Langsung ke konten utama

Kisah 1001 Malam Jilid I

Kisah 1001 Malam Jilid I

Enam bulan sudah delapan buku teronggok di pojokan meja belajar, dua kali mondar-mandir dus dan ditutup kresek sampah demi kertas tak rusak karena renovasi rumah. Sungguh hal yang membuat greget bagi para pecinta buku, buku yang disebut daging teronggok seperti membusuk terbawa derasnya detik menghujam usia. 

Kisah 1001 Malam adalah warisan sastra dunia, hampir setiap sastrawan paham apa itu 1001 Malam. Berbagai kisah dari seluruh sastrawan dunia pun kadang terinspirasi dari 1001 Malam yang sangat menakjubkan. Sungguh. Terlahir pada zaman kejayaan Islam tepatnya pada abad pertengahan, zaman kekhalifahan Abbasiyah.


Jilid I berisikan banyak cerita yang dibagi dalam beberapa babak (malam), Syahrazad sebagai pencerita kepada raja (suaminya) Syahrayar. Cerita 1001 Malam adalah upaya cerdik dari Syahrazad dan Dunrazad (adiknya) untuk menghentikan penjagalan pada setiap istri dari raja Syahrayar. Awal cerita Syahrayar dikhianati cintanya oleh permaisuri yang berzinah degan budak hitam di tamansari, tanpa sebenang pun pakaian mereka melakukannya. Namun kejadian bejat itu diketahui oleh adiknya raja, hingga akhirnya dilaporkan ke raja. Tidak serta-merta raja mempercayai adiknya, hingga akhirnya raja mempunyai rencana untuk mengetahui perbuatan bejat permaisuri dan para budak. 

Kekecewaan yang sangat dalam hingga raja bersumpah akan membunuh setiap permaisuri yang dinikahinya, hingga akhirnya para gadis di negara itu hampir habis. Sementara anak wazir (Syahrazad) memberanikan diri untuk dinikahkan dengan raja. Sang wazir cemas minta ampun, tapi tidak untuk Syahrazad. Dunrazad sebagai adik berkerjasama dengan siasat bercerita tiap malam hingga 1001 Malam terlewati dan akhirnya Syahrazad tidak dibunuh oleh raja. 

Tiap Malam selalu ada cerita yang menakjubkan, bukan saja perkara percintaan, seks, tipu daya, keajaiban, hingga pada hal tidak masuk akal yang terjadi pada manusia biasa, ifrit, iblis dan hewan. Semua termaktub dalam 1001 Malam, sungguh keajaiban nyata. Epos ini juga memberikan inspirasi kepada siapapun dalam berdongeng baik gaya bahasa, alur dan peristiwa. 

Para pembaca mungkin akan bingung saat awal membaca karena lini waktu atau alur cerita acak, cerita dalam cerita dan cerita lagi. Cerita berlapis cerita hingga 4-5 cerita dalam satu rangkaian, namun semuanya menyambung seperti anyaman atau menyulam karpet besar sambung menyambung menjadi hal yang sungguh indah dan menakjubkan. Sederet puisi atau syair selalu ada pada setiap cerita, nampak indah. 

Beberapa cerita yang menarik di jilid pertama ini yakni cerita tentang perjodohan anak dari adik kakak, namun sang kakak tidak setuju karena mahar yang terlalu besar. Perjodohan itu batal, singkat cerita jin perempuan Islam menemukan pemuda ganteng (pemuda yang akan dijodohkan) dan begitu pula jin ifrit kafir menemukan perempuan yang cantik tiada tara di Mesir. Kedua jin tersebut beradu argumen sehingga keduanya perlu membuktikan bahwa ada perempuan yang sangat cantik dan anak muda yang sangat gagah. Terjadilah perjodohan yang tidak sengaja oleh kedua jin. 

Ada juga cerita hal yang menyebalkan dimana seorang pemuda yang dimabuk cinta oleh seorang perempuan cantik, dia terkagum oleh keindahan tubuhnya yang menggoda syahwat sang jantan. Persyaratan dan waktu sudah diberitahu dari nenek sang comblang, namun pertemuan itu rusak oleh ulah tukang cukur yang sangat menyebalkan. 

Judul asli: Alfu Lailah wa Lailah 
Terbitan: Beirut: Maktabah asy-Syabiah
Penyusun: Abu Abdullah Muhammad al-Jihsiyari 
Penerjemah: Muhammad Halabi 
Penyunting: Muhammad Ali Fakih 
Cetakan: Pertama, Agustus 2018
Dimensi: 432 hlmn; 15.5x24 cm 
ISBN Jilid lengkap: 978-602-391-575-0
ISBN: 978-602-391-576-7
Penerbit: Diva Press Yogyakarta 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Nama-nama Tai

Sega, beras yang ditanak Apa benar bahasa Jawa itu terlalu 'manut' ke bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris? Tampaknya ada benarnya juga, bahasa Jawa terpengaruh/meminjam banyak kosa kata dari bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris. Kekurangan kosakata dalam bahasa Jawa memang kebanyakan untuk hal-hal seperti teknologi ataupun hal lainnya. Jangan berkecil hati untuk penutur bahasa Jawa di seluruh dunia! Perlu diingatkan bahasa Jawa mempunyai keunikan tersendiri, misalnya saja untuk belajar bahasa Jawa 'satu paket' atau juga keseluruhan dari bahasa kasar/ngoko, bahasa sedang/madya hingga bahasa halus/kromo, sama saja belajar tiga bahasa!! Bayangkan belajar tiga bahasa, apa gak repot ya?! Itulah keistimewaan bahasa Jawa. Bersyukur! Berbagai keistimewaan bahasa Jawa juga terdapat di istilah-istilah yang sangat detail/spesifik pada suatu beda yang mengalami sebuah perubahan sedikit maupun perubahan besar. Misalnya saja untuk rangkaian nama dari sebuah padi/po...

Istilah-istilah Anak dalam Keluarga Jawa

1. Ontang-anting: anak laki-laki/perempuan tanpa saudara (semata wayang). 2. Uger-uger lawang: dua bersaudara anak laki-laki. 3. Kembang sepasang: dua bersaudara anak perempuan. 4. Kendhana-kendhini: dua anak bersaudara, laki-laki yang tua, perempuan yang muda. 5. Kendhini-kandana: dua anak bersaudara, perempuan yang tua, laki-laki yang muda. 6. Pandhawa: Kelima anak berjenis kelamin laki-laki semua. 7. Ngayoni: Kelima anak berjenis kelamin perempuan semua. 8. Madangka: Lima anak bersaudara, empat orang lelaki dan satu perempuan. 9. Apil-apil: lima bersaudara, empat orang lelaki dan satu perempuan. Sumber Serat Centhini II - UGM Press.  

Toponimi - Asal Usul Nama Tempat di Jawa Barat oleh T Bachtiar

Setiap hal mempunyai jalur ilmunya tersendiri termasuk nama tempat. Ilmu mengenai nama tempat disebut juga Toponimi, suatu hal yang baru bagi saya dewasa ini. T Bachtiar membawa saya untuk mengenal lebih lanjut apa itu Toponimi baik dari segi ilmuan, pengetahuan tentang nama-nama tempat di Jawa Barat juga pada hal hal yang sebelumnya ‘gelap’. Mendapatkan buku Toponimi adalah kecelakaan keuangan terindah tahun ini, di mana saya sudah memutuskan ‘sumpah palapa’  untuk tidak membelanjakan uang pada buku-buku baru. Lewat enam bulan tahun 2025 berjalan, buku-buku bertumpuk dalam belasan jilid dengan nilai melebihi 3.000.000 Rupiah Indonesia. Orang bilang kalap, parahnya setelah ‘sumpah palapa’ membeli 3 judul buku lagi diantaranya Toponimi.  Ada keistimewaan tersendiri pada buku yang dibeli kali ini, tanda tangan penulis. Belum pernah saya mendapatkan tanda tangan dari penulisnya langsung. Aaaaaa!!! kegirangan ini meluap melebihi sungai Nil dengan potongan harga sampai Rp 96.500 de...