Langsung ke konten utama

W.R Van Höevell Bercerita Hindia Belanda Abad Ke-19

W.R Van Höevell Bercerita Hindia Belanda Abad Ke-19


Merupakan buku ke-5 dari Project Junghuhn karya terjemahan Kang Maliek Arrahim. Dari keseluruhan karya Kang Maliek rata-rata mengenai Junghuhn, seorang geolog termasyhur di Eropa dan di Hindia Belanda pada eranya. Sejauh ini alam Hindia Belanda masih menjadi topik karya Kang Maliek, walaupun sebelumnya beliau telah melahirkan beberapa buku tentang tanah gambut.

Buku ini terdiri dari 12 judul cerita terkandung, seperti pada judulnya. 

Pedati sebagai konsep slow living 
"Baru saja mulai, tahu-tahu sudah di akhir! Tidak, silakan saja kalau Anda menginginkan hidup yang seperti itu. Aku lebih memilih pedati yang ditarik oleh kerbau yang lamban, langkah demi langkah, menyusuri jalan yang panjang. Aku ingin menghabiskan hari-hariku seperti itu. Setidaknya, kita punya waktu untuk menikmati hidup, serta tidak terlalu cepat bosan dengan segala kesenangan yang ditawarkan bumi kepada semua orang yang berbudi".

Van Höevell sangat mengagumi pedati bermesin kerbau, berjalan lambat meniti detik dan jam sehingga rasa syukur, rasa demi rasa, udara yang masuk ke hidung dan udara keluar dari bokong terasa lebih ternikmati. Di cerpen pertama ini Van Höevell sedang berfalsafah tentang waktu, kenikmatan hidup yang enggan cepat berakhir. Dirinya menyinggung pada perubahan besar di Jawa dengan adanya kereta api, juga menyinggung atas hinaan pada orang Jawa yang dianggap bodoh. 

Digambar bahwa Van Höevell merupakan Belanda yang mencintai kemanusiaan, dirinya menyinggung pemerintahan dan orang-orang Eropa yang memberikan cap bodoh pada masyarakat Jawa. Namun, Van Höevell mengelaknya. 

Pelelangan Budak, kemanusiaan yang terpanggil 
Cerpen nyata dari seorang penyintas zamannya, dari sinilah saya paham betapa kacaunya perasaan seorang budak yang hendak dijual. Dunia dewasa ini merasa heran dan menyakitkan tentang perdagangan manusia, pada masa itu pun demikian, saat perubahan pandangan tentang perbudakan. Berbeda dengan apa yang diceritakan pada kitab suci, di mana ribuan tahun lalu massih legal. 

Pelelangan Budak, manusia menjadi nomor terakhir yang dilelang selepas, barang, hewan seperti kuda, kambing, kerbau dan yang lainnya. Setelah barang dan hewan telah terlelang habis, kini giliran manusia yang dilelang. Kita tidak pernah mengalaminya, tapi dengan membaca saja seluruh perasaan budak yang dilelang merasuk pada setiap saraf perasaan kemanusiaan kita. 

Mendaki Sepuluh Ribu Kaki, titian keindahan Hindia Belanda tertuang 
Gambaran alam Jawa Barat khususnya keresidenan Chirebon ditulis begitu indah, bukan saja perkara keayuan Ciremai. Namun juga pada kehangatan masyarakat yang menemani penulis saat naik gunung, di atas sepuluh ribu kaki terdapat kehangatan yang tak lekang oleh zaman.

Beberapa kali wilayah kabupaten Ciamis (saat ini) juga disebut seperti kabupaten Rajagaluh, diceritakan bahwa di Rajagaluh khususnya di Kabuyutan terdapat sekawan monyet yang menetap dan dikeramatkan oleh penduduk setempat.

Saya rasa ke-12 cerita tersebut bukan hanya cerpen biasa, melainkan catatan perjalanan dari seorang Van Höevell. Sama seperti catatan Junghuhn Cahaya dan Bayang-bayang dari Jawa, hanya saja Van Höevell menceritakan dengan banyak sentuhan kemanusiaan yang saat itu masih kurang (ditentang) oleh sebagian masyarakat Belanda. Istimewanya mereka berdua tampak lebih dekat dengan masyarakat Hindia Belanda.

Tidak banyak kendala dalam membaca buku cerita ini, saya sendiri menghabiskan dua hari. Memang ada beberapa yang kalimatnya agak ambigu seperti pada kalimat-kalimat di Max Havelaar. Sungguh. 

Lagi-lagi setiap buku yang diterbitkan oleh mas Maliek membawa ilustrasi yang banyak. Hal ini membuat pembaca lebih nyaman, tidak mudah jenuh dan mudah untuk membayangkan kejadian atau latar belakang Hindia Belanda. 

Judul Asli: Uit het Indische Leven
Judul Terjemah: 12 Cerita dari Hindia Belanda Abad Ke-19 
Penulis: W.R Van Höevell 
Penerjemah: Muhammad Maliek Arrahim 
Penyunting: Damaring Tyas Wulandari Palar 
Dimensi:  xix + 346 hlmn
Cetakan: Pertama, 2026
Dicetak: PT Mizan Grafika Sarana
ISBN: -

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Review Sepatu Gunung SNTA

Sepatu SNTA Jika dirunut waktu kira-kira sudah menginjak usia tiga tahun sepatu gunung merek SNTA yang ku beli dari teman satu perusahaan sewaktu masih menjadi kuli di Jakarta Raya. Saya membeli sepatu SNTA bukanlah sebuah pilihan dari hati ataupun penalaran akal, melainkan sebuah pilihan terpaksa dari sebuah ketidaktahuan yang mendalam pada peralatan out door . Bisa dikatakan aku hanya manut saran dari temanku yang sekaligus menjadi penjual dari sepatu yang ku beli.  Berawal dari niat mendaki gunung Semeru pada tahun 2016 lalu, semua tuntutan peralatan out door harus dilunasi oleh sejumlah lembaran merah biru dari dalam dompet. Sepatu gunung, jaket gunung, tongkat, sarung tangan, keril dan sejumlah aksesorir terbayar lunas tanpa berpikir merek, warna, jenis barang. Yang tergambar dalam otakku hanyalah sebuah kepemilikan saja dan berangkat mendaki.  Tidak salah pilihan dari temanku ini membawa manfaat andalan dari merek sepatu SNTA yang saya rasakan dari awal ...

Nama-nama Tai

Sega, beras yang ditanak Apa benar bahasa Jawa itu terlalu 'manut' ke bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris? Tampaknya ada benarnya juga, bahasa Jawa terpengaruh/meminjam banyak kosa kata dari bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris. Kekurangan kosakata dalam bahasa Jawa memang kebanyakan untuk hal-hal seperti teknologi ataupun hal lainnya. Jangan berkecil hati untuk penutur bahasa Jawa di seluruh dunia! Perlu diingatkan bahasa Jawa mempunyai keunikan tersendiri, misalnya saja untuk belajar bahasa Jawa 'satu paket' atau juga keseluruhan dari bahasa kasar/ngoko, bahasa sedang/madya hingga bahasa halus/kromo, sama saja belajar tiga bahasa!! Bayangkan belajar tiga bahasa, apa gak repot ya?! Itulah keistimewaan bahasa Jawa. Bersyukur! Berbagai keistimewaan bahasa Jawa juga terdapat di istilah-istilah yang sangat detail/spesifik pada suatu beda yang mengalami sebuah perubahan sedikit maupun perubahan besar. Misalnya saja untuk rangkaian nama dari sebuah padi/po...

Istilah-istilah Anak dalam Keluarga Jawa

1. Ontang-anting: anak laki-laki/perempuan tanpa saudara (semata wayang). 2. Uger-uger lawang: dua bersaudara anak laki-laki. 3. Kembang sepasang: dua bersaudara anak perempuan. 4. Kendhana-kendhini: dua anak bersaudara, laki-laki yang tua, perempuan yang muda. 5. Kendhini-kandana: dua anak bersaudara, perempuan yang tua, laki-laki yang muda. 6. Pandhawa: Kelima anak berjenis kelamin laki-laki semua. 7. Ngayoni: Kelima anak berjenis kelamin perempuan semua. 8. Madangka: Lima anak bersaudara, empat orang lelaki dan satu perempuan. 9. Apil-apil: lima bersaudara, empat orang lelaki dan satu perempuan. Sumber Serat Centhini II - UGM Press.