Langsung ke konten utama

Kisah 1001 Malam Jilid 2

Kisah 1001 Malam Jilid 2


Tiada hari tanpa hikmah dari dongen klasik Timur Tengah, setiap malamnya mempunyai hikmah yang diambil oleh siapapun yang membacanya. Pada jilid ke-2 terkandung banyak cerita, namun cerita paling panjang berada di akhir buku yakni Hikayat Raja Umar an-Numan. Hikayat tersebut memborong 346 halaman dari total halaman jilid 2 sebanyak 480 halaman. 

Hikayat Raja Umar an-Numan sungguh membuat hati pembaca merasa iba pada kisah dari Pangeran Dhau'ul Makaan & Putri Nuzhatuz Zaman, dimana kedua kakak beradik berpisah dalam kondisi sengsara, terlebih-lebih kisah pangeran Dhau'ul Makaan yang ditolong oleh seorang tukang sampah di Baitul Maqdis. Selain itu ada bagian yang membuat turun naik desir darah saat membaca akhir halaman, karena di situ ada peperangan antar pasukan Islam dan Kristen yang silih berganti menang dan kalah. Hingga akhirnya pasukan Islam menjadi pemenangnya.

Penggalan cerita erotis pun terdapat di jilid 2, disuguhkan dalam bahasa yang apik nan membara. Kisah Ghanim bin Ayyub menjadi sajian panas untuk para pemabuk cinta, dikisahkan bahwa Ghanim adalah pria muda nan tampan. Berbagai kisah erotis dan kemabukan cinta diterurai begitu indah pada kisah ini. 

Sayang sekalli beberapa halaman tidak tercetak pada halaman akhir dari Hikayat Raja Umar an-Numan, saya sendiri menemukan 4 halaman yang kosong. Walaupun demikian jalan cerita sepertinya mudah ditebak. Hanya saja kekurangan tersebut menjadi sebuah misteri yang akan terbuka jika membaca atau membeli jilid yang sempurna, bukan jilid yang cacat.

Judul asli: Alfu Lailah wa Lailah 
Terbitan: Beirut: Maktabah asy-Syabiah
Penyusun: Abu Abdullah Muhammad al-Jihsiyari 
Penerjemah: Muhammad Halabi 
Penyunting: Muhammad Ali Fakih 
Cetakan: Pertama, September 2018
Dimensi: 480 hlmn; 15.5x24 cm 
ISBN Jilid lengkap: 978-602-391-575-0
ISBN: 978-602-391-577-4
Penerbit: Diva Press Yogyakarta 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Review Sepatu Gunung SNTA

Sepatu SNTA Jika dirunut waktu kira-kira sudah menginjak usia tiga tahun sepatu gunung merek SNTA yang ku beli dari teman satu perusahaan sewaktu masih menjadi kuli di Jakarta Raya. Saya membeli sepatu SNTA bukanlah sebuah pilihan dari hati ataupun penalaran akal, melainkan sebuah pilihan terpaksa dari sebuah ketidaktahuan yang mendalam pada peralatan out door . Bisa dikatakan aku hanya manut saran dari temanku yang sekaligus menjadi penjual dari sepatu yang ku beli.  Berawal dari niat mendaki gunung Semeru pada tahun 2016 lalu, semua tuntutan peralatan out door harus dilunasi oleh sejumlah lembaran merah biru dari dalam dompet. Sepatu gunung, jaket gunung, tongkat, sarung tangan, keril dan sejumlah aksesorir terbayar lunas tanpa berpikir merek, warna, jenis barang. Yang tergambar dalam otakku hanyalah sebuah kepemilikan saja dan berangkat mendaki.  Tidak salah pilihan dari temanku ini membawa manfaat andalan dari merek sepatu SNTA yang saya rasakan dari awal ...

Nama-nama Tai

Sega, beras yang ditanak Apa benar bahasa Jawa itu terlalu 'manut' ke bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris? Tampaknya ada benarnya juga, bahasa Jawa terpengaruh/meminjam banyak kosa kata dari bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris. Kekurangan kosakata dalam bahasa Jawa memang kebanyakan untuk hal-hal seperti teknologi ataupun hal lainnya. Jangan berkecil hati untuk penutur bahasa Jawa di seluruh dunia! Perlu diingatkan bahasa Jawa mempunyai keunikan tersendiri, misalnya saja untuk belajar bahasa Jawa 'satu paket' atau juga keseluruhan dari bahasa kasar/ngoko, bahasa sedang/madya hingga bahasa halus/kromo, sama saja belajar tiga bahasa!! Bayangkan belajar tiga bahasa, apa gak repot ya?! Itulah keistimewaan bahasa Jawa. Bersyukur! Berbagai keistimewaan bahasa Jawa juga terdapat di istilah-istilah yang sangat detail/spesifik pada suatu beda yang mengalami sebuah perubahan sedikit maupun perubahan besar. Misalnya saja untuk rangkaian nama dari sebuah padi/po...

Istilah-istilah Anak dalam Keluarga Jawa

1. Ontang-anting: anak laki-laki/perempuan tanpa saudara (semata wayang). 2. Uger-uger lawang: dua bersaudara anak laki-laki. 3. Kembang sepasang: dua bersaudara anak perempuan. 4. Kendhana-kendhini: dua anak bersaudara, laki-laki yang tua, perempuan yang muda. 5. Kendhini-kandana: dua anak bersaudara, perempuan yang tua, laki-laki yang muda. 6. Pandhawa: Kelima anak berjenis kelamin laki-laki semua. 7. Ngayoni: Kelima anak berjenis kelamin perempuan semua. 8. Madangka: Lima anak bersaudara, empat orang lelaki dan satu perempuan. 9. Apil-apil: lima bersaudara, empat orang lelaki dan satu perempuan. Sumber Serat Centhini II - UGM Press.