Pagi di hari Ahad, rintik hujan dan kabut putih menyelimuti segenap sisi perkampungan. Di ujung sawah masih saja burung derkuku berbunyi layaknya sambutan meriah pada panen raya akan datang. Waktu romansa yang sungguh membawa kesan mendalam. Dua hari lalu saya menerima paket buku yang dibeli melalui toko buku online, kali ini saya membeli buku Mas Mantri Menjenguk Tuhan. Sebuah karya dari maestro sastra Indonesia, Ahmad Tohari. Kumpulan cerita ini dihimpun dalam beberapa judul dan tema mengangkat isu spiritual, sosial, kebudayaan dan keagamaan. Setiap judul membawa permasalahannya sendiri dan saat itu juga muncul jawaban dari permasalahan tersebut, sungguh cerita yang membawa renungan.
Terbentuk dari beberapa kolom surat kabar Harian Merdeka, terkumpul menjadi satu hingga berbentuk pada sebuah buku berjumlah 208 halaman. Kolom ini berisikan sebuah cerita dengan berbagai topik kasus mulai dari kasus spiritual agama hingga pada budaya pada masyarakat. Kolom berbentuk sebuah cerita dengan tokoh utama Mas Mantri, Martopacul, Den Besus,dan Saya.
Banyak cerita yang disajikan yang merupakan kasus sehari hari masyarakat kalangan bawah yang berdialektika dengan agama, budaya, sosial dan yang lainnya. Petikan himah selalu ada di setiap episode ataupun bab yang tersaji. Saya sendiri sangat tersentuh saat den Mantri lebih mengutamakan menolong tetangganya yang sakit daripada salat idul fitri. Ada hikmah besar saat kejadian tersebut dimana ada ibadah yang tak kalah wajib dan tak kalah berpahala daripada solat sunnah yakni menolong tetangga yang sakit. Manusia beragama hari ini kadang banyak yang lupa perkara ibadah maknawi, dan lebih mengutamakan ibadah ritual. Cerita pembuka inilah yang menjadi dasar judul buku Mas Mantri Menjenguk Tuhan, dimana ibadah maknawi dari mengunjungi, menolong dan mengurus orang sakit berarti sebuah pendekatan pada Tuhan.
"Barangsiapa yang menjenguk yang sakit, si haus, di lapar, maka berarti dia telah menjenguk Tuhan."
Ada dua hal yang membuat saya terpana pada kasus-kasus cerita yang ditulis oleh Ahmad Tohari: pertama pada halaman 32-33 yang menjelaskan perihal puasa Jawa dan puasa Agama, apa perbedaannya?
"Persamaan antara keduanya banyak. Pertama keduanya mengupayakan pengekangan nafsu dan keinginan untuk memperoleh kemampuan pengendalian diri. Juga dalam hal membersihkan jiwa dari kelalaian-kelalaian yang biasa terjadi akibat orang terlalu asyik mengejar nafsu serta keinginan yang biasanya terus meningkat. Kedua, baik puasa Jawa maupun puasa sarengat sama-sama merupakan aksentuasi atau penekanan agar doa kita dapat terkabul."
"Bedanya, selain terletak pada tata cara adalah pada muaranya. Puasa Jawa agaknya bermuara di bumi, jelasnya pada terkabulnya cita-cita si pelaku. Sedangkan puasa sarengat, karena memang merupakan milik Gusti Allah sendiri, maka muaranya berada di langit, pada pangayunaning Pangeran. Jelas?"
Kedua perkara hak atas penghormatan pada halaman 79, di mana terdapat kasus pembunuhan disebabkan atas kelakuan buruk dari ibunya. Kelakuan buruk tersebut menjadi beban moral, sosial dan spiritual bagi anaknya sehingga sang anak nekat untuk 'menyudahi' prilaku buruk ibunya. Hak atas penghormatan memang belum nyata betul, seperti semu. Tapi hak itu memanglah nyata dan manusia membutuhkannya.
Judul: Mas Mantri Menjenguk Tuhan
Penulis: Ahmad Tohari
Cetakan: Pertama, Maret 1997
Dimensi: xi + 208 hlm.: ilus.; 20 cm
Penerbit: Risalah Gusti - Surabaya
ISBN: 979-556-112-X
Komentar