Langsung ke konten utama

Trilogi Resital Oleh Ibn Sina

Kisah Seribu Satu Siang Dan Malam - Naguib Mahfouz

Dogeng Seribu Satu Malam seperti maha raja dongen di dunia ini, saking terkenalmya dongeng Seribu Satu Malam mempengaruhi banyak dongeng di dunia. Kandungan cerita yang kaya akan makna, hikmah, ilmu agama, budaya, sampai pada hal-hal di atas logika manusia. Kemahsyuran itu tak lekang oleh waktu dan menyebar sampai sela-sela dunia.

Sastrawan Kairo, Naguib Mahfouz penerima hadiah nobel katagori sastra juga membuat novel yang ada keterkaitan dengan dongeng Seribu Satu Malam. Kecerdikan Naguib menjadikan "pengembangan" dongeng Seribu Satu Malam menjadi alat kritik sosial politik pada masyarakat dan pemerintahan Mesir saat itu.

Untuk membaca novel ini butuh sensitifitas pada problem sosial saat itu, saya sendiri mengalami kesulitan dengan apa maksud dari cerita tersebut. Pengembangan cerita Syahrazad, Aladin, dan Sindabad juga tersaji. Keterlibatan dua dimensi kehidupan, antara manusia dan jin terjadi. Keterlibatan ini menjadi masalah besar pada tatanan negara, sosial dan yang lainnya. Pembunuhan demi pembunuhan terjadi penuh misteri.

Bukan sekali duduk untuk membaca novel ini, saya membutuhkan banyak waktu dan mesion otak yang mudah panas untuk mencerna setiap akur cerita dengan lumayan banyak karakter. Nama-nama khas Arab yang ditulis pun membuat saya kesulitan untuk menghafal, sungguh bukan tandingan. Seperti layang-layang tanpa arah, namun pasti terbang; saya menyelesaikan novel ini dalam tempo tujuh hari. Saya sendiri mendapatkan novel ini dari bazar buku murah di basement Gramedia Slamet Riyadi - Surakarta. Dengan harga 60.000 rupiah saja, tak jauh beda dengan harga daring. 

Tidak banyak cerita karena memang saya kesulitan mencerna ceritanya, layaknya seikat kangkung dalam perut. Masih hijau.


Judul: Kisah Seribu Satu Siang Dan Malam 
Pengarang: Naguib Mahfouz 
Penerjemah: Muhammad Marzuq 
Cetakan: Pertama, 2020
Dimensi: 14,5 x 21 cm; iv + 356 hlm
Penerbit: Narasi Yogyakarta 
ISBN: 978-623-7586-02-9

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Nama-nama Tai

Sega, beras yang ditanak Apa benar bahasa Jawa itu terlalu 'manut' ke bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris? Tampaknya ada benarnya juga, bahasa Jawa terpengaruh/meminjam banyak kosa kata dari bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris. Kekurangan kosakata dalam bahasa Jawa memang kebanyakan untuk hal-hal seperti teknologi ataupun hal lainnya. Jangan berkecil hati untuk penutur bahasa Jawa di seluruh dunia! Perlu diingatkan bahasa Jawa mempunyai keunikan tersendiri, misalnya saja untuk belajar bahasa Jawa 'satu paket' atau juga keseluruhan dari bahasa kasar/ngoko, bahasa sedang/madya hingga bahasa halus/kromo, sama saja belajar tiga bahasa!! Bayangkan belajar tiga bahasa, apa gak repot ya?! Itulah keistimewaan bahasa Jawa. Bersyukur! Berbagai keistimewaan bahasa Jawa juga terdapat di istilah-istilah yang sangat detail/spesifik pada suatu beda yang mengalami sebuah perubahan sedikit maupun perubahan besar. Misalnya saja untuk rangkaian nama dari sebuah padi/po...

Istilah-istilah Anak dalam Keluarga Jawa

1. Ontang-anting: anak laki-laki/perempuan tanpa saudara (semata wayang). 2. Uger-uger lawang: dua bersaudara anak laki-laki. 3. Kembang sepasang: dua bersaudara anak perempuan. 4. Kendhana-kendhini: dua anak bersaudara, laki-laki yang tua, perempuan yang muda. 5. Kendhini-kandana: dua anak bersaudara, perempuan yang tua, laki-laki yang muda. 6. Pandhawa: Kelima anak berjenis kelamin laki-laki semua. 7. Ngayoni: Kelima anak berjenis kelamin perempuan semua. 8. Madangka: Lima anak bersaudara, empat orang lelaki dan satu perempuan. 9. Apil-apil: lima bersaudara, empat orang lelaki dan satu perempuan. Sumber Serat Centhini II - UGM Press.  

Toponimi - Asal Usul Nama Tempat di Jawa Barat oleh T Bachtiar

Setiap hal mempunyai jalur ilmunya tersendiri termasuk nama tempat. Ilmu mengenai nama tempat disebut juga Toponimi, suatu hal yang baru bagi saya dewasa ini. T Bachtiar membawa saya untuk mengenal lebih lanjut apa itu Toponimi baik dari segi ilmuan, pengetahuan tentang nama-nama tempat di Jawa Barat juga pada hal hal yang sebelumnya ‘gelap’. Mendapatkan buku Toponimi adalah kecelakaan keuangan terindah tahun ini, di mana saya sudah memutuskan ‘sumpah palapa’  untuk tidak membelanjakan uang pada buku-buku baru. Lewat enam bulan tahun 2025 berjalan, buku-buku bertumpuk dalam belasan jilid dengan nilai melebihi 3.000.000 Rupiah Indonesia. Orang bilang kalap, parahnya setelah ‘sumpah palapa’ membeli 3 judul buku lagi diantaranya Toponimi.  Ada keistimewaan tersendiri pada buku yang dibeli kali ini, tanda tangan penulis. Belum pernah saya mendapatkan tanda tangan dari penulisnya langsung. Aaaaaa!!! kegirangan ini meluap melebihi sungai Nil dengan potongan harga sampai Rp 96.500 de...