Merupakan buku ke-5 dari Project Junghuhn karya terjemahan Kang Maliek Arrahim. Dari keseluruhan karya Kang Maliek rata-rata mengenai Junghuhn, seorang geolog termasyhur di Eropa dan di Hindia Belanda pada eranya. Sejauh ini alam Hindia Belanda masih menjadi topik karya Kang Maliek, walaupun sebelumnya beliau telah melahirkan beberapa buku tentang tanah gambut.
Buku ini terdiri dari 12 judul cerita terkandung, seperti pada judulnya.
Pedati sebagai konsep slow living
"Baru saja mulai, tahu-tahu sudah di akhir! Tidak, silakan saja kalau Anda menginginkan hidup yang seperti itu. Aku lebih memilih pedati yang ditarik oleh kerbau yang lamban, langkah demi langkah, menyusuri jalan yang panjang. Aku ingin menghabiskan hari-hariku seperti itu. Setidaknya, kita punya waktu untuk menikmati hidup, serta tidak terlalu cepat bosan dengan segala kesenangan yang ditawarkan bumi kepada semua orang yang berbudi".
Van Höevell sangat mengagumi pedati bermesin kerbau, berjalan lambat meniti detik dan jam sehingga rasa syukur, rasa demi rasa, udara yang masuk ke hidung dan udara keluar dari bokong terasa lebih ternikmati. Di cerpen pertama ini Van Höevell sedang berfalsafah tentang waktu, kenikmatan hidup yang enggan cepat berakhir. Dirinya menyinggung pada perubahan besar di Jawa dengan adanya kereta api, juga menyinggung atas hinaan pada orang Jawa yang dianggap bodoh.
Digambar bahwa Van Höevell merupakan Belanda yang mencintai kemanusiaan, dirinya menyinggung pemerintahan dan orang-orang Eropa yang memberikan cap bodoh pada masyarakat Jawa. Namun, Van Höevell mengelaknya.
Pelelangan Budak, kemanusiaan yang terpanggil
Cerpen nyata dari seorang penyintas zamannya, dari sinilah saya paham betapa kacaunya perasaan seorang budak yang hendak dijual. Dunia dewasa ini merasa heran dan menyakitkan tentang perdagangan manusia, pada masa itu pun demikian, saat perubahan pandangan tentang perbudakan. Berbeda dengan apa yang diceritakan pada kitab suci, di mana ribuan tahun lalu massih legal.
Pelelangan Budak, manusia menjadi nomor terakhir yang dilelang selepas, barang, hewan seperti kuda, kambing, kerbau dan yang lainnya. Setelah barang dan hewan telah terlelang habis, kini giliran manusia yang dilelang. Kita tidak pernah mengalaminya, tapi dengan membaca saja seluruh perasaan budak yang dilelang merasuk pada setiap saraf perasaan kemanusiaan kita.
Mendaki Sepuluh Ribu Kaki, titian keindahan Hindia Belanda tertuang
Gambaran alam Jawa Barat khususnya keresidenan Chirebon ditulis begitu indah, bukan saja perkara keayuan Ciremai. Namun juga pada kehangatan masyarakat yang menemani penulis saat naik gunung, di atas sepuluh ribu kaki terdapat kehangatan yang tak lekang oleh zaman.
Beberapa kali wilayah kabupaten Ciamis (saat ini) juga disebut seperti kabupaten Rajagaluh, diceritakan bahwa di Rajagaluh khususnya di Kabuyutan terdapat sekawan monyet yang menetap dan dikeramatkan oleh penduduk setempat.
Saya rasa ke-12 cerita tersebut bukan hanya cerpen biasa, melainkan catatan perjalanan dari seorang Van Höevell. Sama seperti catatan Junghuhn Cahaya dan Bayang-bayang dari Jawa, hanya saja Van Höevell menceritakan dengan banyak sentuhan kemanusiaan yang saat itu masih kurang (ditentang) oleh sebagian masyarakat Belanda. Istimewanya mereka berdua tampak lebih dekat dengan masyarakat Hindia Belanda.
Tidak banyak kendala dalam membaca buku cerita ini, saya sendiri menghabiskan dua hari. Memang ada beberapa yang kalimatnya agak ambigu seperti pada kalimat-kalimat di Max Havelaar. Sungguh.
Lagi-lagi setiap buku yang diterbitkan oleh mas Maliek membawa ilustrasi yang banyak. Hal ini membuat pembaca lebih nyaman, tidak mudah jenuh dan mudah untuk membayangkan kejadian atau latar belakang Hindia Belanda.
Judul Asli: Uit het Indische Leven
Judul Terjemah: 12 Cerita dari Hindia Belanda Abad Ke-19
Penulis: W.R Van Höevell
Penerjemah: Muhammad Maliek Arrahim
Penyunting: Damaring Tyas Wulandari Palar
Dimensi: xix + 346 hlmn
Cetakan: Pertama, 2026
Dicetak: PT Mizan Grafika Sarana
ISBN: -
Komentar