Langsung ke konten utama

Kisah 1001 Malam Jilid I

Oleh-oleh Khas Kalipucang - Pangandaran

Pergi suatu kota tidak akan lengkap jika tidak memakan makanan khasnya, hal yang bodoh jika seseorang pergi ke satu kota hanya makan mie instan. Dan mie instan tersebut tersebar seantero negeri, hal yang menjemukan. Nah jika anda sekalian pergi ke Pangandaran, boleh cicipi masakan khas Kalipucang yakni sate towe atau sate kijing. 

Kalipucang merupakan salah satu kecamatan yang berada di kabupaten Pangandaran, lokasinya berjiran dengan kecamatan Pangandaran. Jika dilihat dari geografinya kecamatan Kalipucang berbatasan langsung dengan Kabupaten Cilacap - Jawa Tengah, nah batas provinsi ini dibelah oleh sungai Citanduy. Sungai inilah yang membawa keberkahan pada setiap penduduknya baik sebelah barat dan timur bantaran sungai. Khusus di wilayah timur bantaran sungai terdapat rawa-rawa. Rawa inilah yang mengandung banyak ikan dan hewan lainnya yang membawa rezeki seperti towe atau kijing. 

Kalipucang terkenal akan sate kijing, sate ini dijual oleh ibu-ibu yang menjajakan daganganya di sekitar jalan raya. Mereka menawarkan barnag dagangan pada setiap pengendara mobil atau motor yang berhenti ataupun saat kondisi macet di sekita pertigaan Kalipucang. Nah jadi jangan mencari sate kijing ini di warung makan ataupun restoran setempat, tidak bakal ketemu. Mereka berjualan tidak mengenal waktu, dalam arti tidak ada jadwal tetap. Bisa saja tidak berjualan karena bahan baku (tidak musim kijing).

Sate kijing jelas dibuat dari siput kijing atau towe yang tinggal di lumpur baik di irigasi persawahan, solokan besar ataupun sungai. Sate dibumbui dengan bahan bahan seperti kunir, bawang dan yang lainnya. Rasanya gurih, empuk dan nagih. Pada umumnya sate kijing membuat pening atau mual, namun sate kijing Kalipucang ini tidak menimbulkan efek tersebut. Mungkin saja karena setelah diambil dari sawah langsung direndam sampai 3-4 hari agar kotoran dari siput menghilang.

Sate kijing enak dimakan dengan nasi ataupun lepet/arem-arem, dicampur dengan gorengan pun enak. Untuk harganya sangat murah satu sindik seharga 1000 rupiah saja, namun kadang dijual 5 sindik sate dihargai 6000.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Review Sepatu Gunung SNTA

Sepatu SNTA Jika dirunut waktu kira-kira sudah menginjak usia tiga tahun sepatu gunung merek SNTA yang ku beli dari teman satu perusahaan sewaktu masih menjadi kuli di Jakarta Raya. Saya membeli sepatu SNTA bukanlah sebuah pilihan dari hati ataupun penalaran akal, melainkan sebuah pilihan terpaksa dari sebuah ketidaktahuan yang mendalam pada peralatan out door . Bisa dikatakan aku hanya manut saran dari temanku yang sekaligus menjadi penjual dari sepatu yang ku beli.  Berawal dari niat mendaki gunung Semeru pada tahun 2016 lalu, semua tuntutan peralatan out door harus dilunasi oleh sejumlah lembaran merah biru dari dalam dompet. Sepatu gunung, jaket gunung, tongkat, sarung tangan, keril dan sejumlah aksesorir terbayar lunas tanpa berpikir merek, warna, jenis barang. Yang tergambar dalam otakku hanyalah sebuah kepemilikan saja dan berangkat mendaki.  Tidak salah pilihan dari temanku ini membawa manfaat andalan dari merek sepatu SNTA yang saya rasakan dari awal ...

Nama-nama Tai

Sega, beras yang ditanak Apa benar bahasa Jawa itu terlalu 'manut' ke bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris? Tampaknya ada benarnya juga, bahasa Jawa terpengaruh/meminjam banyak kosa kata dari bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris. Kekurangan kosakata dalam bahasa Jawa memang kebanyakan untuk hal-hal seperti teknologi ataupun hal lainnya. Jangan berkecil hati untuk penutur bahasa Jawa di seluruh dunia! Perlu diingatkan bahasa Jawa mempunyai keunikan tersendiri, misalnya saja untuk belajar bahasa Jawa 'satu paket' atau juga keseluruhan dari bahasa kasar/ngoko, bahasa sedang/madya hingga bahasa halus/kromo, sama saja belajar tiga bahasa!! Bayangkan belajar tiga bahasa, apa gak repot ya?! Itulah keistimewaan bahasa Jawa. Bersyukur! Berbagai keistimewaan bahasa Jawa juga terdapat di istilah-istilah yang sangat detail/spesifik pada suatu beda yang mengalami sebuah perubahan sedikit maupun perubahan besar. Misalnya saja untuk rangkaian nama dari sebuah padi/po...

Istilah-istilah Anak dalam Keluarga Jawa

1. Ontang-anting: anak laki-laki/perempuan tanpa saudara (semata wayang). 2. Uger-uger lawang: dua bersaudara anak laki-laki. 3. Kembang sepasang: dua bersaudara anak perempuan. 4. Kendhana-kendhini: dua anak bersaudara, laki-laki yang tua, perempuan yang muda. 5. Kendhini-kandana: dua anak bersaudara, perempuan yang tua, laki-laki yang muda. 6. Pandhawa: Kelima anak berjenis kelamin laki-laki semua. 7. Ngayoni: Kelima anak berjenis kelamin perempuan semua. 8. Madangka: Lima anak bersaudara, empat orang lelaki dan satu perempuan. 9. Apil-apil: lima bersaudara, empat orang lelaki dan satu perempuan. Sumber Serat Centhini II - UGM Press.