Langsung ke konten utama

Hutan Lindung Gunung Gegerbentang Pamarican dan Refleksi Diri

Balada Penyadap Kelapa: Bekisar Merah Oleh Ahmad Tohari


Membaca karya Tohari seperti makan kacang goreng di malam atauoun di siang hari di sela sela waktu antara sedikit kenyang dan sedikit lapar, atau bahkan dalam kondisi lapar. Perlu dilebihkan untuk karya-karya beliau, ciri khas bahasa yang lugas, sederhana dan mudah dimengerti mampu menusuk siapapun yang baca, termasuk wong cilik yang memang menjadi tokoh dari setiap cerpen maupun novel dari Ahmad Tohari.

Ronggeng Dukuh Paruk menjadi salah satu karya yang pertama saya lahap di masa kuliah saat itu, namun Bekisar Merahlah yang memperkenalkan saya pada Ahmad Tohari. Cuplikan-cuplikan dari Bekisar Merah tertuang pada buku pelajaran Bahasa Indonesia kala saya masih SMP. Jika terkenang masa itu, betapa indahnya kumpulan tukilan cerita baik novel, cerpen-cerpen dari sastrawan Indonesia. Yang saya ingat beberapa karya besar ditampilkan dalam pelajaran Bahasa Indonesia bersampul warna telor asin. Harimau! Harimau! dari A.A Navis, Langit Biru Laut Biru dari Ajip Rosidi, Atheist dari Achdiat K Mihardja dan jelas banyak lagi.

Bersyukur beberapa bulan yang lalu saya membeli novel Bekisar Merah cetakan ke-1, buku ini termasuk lawasan. Dengan noda kuning khas buku tua dan apeknya buku bercampur air kencing kutu buku atau pun tai dari kecoa yang numpang tidur di lembar lembaran buku. Dengan harga 58.500 Rupiah Indonesia buku ini digaet sampai rumahku di ujung Jawa Barat. Kondisi buku masih bagus, jilid masih kuat dan tidak ada cacat sedikitpun. Hanya ada bekas kencing kecoa saja. 

Membicarakan buku harusnya ada sinopsis yang menarik pembaca sekalian, dan saya berkewajiban menceritakan sedikit pada pembaca sekalian. Bekisar Merah menceritakan seorang gadis bernama Lasiah, anak dari Wiryaji. Sedari kecil Las, nama pendek dari Lasiah sering dirundung oleh teman sekolahnya karena kulit dan perawakannya yang berbeda dengan teman seumurannya. Las memang turunan Jawa Jepang, Mbok Wiryaji saat itu pernah diperkosa oleh tentara Jepang. Namun saat tentara Jepang kembali ke dukuh Karangsoga akhirnya dinikahkan dengan Mbok Wiryaji, hingga akhirnya beranakan Lasiah. Nasib Lasiah memang seperti tong setan, yang penuh tantaangan di setiap jalannya.

Pernikahan pertama Lasiah menikah dengan Darsa, seorang penderes kelapa. Lasiah hidup dengan kemiskinannya dengan derita tiada tara, hingga suatu masa Darsa dipaksa birahinya dengan Sapon. Kekecewaan Las memuncah hingga memberanikan diri pergi ke Jakarta dengan supir dan kernet bos gula di Karangsoga. Lasiah hidup 'terlunta' hingga akhirnya hidup dengan Bu Koneng, seorang mama germo di suatu warung. Las tidak dijadikannya PSK, pertama-tama Las dipekerjakaan sebagai pembantu warung saja. Tidak ada hal yang gratis, begitu pula Las yang hidup bersama Bu Koneng. Secara kasarnya Lasiah dijual ke penyalur PSK untuk kalangan atas seperti pejabat dan orang terhormatnnya. 

Lasiah menjadi anak gedongan, mempunyai rumah dan kemawahan berkat menikah dengan Pak Han. Seorang purnawirawan yang sedang menjabat direktur perusahaan negara. Namun pernikahan ini ibarat bekisar merah yang jadi hiasan bagi pejabat kaya raya. Bahkan Pak Han menyarankan Las untuk menikah dengan orang lain, walaupun statusnya masih bersuamikan Pak Han.

Novel ini bukan saja soal percintaan, melainkan banyak hal yang disinggung oleh pengarangnya. Semisal kemiskinan struktural di desa yang memang tersetting agar masyarakat tidak sejahtera, pejabat pemerintah yang senang keglamoran, pekerja seks komersial, dan banyak lagi. 

Judul: Bekisar Merah 
Pengarang: Ahmad Tohari 
Dimensi: 312 hlm., 18 cm
Cetakan: Pertama, 1993
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama Jakarta 
ISBN: 979-511-766-1

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Nama-nama Tai

Sega, beras yang ditanak Apa benar bahasa Jawa itu terlalu 'manut' ke bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris? Tampaknya ada benarnya juga, bahasa Jawa terpengaruh/meminjam banyak kosa kata dari bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris. Kekurangan kosakata dalam bahasa Jawa memang kebanyakan untuk hal-hal seperti teknologi ataupun hal lainnya. Jangan berkecil hati untuk penutur bahasa Jawa di seluruh dunia! Perlu diingatkan bahasa Jawa mempunyai keunikan tersendiri, misalnya saja untuk belajar bahasa Jawa 'satu paket' atau juga keseluruhan dari bahasa kasar/ngoko, bahasa sedang/madya hingga bahasa halus/kromo, sama saja belajar tiga bahasa!! Bayangkan belajar tiga bahasa, apa gak repot ya?! Itulah keistimewaan bahasa Jawa. Bersyukur! Berbagai keistimewaan bahasa Jawa juga terdapat di istilah-istilah yang sangat detail/spesifik pada suatu beda yang mengalami sebuah perubahan sedikit maupun perubahan besar. Misalnya saja untuk rangkaian nama dari sebuah padi/po...

Istilah-istilah Anak dalam Keluarga Jawa

1. Ontang-anting: anak laki-laki/perempuan tanpa saudara (semata wayang). 2. Uger-uger lawang: dua bersaudara anak laki-laki. 3. Kembang sepasang: dua bersaudara anak perempuan. 4. Kendhana-kendhini: dua anak bersaudara, laki-laki yang tua, perempuan yang muda. 5. Kendhini-kandana: dua anak bersaudara, perempuan yang tua, laki-laki yang muda. 6. Pandhawa: Kelima anak berjenis kelamin laki-laki semua. 7. Ngayoni: Kelima anak berjenis kelamin perempuan semua. 8. Madangka: Lima anak bersaudara, empat orang lelaki dan satu perempuan. 9. Apil-apil: lima bersaudara, empat orang lelaki dan satu perempuan. Sumber Serat Centhini II - UGM Press.  

Menegang dan Mengeras Oleh Nyai Gowok

Ah...sialan! Padahal aku sudah kenal buku ini sejak Jakarta Islamic Book Fair tahun 2014 lalu! Menyesal-menyesal gak beli saat itu, kupikir buku itu akan sehambar novel-novel dijual murah. Ternyata aku salah, kenapa mesti sekarang untuk meneggang dan mengeras bersama Nyai Gowok . Dari cover buku saya sedikit kenal dengan buku tersebut, bang terpampang di Gramedia , Gunung Agung , lapak buku di Blok M dan masih banyak tempat lainnya termasuk di Jakarta Islamic Book Fair. Kala itu aku lebih memilih Juragan Teh milik Hella S Hasse dan beberapa buku agama, yah begitulah segala sesuatu memerlukan waktu yang tepat agar maknyus dengan enak. Judul Nyai Gowok dan segala isinya saya peroleh dari podcast favorit ( Kepo Buku ) dengan pembawa acara Bang Rame , Steven dan Mas Toto . Dari podcast mereka saya menjadi tahu Nyai Gowok dan isi alur cerita yang membuat beberapa organ aktif menjadi keras dan tegang, ah begitulah Nyi Gowok. Jujur saja ini novel kamasutra pertama yang saya baca, sebelumn...