Langsung ke konten utama

Hutan Lindung Gunung Gegerbentang Pamarican dan Refleksi Diri

Hutan Lindung Gunung Gegerbentang Pamarican dan Refleksi Diri

Awal tahun adalah hal yang baik untuk menjadi lebih baik dari segala aspek, baik aspek yang akan dibangun dalam diri sendiri atau di luar diri sendiri. Aspek di luar diri ini sering teracuhkan, bahkan terlupa, sebenarnya apa saja sih yang termasuk aspek luar ini? Ekologi, rumah terbesar umat manusia. Dalam ranah Jawa rumah besar kita sebagai umat manusia adalah jagad gedhé atau jagat besar yakni bumi dan seisinya, dalam arti sempit lingkungan. Lupa, terlupa dan dilupakan rumah sendiri yang mestinya dijaga, dirawat dan dipercantik (memayu hayuning bÃ¥wÃ¥nÃ¥), malah dirusak dan dieksploitasi layaknya seorang pelacur. Akhir tahun 2025 gambaran nyata hasil 'pelacuran' ekologi, di mana bumi kita sendiri sudah muak dengan segala perusakan. 

Bencana ekologi tahun 2025 lalu hampir rata di wilayah républik ini, mulai dari wilayah barat sampai pada ujung timur di mana Mentari menyinari kasihnya. Hutan terbabat habis, hewan yang dilindungi undang-undang tercampakan, menangis pilu di sisi buldoser. Begitu pun pertiwi merana 'kulitnya' bopeng ditambang terlalu dalam. Sungguh kerusakan itu nyata. 

Beratus kasus ekologi yang ada di Indonesia membawa saya meneroka kembali apa yang ada, baik lingkungan sendiri yang tak jauh dan juga pada perinsip-perinsip leluhur untuk melestarikan bumi pertiwi ini. Jalan kecil ini tidaklah cukup untuk memulihkan kembali luka dari ibu pertiwi yang sakit oleh penambangan, setidaknya bisa membawa perspektif yang bisa menggugah kecintaan dan aksi kecil nyata.

Hutan lindung Gegerbentang - Pamarican


Pamarican merupakan sebuah kecamatan di kabupaten Ciamis dengan luas 124,48 KM² menjadikanya terluas nomor wahid di kabupaten Ciamis, sebelumnya gelar tersebut tersemat pada kecamatan Banjarsari sebelum pemekaran Banjaranyar. Dengan luas wilayah tersebut Pamarican memiliki banyak rona geografis, mulai dari perbukitan, pegunungan, dan dataran rendah

Sisi barat dan selatan kecamatan Pamarican pada umumnya termasuk pegunungan (perbukitan), sisi utara dan timur sebagian besar masuk katagori dataran rendah. Pamarican juga mempunyai 'gunung' yang membentang dari barat hingga timur, gunung tersebut dinamai Geger Bentang atau Gegerbentang, masyarakat modern kadang menyebutnya Gerben untuk lebih catchy. Gegerbentang tergolong dalam katagori bukit karena ketinggiannya hanya 457 Mdpl, sementara katagori gunung harus di atas 600 Mdpl, namun kategori tersebut tidak jadi ukuran pasti dalam ranah kebudayaan dan masyarakat lokal.

Gegerbentang terbaring dari barat ke timur, pada umumnya dikuasai oleh Perhutani kemungkinan 70-80%. Gunung ini bukan saja milik Pamarican, melainkan berbagi wilayah dengan kecamatan Banjaranyar. Jika dilihat di peta digital maka akan muncul batas wilayah kecamatan Pamarican dan Banjaranyar berada kurang lebih di puncak gunung Gegerbentang. Sebelah utara masuk ke wilayah Pamarican, sebaliknya sebelah selatan menjadi milik Banjaranyar. Sumber daya alam dari gunung Gegerbentang sangatlah banyak, mulai dari mata air yang jernih, jenis flora fauna dan juga hutan jati yang ditanam oleh Perhutani.

Gegerbentang sebagian besar masuk dalam wilayah Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Ciamis, Bagian Hutan (BH) Banjar dan Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Banjar Selatan yang terdiri dari Resort Pemangkuan Hutan (RPH): Banjar, Pamarican, Cicapar, dan Banjarsari. Luas wilayah hutan RPH Pamarican sekitar 1.523,06 Ha menjadi terluas ke-2 setelah RPH Cicapar 2.001,21 Ha. Perhutani Ciamis menjadikan RPH Pamarican sebagai hutan jati produktif. Beruntung Gegerbentang tidak 100% hutan jati produktif, Perhutani menyisakan wilayah hutan alami (hutan lindung) sebagai patok kelestarian. Jika dilihat dari utara (Bangunsari dan Neglasari) tampak kontras perbedaan antara hutan jati dan hutan lindung, baik dari segi warna daun juga pada tajuk pohon. Hutan lindung berada di tengah-tengah Gunung Gegerbentang seakan-akan menjadi titik jantung yang utama dari kelestarian. 

Papan Informasi Kawasan Hutan Konservasi

Sekitar 13,85 Ha hutan lindung yang berada di sekitar Golempang - Pamarican, selebihnya berada di wilayah Sukahurip, Kertahayu, Sukajadi dan wilayah Kecamatan Banjaranyar. Pada papan informasi disebutkan dilarang membalaki hutan, berburu hewan liar, menggembala dan membakar hutan karena kawasan tersebut masuk dalam katagori Kawasan Bernilai Konservasi Tinggi (HCFV). Di hutan lindung Gegerbentang terdapat amarani untuk tidak memburu hewan yang dilindungi seperti: ayam hutan, elang jawa, monyet ekor panjang, trenggiling, macan dahan, surili dan yang lainnya. Saya teringat saat kecil hendak ke rumah paman di Panenjoan - Mekarmulya di mana mobil selalu berhenti dekat hutan lindung Golempang di mana saat itu masih banyak monyet ekor panjang dan juga lutung yang sedang asyik bertengger di dahan pohon. Dan teringat juga saat hendak berangkat kerja, beberapa orang menenteng monyet ekor panjang dengan tetesan darah merah sebagian membeli mengalir dari lubang peluru. Mengerikan.

Gegerbentang selalu mempunyai dinamika alam baik secara alami atau oleh ulah manusia biadab. Beberapa kali hutan jati di Gegerbentang terbakar hebat, pernah juga terjadi longsor dan tentunya pernah terjadi kekeringan karena banyaknya pohon ditebang. Belum perburuan massive pada hewan hewan yang tak berdosa seperti monyet ekor panjang, lutung, burung-burung dan hewan lainnya. 

Saking banyaknya manfaat hutan lindung dan keanekaragaman hayati di Gegerbentang pemerintah kabupaten Ciamis pernah mengusulkan gunung tersebut menjadi wilayah konservasi. Beberapa gunung yang diusulkan menjadi wilayah konservasi diantaranya Gegerbentang, Sawal, dan Madati.

Apa sih yang ada di hutan lindung Gegerbentang? Beberapa keistimewaan yang muncul dan cukup terkenal dari gunung Gegerbentang diantaranya Pemandian Air Panas di Cipanas, Cikupa, Banjaranyar. Ada juga curug Angin dan Curug Tujuh di wilayah Sukahurip, tepat berada di tengah-tengah hutan lindung. Satwa liar pun kadang masih dijumpai berupa unggas liar (ayam hutan), babi hutan, burung elang jawa, monyet ekor panjang, lutung dan beberapa masyarakat lokal pernah melihat kijang. 

Ekologi dalam Perspektif Islam 
Agama adalah tonggak terakhir, agama seperti oxygen yang bisa masuk ke dalam sel-sel tubuh bukan hanya pada organ penting saja melainkan pada hal yang paling kecil sekali. Agama memberikan pengertian yang sangat baik dan tegas perkara ekologi dari mulai penciptaan manusia hingga pada akhirnya mencapai hari akhir.

Pada awal penciptaan manusia, Tuhan meyakinkan makhluk lainnya untuk percaya. Manusia diberikan amanah (kepercayaan) penuh oleh Tuhan untuk pengelola bumi dan semesta, namun beberapa makhluk menyangkalnya. Malaikat pun cemburu dan menyangkalnya akan kemampuan manusia mengelola bumi,  hal tersebut diceritakan dalam surat Al Baqarah:30

" Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, 'Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.' Mereka berkata, 'Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?' Tuhan berfirman, 'Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.'

Satwa langka yang dilindungi di wilayah KPH Ciamis

Kita sebagai manusia yang telah mengemban amanah ini, jelas wajib menyadari peran sebagai penjaga dan pelestari. Walaupun ada beberapa manusia yang telah terbukti nyata membuat kerusakan dan menumpahkan darah baik sesama manusia ataupun kepada hewan dan tumbuhan. Sebagai insan penuh amanah, alangkah baiknya manusia sadar akan akal yang diberikan di mana manusia wajib mencari ilmu tentang ekologi dan ilmu-ilmu penunjang untuk memahami bumi. Tuhan pun menyuruh manusia untuk memahami bumi yang tercantum pada Ali Imran: 190 dan Al-Ghasiah 17-20.

"Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang berakal." 

Ayat di atas menuntut manusia untuk memperhatikan alam yang ritmik dan memahami tanda-tanda apa yang terjadi di bumi. Untuk memahami apa yang ada dibumi tentu saja manusia diwajibkan untuk mencari ilmunya, karena setiap segala hal mempunyai ilmunya masing-masing dan tidak bisa disamaratakan. Pada ayat Al-Ghasiah 17-20 lagi-lagi Allah memberitahu manusia untuk memperhatikan alam, merenungkan kebesaran-Nya yang ada di alam dunia ini. Apabila manusia luput dari ayat tersebut, maka manusia buta akan ilmu sehingga terjadilah kerusakan bumi yang menyengsarakan. 

Memperlakukan alam sebagai ibunda kita dan tidak melacurkannya merupakan jalan yang mulia untuk kelestarian. Apabila bumi pertiwi 'dilacurkan' kerusakan akibat kerakusan yang terjadi adalah kesengsaraan bagi manusia, bencana bermunculan. Dan bencana tersebut masuk katagori bencana yang dibuat, bukan bencana alam murni yang datang dari perut bumi. Lihatlah tambang yang dikeruk sampai berapa belas kilo sampai dalam, hutan sejuk menjadi kering papa, orang utan mengis di antara mesin besar. Emas perak diambil tanpa aturan, semua diperas hingga kering. Dan Tuhan pun mengecam manusia melalui Al-Araf:30.

"Wahai anak cucu Adam! Pakailah pakaianmu yang bagus pada setiap (memasuki) masjid, makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan".

Ayat di atas mengajarkan manusia untuk mengambil seperlunya dari alam, Allah tidak menyukai hal-hal yang berlebihan. Kapal tongkang hilir mudik membawa harta alam tanpa henti, terkoyak dalam oleh kerakusan manusia. Sungguh tamak. Watak manusia memang terdiri dari berbagai sifat baik dan buruk salah satunya rakus dan tamak. Ambillah sedikit dari alam apabila kami perlu, ambillah sesuai keperluan. 

Apabila sudah terjadi kerusakan, maka bertaubatlah dan sadar diri untuk membangun kembali ekologi yang sehat dan mensejahterakan. Ada pun Allah memberikan kesempatan untuk memperbaiki diri, Al baqarah 10-11.

"Dalam hati mereka ada penyakit, lalu Allah menambah penyakitnya itu; dan mereka mendapat azab yang pedih, karena mereka berdusta".

"Dan apabila dikatakan kepada mereka: 'Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi'. Mereka menjawab: 'Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan".

Firman suci sebagai pengingat dan pengancam manusia, hendaknya direnungkan dan dijalankan untuk manfaat terbaik bagi manusia. Melalui kepercayaan agama diharapkan manusia lebih menghargai, mencintai dan merawat bumi yang mereka tinggali. Sangat aneh sekali jika seseorang merusak rumahnya sendiri, mengotori rumah sendiri dan membuat kekacauan di rumah sendiri. 
Ujung Timur Gunung Gegerbentang, tampak dari Desa Sukamukti


Falsafah Jawa yang Merawat 

Madya Jawa percaya bahwa setiap benda mempunyai jiwa (arwah) yang harus dihormati, dijaga dan dicintai. Manusia Jawa sejak dulu meng-ibukan bumi yang dihuninya. Banyak simbol-simbol kecintaan masyarakat Jawa pada ibu bumi, seperti sedekah bumi, ruwatan, penyakralan pohon, penyakralan hutan, penyakralan laut, dan lain sebagainya.

Pepatah dan falsafah Jawa mengatakan Memayu Hayuning Båwånå adalah bentuk penghormatan pada ibunda bumi juga pada bapak angkasa (semesta alam), bentuk rasa bersyukur dan aksi nyata manusia sebagai khalifah di bumi. Memayu hayuning båwånå membawa arti Mempercantik apa yang sudah cantik, dalam hal ini manusia bertugas melindungi, melestarikan dan menjaga alam yang sebenarnya sudah bagus. Hutan yang sudah ada dilestarikan kembali, sungai yang jernih dijaga dan dijernihkan kembali dengan penanaman pohon yang menyaring air lebih banyak seperti pohon beringin, kiara dan lainnya.

Perinsip Jawa yang diterapkan baik pada lingkungan juga berdampak besar bagi semuanya, dengan pepatah Jawa Kuno menyebutkan 6S, dengan pedoman 6S tersebut akan tercapai pada level ekologi yang seimbang nan mensejahterakan. Perinsip 6S tersebut adalah sakbutuhe (sekebutuhannya), sakperlune (seperlunya), secukupe (secukupnya), sakbeneré (sebenarnya), samesthine (semestinya), dan sapenake (seenaknya/senyamannya). Contoh kasus ekologi yang menggunakan perinsip 6S:

Saya hanya membutuhkan 2 ikat kayu bakar, maka carilah kayu bakar seperlunya yakni 2 ikat saja jangan melebihi 2 ikat. Bila mengambil lebih dari 2 ikat maka berapa banyak pohon yang ditebang atau dipangkas untuk dijadikan kayu bakaar. Dengan mengambil cukup akan memberikan rasa nyaman dan tentram, baik bagi manusia itu sendiri dan juga pada alam (hewan dan tumbuhan). 2 ikat tersebut sebenarnya untuk apa, sebenarnya tidak merusak lingkungan dan semestinya memberikan manfaat terbaik dan senyamannya memang mengambil 2 ikat karena kekuatan, dan faktor lainnya. 

Banyak sekali falsafah Jawa yang muncul untuk ekologi seperti Ngehuh Ulu Mandian (Jangan memeprkeruh air di hulu) yang berarti jangan merusak mata air di hulu (hutan, gunung) jangan merusak pepohonan yang menjaga dan menyaring air. Mudah mudahan dengan dua elemen spiritual baik dari agama dan kebudayaan membuat kita sebagai manusia menjaga kelestarian ekologi di rumah kita sendiri. Manusia sebagai satu kesatuan bumi, jelas akan menerima dampak langsung dan tidak langsung atas perbuatannya sendiri. 




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Nama-nama Tai

Sega, beras yang ditanak Apa benar bahasa Jawa itu terlalu 'manut' ke bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris? Tampaknya ada benarnya juga, bahasa Jawa terpengaruh/meminjam banyak kosa kata dari bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris. Kekurangan kosakata dalam bahasa Jawa memang kebanyakan untuk hal-hal seperti teknologi ataupun hal lainnya. Jangan berkecil hati untuk penutur bahasa Jawa di seluruh dunia! Perlu diingatkan bahasa Jawa mempunyai keunikan tersendiri, misalnya saja untuk belajar bahasa Jawa 'satu paket' atau juga keseluruhan dari bahasa kasar/ngoko, bahasa sedang/madya hingga bahasa halus/kromo, sama saja belajar tiga bahasa!! Bayangkan belajar tiga bahasa, apa gak repot ya?! Itulah keistimewaan bahasa Jawa. Bersyukur! Berbagai keistimewaan bahasa Jawa juga terdapat di istilah-istilah yang sangat detail/spesifik pada suatu beda yang mengalami sebuah perubahan sedikit maupun perubahan besar. Misalnya saja untuk rangkaian nama dari sebuah padi/po...

Istilah-istilah Anak dalam Keluarga Jawa

1. Ontang-anting: anak laki-laki/perempuan tanpa saudara (semata wayang). 2. Uger-uger lawang: dua bersaudara anak laki-laki. 3. Kembang sepasang: dua bersaudara anak perempuan. 4. Kendhana-kendhini: dua anak bersaudara, laki-laki yang tua, perempuan yang muda. 5. Kendhini-kandana: dua anak bersaudara, perempuan yang tua, laki-laki yang muda. 6. Pandhawa: Kelima anak berjenis kelamin laki-laki semua. 7. Ngayoni: Kelima anak berjenis kelamin perempuan semua. 8. Madangka: Lima anak bersaudara, empat orang lelaki dan satu perempuan. 9. Apil-apil: lima bersaudara, empat orang lelaki dan satu perempuan. Sumber Serat Centhini II - UGM Press.  

Menegang dan Mengeras Oleh Nyai Gowok

Ah...sialan! Padahal aku sudah kenal buku ini sejak Jakarta Islamic Book Fair tahun 2014 lalu! Menyesal-menyesal gak beli saat itu, kupikir buku itu akan sehambar novel-novel dijual murah. Ternyata aku salah, kenapa mesti sekarang untuk meneggang dan mengeras bersama Nyai Gowok . Dari cover buku saya sedikit kenal dengan buku tersebut, bang terpampang di Gramedia , Gunung Agung , lapak buku di Blok M dan masih banyak tempat lainnya termasuk di Jakarta Islamic Book Fair. Kala itu aku lebih memilih Juragan Teh milik Hella S Hasse dan beberapa buku agama, yah begitulah segala sesuatu memerlukan waktu yang tepat agar maknyus dengan enak. Judul Nyai Gowok dan segala isinya saya peroleh dari podcast favorit ( Kepo Buku ) dengan pembawa acara Bang Rame , Steven dan Mas Toto . Dari podcast mereka saya menjadi tahu Nyai Gowok dan isi alur cerita yang membuat beberapa organ aktif menjadi keras dan tegang, ah begitulah Nyi Gowok. Jujur saja ini novel kamasutra pertama yang saya baca, sebelumn...