Langsung ke konten utama

Hutan Lindung Gunung Gegerbentang Pamarican dan Refleksi Diri

Pengasingan Sultan Hamengkubuwana II di Saparua

Buku ini sangat spesial untuk tahun ini, didapat dari acara AMEX annual museum exhibition alias acara tahunan dari rangkaian ulang tahun museum negeri Sonobudoyo Yogyakarta. Dibagikan secara cuma-cuma oleh pihak panitia kepada para tamu yang telah hadir. Beruntungnya lagi aku dan ibu-ibu Perancis adalah tamu dadakan tanpa daftar online, jumlah kouta peserta sejatinya hanya 25 orang saja. Namun ada dua tambahan peserta yakni saya dan ibu-ibu Perancis yang ngebet ingin mengikuti acara berfaedah ini. Tiap peserta dibagikan satu bag paper yang berisikan buku Pengasingan Sultan Hamengkubuwana II di Saparua, sementara bagi peserta yang melontarkan pertanyaan ditambahkan souvenir cantik berupa mug bertuliskan museum Sonobudoyo Yogyakarta.

Antara buku dan acara yang diselenggarakan saat itu mempunyai tema yang berbeda, entah kenapa tidak nyambung. Yang nyambung dengan buku Pengasingan Sultan Hamengkubuwana II di Saparua yakni dengan acara pameran temporer Suma Kala - Dasawarsa Temaram Yogyakarta yang diselenggarakan di bangunan depan keraton Yogyakarta Hadiningrat (Gedung Pagelaran Keraton Yogyakarta). Acara pameran temporer tersebut diselenggarakan mulai 28 Oktober 2022 sampai dengan 29 Januari 2023, pameran ini menceritakan bagaimana situasi temaramnya pemerintahan dan kesultanan Yogyakarta pada masa Sultan Sepuh (Hamengkubuwana II) dengan drama perpolitikan antara beliau, anaknya (Hamengkubuwana III) dan pemerintah kolonial Inggris dan Belanda.

Jarak antara museum Sonobudoyo Yogyakarta dan gedung pagelaran keraton tidaklah jauh, hanya terpaut ratusan langkah saja. Museum Negeri Sonobudoyo Yogyakarta sebagai lembaga yang banyak mengkaji naskah kuno ini selalu menerbitkan buku-buku hasil terjemahan berkualitas terjemahan dari naskah kuno tersebut. Dengan demikian naskah-naskah tersebut tetap langgeng hingga akhirnya terdengar dan terbaca oleh anak cucu kita kelak.

Buku ini berisikan kajian dari naskah babad Mentawis, diterjemahkan dan disusun kembali oleh ibu Arsanti Wulandari dan bapak Sudibyo yang keduanya adalah seorang ahli filologi dari Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Secara garis besar buku ini berkisah tentang pengasingan Sultan Hamengkubuwana II mulai dari pengasingan di Penang Malaysia, dan dikembalikan kembali ke Jawa. Alih alih masih mempunyai pengaruh kuat di lingkungan keraton dan di Jawa Sri Sultan Hamengkubuwana II kembali diasingkan oleh pemerintah kolonial Belanda ke Saparua - Ambon. Di pengasingannya Sri Sultan menulis surat pada istrinya yang masih di Yogyakarta untuk pergi menyertainya dalam pengasingan. 
Istri ke-empat sultan yang bernama Dewi Dayaningrat menjadi sosok yang paling berjasa dalam segala negosiasi pada pihak kolonial dalam rangka upaya pulangnya Sri Sultan Hamengkubuwana II ke Jawa. Dalam babad ini berbagai peristiwa geger politik keraton dijelaskan secara runtut dan jelas mulai dari penanggalannya. Jelas serat ini berupa pupuh (puisi) yang ditulis dalam beberapa jenis pupuh seperti dhandhanggula, kinanthi, asmarandana, sinom, pucung, mijil, megatruh, maskumambang, dan durma, pungkur, gambuh.

Seperti penulis atau peneliti sebutkan bahwa naskah ini tidak begitu terkenal sehingga terlupakan. Entah apa yang mendasari keterlupaan ini, mungkin saja ada efek perpolitikan. Dengan naskah ini peneliti juga menyebutkan ada beberapa hal penting terlebih pada peran perempuan dan isu feminisme. Buku ini tercipta dengan apik nan ayu dengan jilid tebal dan keras, dan kertas halaman menggunakan art paper sehingga terasa istimewa. Sayang beberapa foto terlihat buram karena resolusi foto yang terlampau rendah, sehingga foto (gambar) tampak tidak jelas. Sampul dan gambar ornamen pun tampak khas seperti lukisan atau gambar batik khas Jawa. Dari segi bahasa, jelas buku ini mudah dicerna. 

Judul: Pengasingan Sri Sultan Hamengkubuwana II di Saparua
Peneliti: Arsanti Wulandari, S.s., M.Hum & Dr.Sudibyo, M.Hum
Dimensi: 144 hal (XIV + 130 hal), 17,6 cm x 25 cm
Penyunting: Arum Ngesti Palupi, S.sn., M.A
Cetakan: Pertama, 2021
Penerbit: Museum Negeri Sonobudoyo 
ISBN: 978-623-97146-1-1

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Nama-nama Tai

Sega, beras yang ditanak Apa benar bahasa Jawa itu terlalu 'manut' ke bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris? Tampaknya ada benarnya juga, bahasa Jawa terpengaruh/meminjam banyak kosa kata dari bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris. Kekurangan kosakata dalam bahasa Jawa memang kebanyakan untuk hal-hal seperti teknologi ataupun hal lainnya. Jangan berkecil hati untuk penutur bahasa Jawa di seluruh dunia! Perlu diingatkan bahasa Jawa mempunyai keunikan tersendiri, misalnya saja untuk belajar bahasa Jawa 'satu paket' atau juga keseluruhan dari bahasa kasar/ngoko, bahasa sedang/madya hingga bahasa halus/kromo, sama saja belajar tiga bahasa!! Bayangkan belajar tiga bahasa, apa gak repot ya?! Itulah keistimewaan bahasa Jawa. Bersyukur! Berbagai keistimewaan bahasa Jawa juga terdapat di istilah-istilah yang sangat detail/spesifik pada suatu beda yang mengalami sebuah perubahan sedikit maupun perubahan besar. Misalnya saja untuk rangkaian nama dari sebuah padi/po...

Istilah-istilah Anak dalam Keluarga Jawa

1. Ontang-anting: anak laki-laki/perempuan tanpa saudara (semata wayang). 2. Uger-uger lawang: dua bersaudara anak laki-laki. 3. Kembang sepasang: dua bersaudara anak perempuan. 4. Kendhana-kendhini: dua anak bersaudara, laki-laki yang tua, perempuan yang muda. 5. Kendhini-kandana: dua anak bersaudara, perempuan yang tua, laki-laki yang muda. 6. Pandhawa: Kelima anak berjenis kelamin laki-laki semua. 7. Ngayoni: Kelima anak berjenis kelamin perempuan semua. 8. Madangka: Lima anak bersaudara, empat orang lelaki dan satu perempuan. 9. Apil-apil: lima bersaudara, empat orang lelaki dan satu perempuan. Sumber Serat Centhini II - UGM Press.  

Menegang dan Mengeras Oleh Nyai Gowok

Ah...sialan! Padahal aku sudah kenal buku ini sejak Jakarta Islamic Book Fair tahun 2014 lalu! Menyesal-menyesal gak beli saat itu, kupikir buku itu akan sehambar novel-novel dijual murah. Ternyata aku salah, kenapa mesti sekarang untuk meneggang dan mengeras bersama Nyai Gowok . Dari cover buku saya sedikit kenal dengan buku tersebut, bang terpampang di Gramedia , Gunung Agung , lapak buku di Blok M dan masih banyak tempat lainnya termasuk di Jakarta Islamic Book Fair. Kala itu aku lebih memilih Juragan Teh milik Hella S Hasse dan beberapa buku agama, yah begitulah segala sesuatu memerlukan waktu yang tepat agar maknyus dengan enak. Judul Nyai Gowok dan segala isinya saya peroleh dari podcast favorit ( Kepo Buku ) dengan pembawa acara Bang Rame , Steven dan Mas Toto . Dari podcast mereka saya menjadi tahu Nyai Gowok dan isi alur cerita yang membuat beberapa organ aktif menjadi keras dan tegang, ah begitulah Nyi Gowok. Jujur saja ini novel kamasutra pertama yang saya baca, sebelumn...