit kenal dengan buku tersebut, bang terpampang di Gramedia , Gunung Agung , lapak buku di Blok M dan masih banyak tempat lainnya termasuk di Jakarta Islamic Book Fair. Kala itu aku lebih memilih Juragan Teh milik Hella S Hasse dan beberapa buku agama, yah begitulah segala sesuatu memerlukan waktu yang tepat agar maknyus dengan enak. Judul Nyai Gowok dan segala isinya saya peroleh dari podcast favorit ( Kepo Buku ) dengan pembawa acara Bang Rame , Steven dan Mas Toto . Dari podcast mereka saya menjadi tahu Nyai Gowok dan isi alur cerita yang membuat beberapa organ aktif menjadi keras dan tegang, ah begitulah Nyi Gowok. Jujur saja ini novel kamasutra pertama yang saya baca, sebelumn...