Langsung ke konten utama

Hutan Lindung Gunung Gegerbentang Pamarican dan Refleksi Diri

Banjar dan Pamarican dalam Peta Masa Kolonial

Dora sebagai petualang melalui peta seakan asik dalam pengembaraannya. Saban tempat dikunjungi dan dinikmati di setiap sudut. Begitupun kera kecil yang selalu menemani tampak gembira dengan eksplorasi dengan Dora. Begitulah peta, asik saat ditelusuri baik secara langsung ataupun hanya dilihat dari sebuah atlas, lembaran kertas atau digital. Sungguh menjadi sebuah pengembaraan menakjubkan. 

Melalui peta kita bukan saja melihat kondisi geografi, titik koordinat, kewilayahan, topografi ataupun hal lain berhubungan dengan disiplin ilmu lainnya. Peta juga membawa sejarah, baik perubahan geografis, perubahan toponimi, dan lain sebagainya. Banyak bertebaran peta-peta zaman kolonial baik digital maupun yang sudah tercetak di buku-buku sejarah. Kini saya ingin menyusun apa yang ditemukan pada peta terdahulu dan menjalin cerita antara keadaan silam dengan masa kini. Mudah mudahan pembaca dapat meneroka sejarah lokal dan menikmati setiap luv yang didekatkan pada peta. Selamat menikmati!

1. Kewilayahan Pamarican & Banjar

Pada Gambar Tanah Djawa Sebelah Barat Tahun 1875 karya Versteg, W.F. tergambar bahwa wilayah Banjar masuk wilayah Sukapura, Karesidenan Priangan. Sementara wilayah desa Siluman/Siloeman dan Ciamis masuk wilayah Keresidenan Cirebon. Pada peta tersebut tidak terdapat Pamarican hanya tertulis Tjilangkap. Mungkinkah Tjilangkap (Cilangkap) yang dimaksud nama dusun di Pasirnegara atau wilayah lainnya?

Digambarkan batas wilayah kedua Keresidenan Cirebon dan Priangan dibatasi oleh sungai Citanduy yang menjalur dari barat hingga ke timur dan langsung berbatasan dengan Keresidenan Banjoemas. Peta tersebut sungguh sangat ketara guratan tanda lajuran sungai yang mengalir baik di wilayah Banjar dan Pamarican, hingga saat ini aliran sungai yang digambarkan masih sama dengan kondisi sekarang.

Tak luput wilayah Lakbok pun disebut sebagai Rawa Lakbok. Citraan tanah perbukitan nampak dari arah barat ke timur di selatan Banjar yang memungkinkan deretan dari gunung Gegerbentang.

Rona geografi Pamarican dan Banjar tanpa gunung Sangkur dan Gegerbentang

Pada peta Java en Madoera tahun 1895 nama Tjilangkap disebutkan kembali dan lokasinya arah tenggara dari Tjisaar kini Dusun Cidamar Désa Kertahayu dan Tjilangkap berada di utara Toengilis. Dan diyakini bahwa Tjilangkap yang disebutkan berada di kecamatan Padaherang dewasa ini, dan 'tuduhan' bukan Cilangkap yang di Pasirnegara, Pamarican.

Peta terbitan 1895 masih menggambarkan kewilayahan sama seperti peta di atas dengan batas Seloman (Siloeman) masuk ke dalam wilayah Keresidenan Cirebon. Hal yang baru pada peta adalah jalur jalan dari Banjar ke arah selatan hingga Tjijoelang dan ditarik ke utara sampai ibukota Sukapura di Manonjaya. 

Peta jala  raya dari Bandjar ke Tjisaar

Pada tahun 1895 belum ada jalan kereta api yang menghubungkan Banjar hingga Cijulang. Masih guratan garis lurus yang menggambarkan jalan raya. Wilayah perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Barat di dekat Sapoeangin (Sapuangin, Lakbok) tergambar dari utara hingga selatan (Kalipucang) sebagai rawa.

Menjelang kemerdekaan Indonesia pemerintah kolonial menerbitkan peta kembali berjudul West Java/Topografische Dients tahun 1940. Peta tersebut menggambarkan seluruh kabupaten yang ada di Jawa Barat. Saat itu Jawa Barat mempunyai beberapa kabupaten dan wilayah seperti: Serang, Lebak, dan Pandeglang (Banten), wilayah dari Balaradja sampai Tjikarang masuk wilayah Batavia. Buitenzorg, Soekaboemi, Tjiandjur (West Preanger). Krawang, Poerwakarta, Soebang (Krawang). Bandoeng, Tjiamis, Soemedang, Tasikmalaja, Garoet dan Tjiamis (Preanger), dan Madjalengaka, Koeningan, Tjirebon dan Indramajoe (Tjirebon). 

Kabupaten Ciamis sendiri terbagi dalam beberapa kecamatan: Panjdaloe, Kawali, Rantjah, Tjiamis, Bandjar, Pangandaran, dan Tjidjoelang. Wilayah Bandjar nampak paling besar kemungkinan wilayah tersebut meliputi seluruh kota Banjar, Pamarican, Cisaga, Cimaragas, Cidolog, Banjarsari, Lakbok, Purwadadi, Banjaranyar dan Mangunjaya dewasa ini. 

Wilayah Bandjar nampak besar bersama wilayah Pangandaran dan Tjidjoelang

Berbicara kepemilikan wilayah antara Banjar dan Pamarican baik dalam lingkup karesidenan, kabupaten dan kecamatan selalu berubah-ubah saat masa pemerintahan kolonial. Pemerintah kolonial pernah memasukan Banjar & Pamarican hingga wilayah pesisir Pangandaran masuk dalam kabupaten Sukapura. Pamarican dan Banjar pernah menjadi satu wilayah yang mungkin dalam bentuk kecamatan atau dalam bentuk kawadanan. 

Ada anomali di peta cetakan 1896 dimana nama Pamarican dicetak sebagai Panereban (Pamaritjan). Dari kebanyakan peta kolonial Pamarican masih saja ditulis sebagai Pamaritjan, namun pada cetakan 1896 Pamarican dinamai Panereban. Juga pada Tjisaär yang diberikan tulisan (Kertahajoe). Jarang sekali peta menyebutkan Kertahayu, kebanyakan ditulis sebagai Tjisaar, Tjisaär, dan Tjisa'ar. Pada tahun 1885 juga terdapat peta yang dibuat oleh Ministerie Van Koloniën Den Haag menuliskan hal yang sama seperti cetakan 1896 dimana lokasi Pamarican menjadi Panereban, sementara Pamaritjan sendiri berlokasi sekitar Tjibenda (Neglasari) tampak tulisan Pamaritjan berada di pertigaan jalan menuju Tjiparaj. Tjisaär dengan tulisan besar kayaknya Bandjar seperti kota penting. Gunung Gegerbentang ditulis sebagai G Geger Bintang dengan ketinggian 457 Mdpl.

Perubahan kewilayahan pada Pamarican dan Banjar boleh dilihat dan dibandingkan antar peta yang diterbitkan tahun ke tahun. 

Panereban dengan nama lain Pamaritjan


2. Rawa-rawa yang kini menjadi pemukiman 

Wilayah Ciamis Tenggara masuk dalam rangkaian rawa-rawa dimulai dari Lakbok hingga ke Kalipucang dan menjalar ke wilayah Cilacap. Hampir semua tempat dikatagorikan sebagai rawa. 

Dalam beberapa peta digambarkan wilayah Balater, Karangtjengek dan Tjisaar (Kertahayu) masuk dalam kategori wilayah rawa. Rawa tersebut tergambar dari wilayah dusun Cijeruk, Bangunsari (saat ini) menjalar ke selatan dan ke timur hingga Karangcengek, Ciparakan, Bojongnangka, Kertahayu, Bantardawa hingga Ciawatali di kecamatan Purwadadi saat ini. 

Karangcengek masih dalam katagori wilayah rawa

Beberapa rawa masih lestari sebagai mana gambaran dari peta tersebut, sebagai contoh dekat kantor desa Bangunsari masih ada beberapa rawa, dekat Ciparakan pun masih ada rawa, begitu juga dekat wilayah Bantardawa. Pada umumnya rawa tersebut berubah menjadi pemukiman dan menjadi sawah. 

3. Gunung dan Sungai 

Gambaran lainnya pada massa kolonial seakan-akan digambar secara rinci oleh kartograf masa itu. Tempat wisata lokal berupa pemandian air panas di Cipanas, Cikupa, Banjaranyar pun tertulis dengan jelas. Peta buatan Amerika Serikat tahun 1943 menyebut Warm Spring tepat pada wilayah yang kini menjadi tempat wisata lokal Cipanas di desa Cikupa, Banjaranyar. Anehnya pada peta terbaru tahun 1944 Warm Spring tidak dicantumkan kembali, juga nama gunung Gegerbentang berubah menjadi G Soemoerbandoeng. Adapun informasi ketinggian gunung masih sama yakni 457 Mdpl.

Warm Spring, Pemandian air panas di Cikupa

Gunung Gegerbentang yang sejatinya masuk katagori bukit, tetap disebut gunung. Gegerbentang terbaring dari barat ke timur berakhir di wilayah desa Soekajadi. Tercatat ketinggian gunung tersebut berada di 457 Mdpl pada peta cetakan 1885, 1896, 1898, 1918, dan 1944. Berbeda pada peta cetakan Amerika Serikat tahun 1943 tercatat ketinggian gunung Gegerbentang berada di 1500 Mdpl. Sungguh sebuah kesalahan kalau dibandingkan peta buatan Belanda sebelumnya dan peta digital saat ini. 

Gunung Sangkur, gunung mashur di Banjar juga tercatat berdiri tinggi 366 di atas permukaan laut. Beberapa peta mencantumkan ketinggian yang berbeda dari 364 Mdpl (Peta 1885). Kedua gunung tersebut diwarnai dengan warna kuning sebagai tanda hutan alami ataupun sebuah 'cagar alam'.

Lajur garis berwarna hijau mempunyai arti sebuah aliran sungai, beberapa sungai besar dan kecil menjalur di daerah Banjar, Pamarican dan Banjarsari. Beberapa sungai yang tercatat Tjiseël, Tji Talahab, Tji Pamoetih, Tji Kaso, dan Tji Tandoey. Lajur sungai tampak tidak berubah dari tahun pembuatan peta sampai sekarang. Nama sungai Tji Kembang saat ini belum saya temukan, mungkinkah Tji Seël atau emang sungai Tji Kembang itu sendiri, aliran sungainya dari arah Ciamis hingga ke Kawasan (Banjarnegara) pada peta Spoor En Tramwegkaart tahun 1913. 

Peta rencana jalur kereta api tahun 1910


4. Kereta api dan jalan raya 

Kemajuan Hindia Belanda merata hingga pelosok Jawa, tak terkecuali kehadiran jalan raya pos, trem dan kereta api. Wilayah Banjar dan Pamarican pun tak luput dari kemajuan tersebut. Beberapa jalan terbangun di atas tanah Pamarican dan Banjar, juga terdapat jalur kereta api yang menjadi pusat transportasi umum dan hasil bumi. 

Jalan Raya utama Banjar Pamarican membentuk sebuah tapal kuda melajur dari Sumanding dan Tanjungsukur ke arah selatan menghubungkan Tjisaar, Ciparakan, Pamaritjan, Binagoen. Jalur utama dari stasiun Banjar ke arah selatan hingga Tjisaar melewati Batulawang dan Tanglar. Jalur tersebut menghubungkan Pamaritjan dan Banjarsari hingga Tjijoelang.

Jalur kereta Banjar-Cijulang merupakan salah satu jalur dengan banyak trowongan, ada beberapa trowongan dalam katagori panjang seperti Wilhelmina yang dinobatkan sebagai terowongan terpanjang di Hindia Belanda (Indonesia), dengan panjang 1.116 meter. Terowongan panjang lainnya yakni  Hendrik 106 meter, Juliana 147 meter dan Batulawang sepanjang 281,5 meter. 

Terdapat beberapa stasiun dan halte yang berada di Banjar, Pamarican hingga Banjarsari: stasiun Bandjar, Batoelawang, Tanglar (Gunung Cupu), Tjikotok, Soekadjadi, Bandjarsari dan seterusnya. 

5. Peta Sejarah Kerajaan 

Pemerintah kolonial tidak abai pada sejarah bangsa yang dijajahnya, pada tahun 1890 pemerintah kolonial melalui penerbit Tresling di Amsterdam menerbitkan peta sejarah kerajaan-kerajaan yang ada di Nusantara. Peta tersebut diberi judul Historische Kaart Van Java jika diterjemahkan menjadi Peta Sejarah Jawa. Tampak wilayah Banjar dan Pamarican masuk ke dalam Koeasen (Kawasan), dan Galonggong. Sementara wilayah utara Citanduy masuk ke Imba Negara, pembagian wilayah tersebut tidak terlalu jelas karena tidak ada batas yang jelas. Hanya tulisan wilayah kerajaan saja yang dicantumkan. Apakah wilayah Koeasen (Kawasen) sebagai kerajaan kecil diperintah oleh raja besar Galoe (Galuh) berkedudukan di Koewali (Kawali).

Tampak batas tegas berarsir tinta merah sebagai batas kerajaan Padjajaran (Rijk Van Padjajaran) terbentang dari gunung Salak, gunung Gede hingga muara Kali Tji Taroem di pantai utara Jawa. Pada peta terbitan 1890 Batavia sudah berganti nama menjadi Djakarta Dan masuk ke katagori Omme landen. Ujung Barat masih berdiri kerajaan Banten (Rijk Van Banten), ada kekhususan tersendiri dan menjadi wilayah yang unik yakni Tangerang ditulis Tangeran wilayah tersebut terarsir antara Rijk Van Banten dan Djakarta Ommelanden. 

Wilayah Tjiandjoer masuk ke Djakartasche Bovenlanden yang dipimpin oleh wedana Soemedang atas pemerintahan kerajaan Mataram. Sementara Bandung, Karawang, Sumedang masuk ke Preanger Bovenlanden diperintah oleh Wedana Soemedang atas pemerintahan kerajaan Mataram juga. Pemerintahan saat itu sangat rumit dari wilayah ke wilayah, sehingga tidak akan dijelaskan di artikel ini.
Kerajaan Galoe yang berpusat di Koewali


6. Peta Zaman Pendudukan Jepang 

Dengan daya upayanya pemerintah pendudukan Jepang membuat peta versi mereka tentunya dengan tulisan/aksara Jepang. Tidak banyak informasi yang didapatkan dari peta tersebut, berhubung menggunakan aksara Jepang. Hanya saja peta cetakan tahun 1942 tersebut menyebutkan ketinggian gunung Gegerbentang dengan 457 Mdpl dan gunung Sangkur 386 Mdpl. Masih sama dengan peta buatan kolonial Belanda, hanya berbeda beberapa meter untuk ketinggian gunung Sangkur.
Peta dalam aksara Jepang

Pamarican ditulis dengan aksara Jepang ルパマリチャンチ dibaca Rupamarichanchi. Dan Banjar sebagai バンチャル atau Banchar. Terjemahan tersebut saya ambil dengan teknologi Google Terjemahan. Gunung Gegerbentang menjadi ブンタン山 atau Buntan Yama, sementara gunung Sangkur サンクール山 atau Sankūru Yama. 


Ditulis di Pamarican, 25 Oktober 2025
Sumber peta: Wikipedia dan website Oldmap.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Nama-nama Tai

Sega, beras yang ditanak Apa benar bahasa Jawa itu terlalu 'manut' ke bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris? Tampaknya ada benarnya juga, bahasa Jawa terpengaruh/meminjam banyak kosa kata dari bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris. Kekurangan kosakata dalam bahasa Jawa memang kebanyakan untuk hal-hal seperti teknologi ataupun hal lainnya. Jangan berkecil hati untuk penutur bahasa Jawa di seluruh dunia! Perlu diingatkan bahasa Jawa mempunyai keunikan tersendiri, misalnya saja untuk belajar bahasa Jawa 'satu paket' atau juga keseluruhan dari bahasa kasar/ngoko, bahasa sedang/madya hingga bahasa halus/kromo, sama saja belajar tiga bahasa!! Bayangkan belajar tiga bahasa, apa gak repot ya?! Itulah keistimewaan bahasa Jawa. Bersyukur! Berbagai keistimewaan bahasa Jawa juga terdapat di istilah-istilah yang sangat detail/spesifik pada suatu beda yang mengalami sebuah perubahan sedikit maupun perubahan besar. Misalnya saja untuk rangkaian nama dari sebuah padi/po...

Istilah-istilah Anak dalam Keluarga Jawa

1. Ontang-anting: anak laki-laki/perempuan tanpa saudara (semata wayang). 2. Uger-uger lawang: dua bersaudara anak laki-laki. 3. Kembang sepasang: dua bersaudara anak perempuan. 4. Kendhana-kendhini: dua anak bersaudara, laki-laki yang tua, perempuan yang muda. 5. Kendhini-kandana: dua anak bersaudara, perempuan yang tua, laki-laki yang muda. 6. Pandhawa: Kelima anak berjenis kelamin laki-laki semua. 7. Ngayoni: Kelima anak berjenis kelamin perempuan semua. 8. Madangka: Lima anak bersaudara, empat orang lelaki dan satu perempuan. 9. Apil-apil: lima bersaudara, empat orang lelaki dan satu perempuan. Sumber Serat Centhini II - UGM Press.  

Menegang dan Mengeras Oleh Nyai Gowok

Ah...sialan! Padahal aku sudah kenal buku ini sejak Jakarta Islamic Book Fair tahun 2014 lalu! Menyesal-menyesal gak beli saat itu, kupikir buku itu akan sehambar novel-novel dijual murah. Ternyata aku salah, kenapa mesti sekarang untuk meneggang dan mengeras bersama Nyai Gowok . Dari cover buku saya sedikit kenal dengan buku tersebut, bang terpampang di Gramedia , Gunung Agung , lapak buku di Blok M dan masih banyak tempat lainnya termasuk di Jakarta Islamic Book Fair. Kala itu aku lebih memilih Juragan Teh milik Hella S Hasse dan beberapa buku agama, yah begitulah segala sesuatu memerlukan waktu yang tepat agar maknyus dengan enak. Judul Nyai Gowok dan segala isinya saya peroleh dari podcast favorit ( Kepo Buku ) dengan pembawa acara Bang Rame , Steven dan Mas Toto . Dari podcast mereka saya menjadi tahu Nyai Gowok dan isi alur cerita yang membuat beberapa organ aktif menjadi keras dan tegang, ah begitulah Nyi Gowok. Jujur saja ini novel kamasutra pertama yang saya baca, sebelumn...