Langsung ke konten utama

Trilogi Resital Oleh Ibn Sina

Hitungan Honorer

Satu setengah bulan yang lalu kembali menjadi honorer dengan niatan membantu perekonomian keluarga di tengah pandemi. Berapapun duitnya saya terima untuk meringankan risakan ekonomi akibat pandemi ini.

Menjadi pekerja ada beberapa titik kehidupan, mulai dari titik ngenes, seneng, datar dan bosan. Aku pun begitu, terlebih saat menemukan fakta penghasilan dan juga tuntutan hidup yang selalu melibatkan ekonomi. Hari ini saya menulis untuk diri saya sendiri dan sebagai cerita bagiamana kehidupan pekerjaan seorang honorer. 

Kukus sebagai ahli madya dalam bidang keperawatan dengan segala nominal tercurah dan predikat yang baik, semua itu katanya mempunyai nilai jual yang baik. Saya yakini demikian di suatu sudut lain, namun sayang di sudut ini kami kalah dan menjadi golongan yang nasibnya mengerikan. Biar tidak disangka ngadi-ngadi mari kita hitung seperti apa keringat yang keluar dan uang yang diterima.

Ini adalah hitungan saya yang berdomisili dengan rumah keluarga, tak jauh dari tempat kerja sekitar dua sampai tiga kilometer. Job list saya sebagai honorer di puskesmas dengan tambahan BLUD sebagai berikut: menerima pasien gawat darurat; mempersiapkan tempat tidur, mengerjakan tindakan medis, membersihkan peralatan medis, membuat laporan, membuat kassa dan sejumlah pekerjaan yang tak terlihat. Okeh sekarang masuk ke jam kerja, di sini terdapat tiga sesi kerja (shift): pagi, sore dan malam. Ketiganya jika dijabarkan menjadi pagi dan sore masuk ke dalam delapan jam kerja, sementara shift malam adalah jam paling panjang yakni dua belas jam. 

Kita sekarang masuk ke dalam hitungan uang, setengah bulan yang lalu saya mendapatkan amplop putih sebagai isi gaji dari sebulan yang lalu. Isi dari amplop sejumlah Rp 600.000 tanpa tambahan lainnya. Kita hitung jumlah hari sebulan dan bagikan dengan jumlah uang yang diperoleh: 600.000 : 30 = 20.000. Jadi jika dihitung harian maka gaji honorer seperti saya mendapatkan penghasilan Rp 20.000 perhari. Di puskesmas tidak ada uang transportasi, uang tunjangan hari tua ataupun uang untuk asuransi kesehatan. Jika ingin mendapatkan uang lebih bisa ikut program kesehatan yang lain di luar jadwal kerja seperti menjadi surveilans, merekap data-data pasien dan yang lainnya.

Oooo inilah kehidupan nyata yang mesti dinikmati entah dengan bersyukur, kecewa, atupun dengan hal lainnya yang bisa dicurahkan. Ada keuntungan lain yang sangat terlihat, jika anda menjadi honorer: seragam sebagai sebuah kehormatan, akses kesehatan yang mudah, relasi ke pejabat ataupun tokoh masyarakat, dan kemudahan urusan birokrasi. 

Bagaimana dengan makan? Di puskesmas tidak ada uang makan, tapi ada jatah makan untuk yang masuk sore dan malam berupa mie instan dan kental manis satu sachet. Di sini saya merasa beruntung sekaligus malu karena selalu ditraktir ibu haji, dia selalu mengajak saya makan baik makanan yang dari rumah maupun dia beli sendiri.

Aku sendiri curiga dengan teman honorer lainnya yang tidak punya usaha lainnya, tapi hidup glamor. Padahal jika dilihat penghasilan selama menjadi honorer itu kecil sekali, bahkan untuk membeli bensin juga mikir dua kali. Saya berharap bahwa pekerjaan ini membawa sebuah ketenangan jiwa, semoga. Dan jika suatu hari ada kesempatan untuk keluar kembali dan mendapatkan pekerjaan yang layak secara penghasilan.

Pernah berpikir kembali untuk menjadi pengangguran (petani) saja, kenapa bisa? Dilihat dari penghasilan honorer lebih rendah daripada buruh serabutan yang biasanya mendapatkan Rp 50.000 perhari. Wajar di sini para buruh lebih sejahtera secara ekonomi ataupun kecukupan keuangan daripada honorer yang kadang mencari uang lain baik dengan cara berdagang, korupsi, hutang, atau nyambi usaha lainnya. Boleh dikata honorer sebagai jembatan 'kehormatan' karena seragam yang dipakai.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Nama-nama Tai

Sega, beras yang ditanak Apa benar bahasa Jawa itu terlalu 'manut' ke bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris? Tampaknya ada benarnya juga, bahasa Jawa terpengaruh/meminjam banyak kosa kata dari bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris. Kekurangan kosakata dalam bahasa Jawa memang kebanyakan untuk hal-hal seperti teknologi ataupun hal lainnya. Jangan berkecil hati untuk penutur bahasa Jawa di seluruh dunia! Perlu diingatkan bahasa Jawa mempunyai keunikan tersendiri, misalnya saja untuk belajar bahasa Jawa 'satu paket' atau juga keseluruhan dari bahasa kasar/ngoko, bahasa sedang/madya hingga bahasa halus/kromo, sama saja belajar tiga bahasa!! Bayangkan belajar tiga bahasa, apa gak repot ya?! Itulah keistimewaan bahasa Jawa. Bersyukur! Berbagai keistimewaan bahasa Jawa juga terdapat di istilah-istilah yang sangat detail/spesifik pada suatu beda yang mengalami sebuah perubahan sedikit maupun perubahan besar. Misalnya saja untuk rangkaian nama dari sebuah padi/po...

Istilah-istilah Anak dalam Keluarga Jawa

1. Ontang-anting: anak laki-laki/perempuan tanpa saudara (semata wayang). 2. Uger-uger lawang: dua bersaudara anak laki-laki. 3. Kembang sepasang: dua bersaudara anak perempuan. 4. Kendhana-kendhini: dua anak bersaudara, laki-laki yang tua, perempuan yang muda. 5. Kendhini-kandana: dua anak bersaudara, perempuan yang tua, laki-laki yang muda. 6. Pandhawa: Kelima anak berjenis kelamin laki-laki semua. 7. Ngayoni: Kelima anak berjenis kelamin perempuan semua. 8. Madangka: Lima anak bersaudara, empat orang lelaki dan satu perempuan. 9. Apil-apil: lima bersaudara, empat orang lelaki dan satu perempuan. Sumber Serat Centhini II - UGM Press.  

Toponimi - Asal Usul Nama Tempat di Jawa Barat oleh T Bachtiar

Setiap hal mempunyai jalur ilmunya tersendiri termasuk nama tempat. Ilmu mengenai nama tempat disebut juga Toponimi, suatu hal yang baru bagi saya dewasa ini. T Bachtiar membawa saya untuk mengenal lebih lanjut apa itu Toponimi baik dari segi ilmuan, pengetahuan tentang nama-nama tempat di Jawa Barat juga pada hal hal yang sebelumnya ‘gelap’. Mendapatkan buku Toponimi adalah kecelakaan keuangan terindah tahun ini, di mana saya sudah memutuskan ‘sumpah palapa’  untuk tidak membelanjakan uang pada buku-buku baru. Lewat enam bulan tahun 2025 berjalan, buku-buku bertumpuk dalam belasan jilid dengan nilai melebihi 3.000.000 Rupiah Indonesia. Orang bilang kalap, parahnya setelah ‘sumpah palapa’ membeli 3 judul buku lagi diantaranya Toponimi.  Ada keistimewaan tersendiri pada buku yang dibeli kali ini, tanda tangan penulis. Belum pernah saya mendapatkan tanda tangan dari penulisnya langsung. Aaaaaa!!! kegirangan ini meluap melebihi sungai Nil dengan potongan harga sampai Rp 96.500 de...