Selesai sudah dalam sebulan lebih untuk dua buku tentang perjalanan dan laporan dari naturalis Eropa ini. Nama mereka berdua selalu ada dalam pengetahuan anak-anak Indonesia, sedari SD kita diajari iklim gunung Jughun dan garis Wallace. Keduanya membawa konsep garis imajiner, Junghuhn membawa garis imajiner setiap meter ketinggian gunung atau dataran yang ditandai dengan jenis tumbuhan yang berbeda. Sementara Wallace mempunyai garis imajiner tentang sebaran hewan yang berada di kepulauan Nusantara. Kedua naturalis Eropa tersebut hidup dalam zaman yang tidak terpaut jauh, sama sama hidup pada tahun 1800-1900. Junghun sendiri berasal dari Jerman setelah itu merubah kewarganegarannya menjadi Belanda dan meninggal di Lembang, Bandung. Naturalis Wallace lahir dan meninggal di Inggris, juga merupakan warga negara Inggris, bahkan beliau mendapat penghormatan besar dari Kerajaan Inggris.
Kedua buku tersebut merupakan terjemahan pertama dalam Bahasa Indonesia, seperti rumah yang baru dibuka jendelanya. Penulisan buku dari rumah Nusantara, sementara jendela bahasanya belum dibuka dalam bahasa Nusantara lainnya, termasuk bahasa Indonesia. Seratus limapuluh tahun yang lalu sejak diterbitkan kedua buku tersebut, baru ada yang menerjemahkan dalam bahasa Indonesia. Bahasa dari tempat objek yang ditelitinya. Saya sendiri menghabiskan sekitar satu bulan lebih untuk menghabiskan halaman ke halaman, keduanya mempunyai jumlah halaman yang tak kalah banyak, sekitar 500 halaman lebih.
Apasih keseruannya membaca kedua buku ini? Saya sendiri sangat menikmati buku ini, walaupun ukuran huruf yang kecil dan menumpuk seperti kerumunan semut. Dari "kerumunan semut" tersebut saya mendapat berbagai pengetahuan khususnya geologi, fauna, flora, watak, religiusitas, dan banyak lagi. Beberapa lembar dari buku menyajikan gambar yang dilukis oleh penulis dan beberapa gambar yang diambil dari karya orang lain yang sezaman dengan eksplorasi tersebut.
Bagi penyayang binatang ada halaman di karya Wallace sangat menganggu, terlebih saat penembakan atau pengulitan dari orang utan. Membayangkan wajah orang utan yang mirip dengan manusia rasanya tidak tega. Cerita mengenai anak orang utan yang terpisah dari indukan yang tertembak juga sangat mengiris hati, namun itulah dunia. Bila perlakuan Wallace bukan untuk kemajuan ilmu, takkan pernah ku maafkan. Semua setuju bahwa Wallace adalah manusia pada zamannya, yang mungkin dan pasti akan begidik untuk manusia saat ini.
Dari kedua buku tersebut ada satu titik yang membuatku penasaran, kenapa orang pribumi Nusantara selalu diceritakan pemalas. Saya berpikir ulang mungkinkah pribumi saat itu malas karena memang kurang pengetahuan akan apa yang ia kerjakan. Dari pekerjaan yang kurang mengerti atas titah tuan-nya menjadikannnya malas. Bayangkan saja manusia pribumi saat dulu yang jauh dari pengetahuan dan hidup leha leha yang surgawi dari tanah pertiwi, diberikan tugas mencari dan mengumpulkan serangga yang berlimpah ruah. Saya sendiri jika hidup zaman itu mungkin akan terpingkal-pingkal karena keterbatasan pengetahuan dan hidup dengan keberlimpahan alam yang surgawi.
Benar menurut Junghuhn bahwa masyarakat Nusantara hidup melebihi surga, di mana kehidupan santai, dimana mana terdapat anugrah Tuhan yang melimpah. Menurutnya kembali karakter manusia juga terbentuk oleh alam dan lingkungan sekitar. Dari lingkunganlah lahir segala sifat yang tertanam pada suku yang menempati sebuah wilayah. Dari buku Wallace juga saya mendapatkan banyak informasi tentang berbagai jenis cendrawasih, sebelumnya saya hanya tahu burung cendrawasih adalah yang di gambar uang koin Rp 50 dan uang Rp 20.000 zaman buhun. Ternyata cendrawasih memiliki banyak spesies yang tak kalah cantik dan unik.
Juga baru paham ternyata Charles Darwin yang mengungkapkan teori evolusi adalah teman dekat dari Wallace dan Charles adalah orang yang dikagumi Wallace. Sungguh hal sederhana ini membuat kepala mengangguk beberapa kali. Pada hal hal yang menggerikan pun diceritakan bahwa manusia Nusantara di pulau atau wilayah terntu adalah kanibal. Mirip seperti yang diceritakan di 1001 Malam tentang kepulauan Wak-wak yang ciri-cirinya sungguh mendekati keadaan kepulauan Nusantara. Kedamaian Nusantara dengan berbagai ras, budaya dan agama tergambar begitu indah, orang Eropa berbisnis dengan orang Cina, orang suku primitif bersentuhan langsung dengan Eropa. Dengan bahasa nurani dan bahasa kemanusiaan komunikasi begitu halus, walaupun awal saling curiga.
Junghuhn hanya berfokus pada Pulau Jawa di buku yang saya baca kali ini, pada karya lainnya Junghun juga dilaporkan dan menulis buku tentang Sumatra. Sementara Wallace menulis hampir seluruh pulau Nusantara, termasuk Singapura dan Semenanjung Malaysia. Wallace menceritakan dirinya lebih banyak di kepualuan Maluku ketimbang di wilayah Jawa.
Untuk menikmati kedua buku ini diharapkan pembaca selalu ada handphone dengan sambungan internet, dengan adanya mesin pencari sebagai alat tambahan, maka pembaca akan menemukan keindahan-keindahan yang hakiki. Mulai dari keindahan flora yang ditemukan Junghun, keindahan alam dari pulau ke pulau, gunung ke gunung dan juga mengetahui spesies fauna yang ditemukan oleh Wallace. Sungguh mengagumkan. Dari keduanya bahasa yang dipakai pun lugas, sederhana dan nyaman untuk dibaca. Jarang sekali terdapat kesalahan ketik atau penggunaan bahasa yang susah dimengerti.
Berkelana di Pulau Jawa - Franz Junghuhn
Penulis: Franz Wilhem Junghuhn
Penerjemah: Muhammad Malik Ar Rahiem
Dimensi: Cetakan pertama, 2025 (xxvi + 655 hlm, 230 mm x 155 mm)
Penerbit: -
ISBN: 979-8-89686-558-2
Harga: Rp 245.000(Hardcover)
Kepulauan Nusantara - Alfred Russel Wallace
Penulis: Alferd Russell Wallace
Penerjemah: Tim Komunitas Bambu
Pengantar: Sangkot Maezuki dan Tony Witten
Dimensi: xlii + 524 hlm, 15.5 × 24 cm
Penerbit: Komunitas Bambu, Cetakan ke-2.
ISBN: 978-602-9402-99-5
Harga: Rp 145.000
Komentar