Langsung ke konten utama

Trilogi Resital Oleh Ibn Sina

Mabuk Pencarian Cinta

Bukan salahku untuk mencintai, urusan rumit ini bukan saja dari sebuah enzim, hormon, antropologi, sosial bahkan agama. Kompleks sudah. Aku membutuhkan benda atau hal yang tak berupa, hanya sebuah rasa dan emosi yakni cinta. Saat pertemuan di kolom chat, seakan kita menghangat tanpa sebuah tungku api. Tanpa sebuah korek begitupun lilin kecileakan menyaladan mengambar seluruh sudut ruang hati.

Aby. Pernah memberikan cintanya di malam Senin, saat para bintang dan bulan senyum pada bumi yang mulai mengantuk. Percakapan itu dimulai begitu hangat persis seperti paragraf di atas. Dan terbakar ke seluruh neuron baik padaku dan dirinya, tangannya begitu menarik untuk bersentuhan. Rambut lurus nan hitam melambaikan helaian untuk segera dicium dari belakang.

Dan ingat, awalnya hanya dari kehangatan sentuhan. Apalahdaya hormon kita terlalu cepat naik seperti komet yang melintas, aku khawatir. Pada pengabdian cinta yang pernah tertanda oleh kedua bibirku, musnah sudah oleh laku kita malam ini. Aku khianat, melenceng yang bersinonim dengan serong. Terdengar menjijikkan, hanya neuronlah yang menikmati dengan baranya. Bi, kita tenggelam saat itu.

Pada gua garba yang mengasikan aku senang untuk maju mundur, entah kau senang atau tidak. Nyatanya seperti itu. Pada bagian tubuh yang lain kau pun tampak membara seperti bambu runcing yang tegak. Ilmu tantri menjelma menjadi seinggok tai yang hina, inikah aku yang sedang menggila padamu.

Padamu aku gak pernah merasa kecil, walaupun pada akhirnya tertolak hingga aku terdampar pada sebuah kesemuan. Kini riwayat cintaku semakin memuai tak bermakna. 

Banjar, 11 April 2022

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Nama-nama Tai

Sega, beras yang ditanak Apa benar bahasa Jawa itu terlalu 'manut' ke bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris? Tampaknya ada benarnya juga, bahasa Jawa terpengaruh/meminjam banyak kosa kata dari bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris. Kekurangan kosakata dalam bahasa Jawa memang kebanyakan untuk hal-hal seperti teknologi ataupun hal lainnya. Jangan berkecil hati untuk penutur bahasa Jawa di seluruh dunia! Perlu diingatkan bahasa Jawa mempunyai keunikan tersendiri, misalnya saja untuk belajar bahasa Jawa 'satu paket' atau juga keseluruhan dari bahasa kasar/ngoko, bahasa sedang/madya hingga bahasa halus/kromo, sama saja belajar tiga bahasa!! Bayangkan belajar tiga bahasa, apa gak repot ya?! Itulah keistimewaan bahasa Jawa. Bersyukur! Berbagai keistimewaan bahasa Jawa juga terdapat di istilah-istilah yang sangat detail/spesifik pada suatu beda yang mengalami sebuah perubahan sedikit maupun perubahan besar. Misalnya saja untuk rangkaian nama dari sebuah padi/po...

Istilah-istilah Anak dalam Keluarga Jawa

1. Ontang-anting: anak laki-laki/perempuan tanpa saudara (semata wayang). 2. Uger-uger lawang: dua bersaudara anak laki-laki. 3. Kembang sepasang: dua bersaudara anak perempuan. 4. Kendhana-kendhini: dua anak bersaudara, laki-laki yang tua, perempuan yang muda. 5. Kendhini-kandana: dua anak bersaudara, perempuan yang tua, laki-laki yang muda. 6. Pandhawa: Kelima anak berjenis kelamin laki-laki semua. 7. Ngayoni: Kelima anak berjenis kelamin perempuan semua. 8. Madangka: Lima anak bersaudara, empat orang lelaki dan satu perempuan. 9. Apil-apil: lima bersaudara, empat orang lelaki dan satu perempuan. Sumber Serat Centhini II - UGM Press.  

Toponimi - Asal Usul Nama Tempat di Jawa Barat oleh T Bachtiar

Setiap hal mempunyai jalur ilmunya tersendiri termasuk nama tempat. Ilmu mengenai nama tempat disebut juga Toponimi, suatu hal yang baru bagi saya dewasa ini. T Bachtiar membawa saya untuk mengenal lebih lanjut apa itu Toponimi baik dari segi ilmuan, pengetahuan tentang nama-nama tempat di Jawa Barat juga pada hal hal yang sebelumnya ‘gelap’. Mendapatkan buku Toponimi adalah kecelakaan keuangan terindah tahun ini, di mana saya sudah memutuskan ‘sumpah palapa’  untuk tidak membelanjakan uang pada buku-buku baru. Lewat enam bulan tahun 2025 berjalan, buku-buku bertumpuk dalam belasan jilid dengan nilai melebihi 3.000.000 Rupiah Indonesia. Orang bilang kalap, parahnya setelah ‘sumpah palapa’ membeli 3 judul buku lagi diantaranya Toponimi.  Ada keistimewaan tersendiri pada buku yang dibeli kali ini, tanda tangan penulis. Belum pernah saya mendapatkan tanda tangan dari penulisnya langsung. Aaaaaa!!! kegirangan ini meluap melebihi sungai Nil dengan potongan harga sampai Rp 96.500 de...