Merupakan jilid tertebal ke-2 setelah beberapa jilid dengan ketebalan yang cukup menguras hari dalam sebulan membaca. Untuk membaca buku setebal 400 halaman lebih, baiknya dibaca di meja baca di rumah dengan perlakuan khusus agar buku masih dalam keadaan sehat. Buku dengan ketebalan lebih dari 400 jalan sangat rawan rusak terlebih pada punggung buku yang banyak menopang lembaran halaman. Dan balik lagi pada pencetak buku tersebut, apakah dalam kategori baik atau penjilidan yang ngasal.
Memasuki malam ke-129 Jilid ini terbentuk dan mencipta dari dongeng ke dongeng. Adapun isi daripada cerita bertajuk Hikayat Tajul Muluk dan Sayyidah Dunya hingga malam ke-173. Pada hikayat ini saya baru sadar ada desir percintaan sesama lelaki pada halaman 115.
"Kemudian, keduanya mencium tangan kepala pasar dan berjalan hingga sampai ke toko. Keduanya amat menghormatinya, sebab ia adalah sesepuh pasar dan telah berbuat baik dengan menyediakan toko buat mereka berdagang. Saat kepala pasar melihat pantat kedua anak muda itu, perasaannya bergetar. la berteriak dan mendengus. la sudah tidak sabar lagi."
Pada awal membaca versi Qisthi saya belum menyadari adanya desir-desir percintaan sesama lelaki diantara cerita percintaan lawan jenis yang diceritakan cukup vulgar dengan nafas keagamaan yang kuat. Pada Hikayat Tajul Muluk juga menceritakan beberapa percintaan dalam satu turunan, semisal percintaan yang tidak disengaja antara adik dan kakak yang sudah lama tidak bertemu dan berpisah lama. Memang keduanya berbeda ibu, namun kisah percintaan ini sungguh membuat pembaca semakin penasaran untuk membaca sampai tuntas.
Jilid 3 membuka kemunculan fabel, cerita dari hewan-hewan yang bisa berbicara. Kisah 1001 Malam kemungkinan mendapat pengaruh dari Pancatantra ataupun Khalila Wa Dimna sebagai cerita awal dari sebuah fabel. Pada fabel kali ini menceritakan Hikayat Burung-burung, selanjutnya terdapat cukup banyak cerita-cerita fabel lainnya. Cerita fabel memberikan banyak amanat, pesan-pesan budi pekerti luhur, pesan agama dan menceritakan intrik licik. Berbeda dengan cerita manusia dengan pesan dan hikmah yang samar, tanpa mengucapkan pepatah ataupun pesan budi pekerti. Di sini juga hewan-hewan kadang bersenandung, ataupun bersyair. Tetapi tidak sebanyak cerita manusia.
"Jangan mengatakan sesuatu hal kepada orang lain jika kau tidak diminta; jangan memberi jawaban melebihi dari yang diminta; tinggalkanlah sesuatu yang tidak bermanfaat bagimu dan kerjakanlah hal-hal yang bermanfaat bagimu; jangan memberi nasihat kepada para penjahat, karena mereka akan membalas nasihat itu dengan keburukan."
Hewan-hewan pada cerita fabel tidak hanya menceritakan dirinya sendiri, ada juga menceritakan hewan lain yang saling bermusuhan, bersahabat dan berkhianat. Dunia hewan serasa hidup dengan segala taktik kehidupan seperti manusia, pun begitu hewan menceritakan kisah-kisah manusia. Sungguh 1001 Malam adalah cerita yang ajaib.
Jilid pertama pernah menceritakan perjodohan manusia oleh jin, dari kalangan jin betina muslim dan jin jantan kafir. Mereka disatukan untuk menjodohkan dua insan nan rupawan. Demikian pada jilid ke-3 dua jin menjadi kembali manusia dengan jalan cerita yang berbeda, kini jalan cerita lebih ke dua anak raja yang bersumpah enggan menikah. Namun, berkat dua jin yang beradu argument perkara kecantikan putri raja dan ketampanan putra mahkota mereka berjodoh. Cerita tidak berhenti di perjodohan, melainkan berkembang menjadi anak pinak dan tragedi cinta dalam satu keluarga. Dimana sang ibu tiri saling mencintai dan berhasrat secara seksual pada anak tirinya. Jadi dalam Jilid ke-3 ada dua cerita yang menggambarkan perilaku insest.
Judul asli: Alfu Lailah wa Lailah
Terbitan: Beirut: Maktabah asy-Syabiah
Penyusun: Abu Abdullah Muhammad al-Jihsiyari
Penerjemah: Muhammad Halabi
Penyunting: Muhammad Ali Fakih
Cetakan: Pertama, November 2018
Dimensi: 652 hlmn; 15.5x24 cm
ISBN Jilid lengkap: 978-602-391-575-0
ISBN: 978-602-391-578-1
Penerbit: Diva Press Yogyakarta
Komentar