Langsung ke konten utama

Kissah 1001 Malam Jilid 3

Kissah 1001 Malam Jilid 3


Merupakan jilid tertebal ke-2 setelah beberapa jilid dengan ketebalan yang cukup menguras hari dalam sebulan membaca. Untuk membaca buku setebal 400 halaman lebih, baiknya dibaca di meja baca di rumah dengan perlakuan khusus agar buku masih dalam keadaan sehat. Buku dengan ketebalan lebih dari 400 jalan sangat rawan rusak terlebih pada punggung buku yang banyak menopang lembaran halaman. Dan balik lagi pada pencetak buku tersebut, apakah dalam kategori baik atau penjilidan yang ngasal. 

Memasuki malam ke-129 Jilid ini terbentuk dan mencipta dari dongeng ke dongeng. Adapun isi daripada cerita bertajuk Hikayat Tajul Muluk dan Sayyidah Dunya hingga malam ke-173. Pada hikayat ini saya baru sadar ada desir percintaan sesama lelaki pada halaman 115.

"Kemudian, keduanya mencium tangan kepala pasar dan berjalan hingga sampai ke toko. Keduanya amat menghormatinya, sebab ia adalah sesepuh pasar dan telah berbuat baik dengan menyediakan toko buat mereka berdagang. Saat kepala pasar melihat pantat kedua anak muda itu, perasaannya bergetar. la berteriak dan mendengus. la sudah tidak sabar lagi."

Pada awal membaca versi Qisthi saya belum menyadari adanya desir-desir percintaan sesama lelaki diantara cerita percintaan lawan jenis yang diceritakan cukup vulgar dengan nafas keagamaan yang kuat. Pada Hikayat Tajul Muluk juga menceritakan beberapa percintaan dalam satu turunan, semisal percintaan yang tidak disengaja antara adik dan kakak yang sudah lama tidak bertemu dan berpisah lama. Memang keduanya berbeda ibu, namun kisah percintaan ini sungguh membuat pembaca semakin penasaran untuk membaca sampai tuntas.

Jilid 3 membuka kemunculan fabel, cerita dari hewan-hewan yang bisa berbicara. Kisah 1001 Malam kemungkinan mendapat pengaruh dari Pancatantra ataupun Khalila Wa Dimna sebagai cerita awal dari sebuah fabel. Pada fabel kali ini menceritakan Hikayat Burung-burung, selanjutnya terdapat cukup banyak cerita-cerita fabel lainnya. Cerita fabel memberikan banyak amanat, pesan-pesan budi pekerti luhur, pesan agama dan menceritakan intrik licik. Berbeda dengan cerita manusia dengan pesan dan hikmah yang samar, tanpa mengucapkan pepatah ataupun pesan budi pekerti. Di sini juga hewan-hewan kadang bersenandung, ataupun bersyair. Tetapi tidak sebanyak cerita manusia. 

"Jangan mengatakan sesuatu hal kepada orang lain jika kau tidak diminta; jangan memberi jawaban melebihi dari yang diminta; tinggalkanlah sesuatu yang tidak bermanfaat bagimu dan kerjakanlah hal-hal yang bermanfaat bagimu; jangan memberi nasihat kepada para penjahat, karena mereka akan membalas nasihat itu dengan keburukan."

Judul asli: Alfu Lailah wa Lailah 
Terbitan: Beirut: Maktabah asy-Syabiah
Penyusun: Abu Abdullah Muhammad al-Jihsiyari 
Penerjemah: Muhammad Halabi 
Penyunting: Muhammad Ali Fakih 
Cetakan: Pertama, November 2018
Dimensi: 652 hlmn; 15.5x24 cm 
ISBN Jilid lengkap: 978-602-391-575-0
ISBN: 978-602-391-578-1
Penerbit: Diva Press Yogyakarta 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Review Sepatu Gunung SNTA

Sepatu SNTA Jika dirunut waktu kira-kira sudah menginjak usia tiga tahun sepatu gunung merek SNTA yang ku beli dari teman satu perusahaan sewaktu masih menjadi kuli di Jakarta Raya. Saya membeli sepatu SNTA bukanlah sebuah pilihan dari hati ataupun penalaran akal, melainkan sebuah pilihan terpaksa dari sebuah ketidaktahuan yang mendalam pada peralatan out door . Bisa dikatakan aku hanya manut saran dari temanku yang sekaligus menjadi penjual dari sepatu yang ku beli.  Berawal dari niat mendaki gunung Semeru pada tahun 2016 lalu, semua tuntutan peralatan out door harus dilunasi oleh sejumlah lembaran merah biru dari dalam dompet. Sepatu gunung, jaket gunung, tongkat, sarung tangan, keril dan sejumlah aksesorir terbayar lunas tanpa berpikir merek, warna, jenis barang. Yang tergambar dalam otakku hanyalah sebuah kepemilikan saja dan berangkat mendaki.  Tidak salah pilihan dari temanku ini membawa manfaat andalan dari merek sepatu SNTA yang saya rasakan dari awal ...

Nama-nama Tai

Sega, beras yang ditanak Apa benar bahasa Jawa itu terlalu 'manut' ke bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris? Tampaknya ada benarnya juga, bahasa Jawa terpengaruh/meminjam banyak kosa kata dari bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris. Kekurangan kosakata dalam bahasa Jawa memang kebanyakan untuk hal-hal seperti teknologi ataupun hal lainnya. Jangan berkecil hati untuk penutur bahasa Jawa di seluruh dunia! Perlu diingatkan bahasa Jawa mempunyai keunikan tersendiri, misalnya saja untuk belajar bahasa Jawa 'satu paket' atau juga keseluruhan dari bahasa kasar/ngoko, bahasa sedang/madya hingga bahasa halus/kromo, sama saja belajar tiga bahasa!! Bayangkan belajar tiga bahasa, apa gak repot ya?! Itulah keistimewaan bahasa Jawa. Bersyukur! Berbagai keistimewaan bahasa Jawa juga terdapat di istilah-istilah yang sangat detail/spesifik pada suatu beda yang mengalami sebuah perubahan sedikit maupun perubahan besar. Misalnya saja untuk rangkaian nama dari sebuah padi/po...

Istilah-istilah Anak dalam Keluarga Jawa

1. Ontang-anting: anak laki-laki/perempuan tanpa saudara (semata wayang). 2. Uger-uger lawang: dua bersaudara anak laki-laki. 3. Kembang sepasang: dua bersaudara anak perempuan. 4. Kendhana-kendhini: dua anak bersaudara, laki-laki yang tua, perempuan yang muda. 5. Kendhini-kandana: dua anak bersaudara, perempuan yang tua, laki-laki yang muda. 6. Pandhawa: Kelima anak berjenis kelamin laki-laki semua. 7. Ngayoni: Kelima anak berjenis kelamin perempuan semua. 8. Madangka: Lima anak bersaudara, empat orang lelaki dan satu perempuan. 9. Apil-apil: lima bersaudara, empat orang lelaki dan satu perempuan. Sumber Serat Centhini II - UGM Press.