Langsung ke konten utama

Postingan

Kisah 1001 Malam Jilid I

Kodak Ektar H45 aka Ektariawan

Tanggal 24 Oktober kemarin adalah hari kelahiran Ektariawan, si kamera analog yang akan menemani perjalanan hidupku ke depan. Semakin aku tua semakin tua juga hobinya. Ya Tuhan sidah tua ternyata ya. Semoga dengan Ektariawan lebih berwarna lagi dna lebih mapan lagi soal finansial, hobi okey investasi oyeh.  Soniman alias Sony A6000 sudah dijual dengan tiga matanya, harga jual yang cukup murah aku lepas demi keberlanjutan hidupm bayangkan Soniman hampir tua, dia lahir tahun 2014/2015 dengan harga 10 juta dan sekarang 2022. Jadi sudah 7-8 tahun menemani langkahku, dari sekian perjalanan memang si Soniman tidak didedikasikan untuk mencari uang, tapi mencari teman. Dan terjadi, pertemanan berkat Soniman lebih ampuh, maklum saja kamera super canggih pada masanya.  Banyak harapan dengan Ektariawan, di masa tua ini harusnya lebih mapan lagi dengan segala yang ada. Baik psikologis, finansial ataupun hal rohaniah. 

Wayang Cina Jawa (Wayang Thithi)

Bagiku Indonesia adalah hasil perkawinan budaya, semua peradaban besar bercampur menjadi satu. Entah mana dari sel sperma dan mana dari sel ovarium, semuanya menjadi satu membentuk Indonesia. Secara sederhana tanpa banyak analisis, Indonesia merupakan campur aduk budaya terutama dari pusat kebudayaan besar. Austronesia sebagai base culture, kemudian datanglah kebudayaan India dan Tiongkok dalam bentuk agama dan kebudayaan. Selanjutnya menyusul Persia dan Arab yang membawa aroma keislaman dan terakhir datang dari bangsa barat baik dari Belanda, Inggris, Spanyol dan Portugis.  Hasil perkawinan ini cukup mudah ditemukan pada kehidupan sehari-hari bangsa Indonesia, baik yang hidup di ujung barat sampai ke timur. Hasil kawin ini bisa dilihat dari agama, budaya, bahasa dan lain sebagainya. Nah sekarang saya ingin memaparkan pengaruh budaya Tionghoa ke dalam budaya Indonesia. Ini bukan sembarang analisa, melainkan diambil dari buku yang baru saja saya baca. Buku ini berjudul Wayang Cina J...

QSL: Radio Taiwan Internasional - Juli 2022

Poting di blogku kali ini memang seperti kemarau panjang yang tidak meneteskan air mata langit, faktor malas adalah penentu utama dari penyakit ini. Berhubung ada qsl baru yang diterima dari Radio Taiwan Internasional maka wajib hukumnya untuk posting kembali. Dalam satu amplop terdapat dua qsl bundar bergambar pemusik dan ilmuan yang sedang beradu gaya, selain itu ada jereta cepat, benteng atau pintu, dan kereta lainnya. Qsl ini berjudul New Era - New City  yang menampilkan Nangang District, Taipei. Pada halaman belakang masuh sama dengan pendahulunya, tanpa ada perubahan sedikitpun.

Rasa Sejati: Misteri Seks Dunia Kejawen - Suwardi Endraswara

Literasi tentang budaya Jawa kini menjadi titik utama dalam pencarianku, rasanya haus sekali akan budaya sendiri. Seakan-akan kerinduan terhadap jati diri yang telah lama kosong dan hilang. Beberapa judul tentang jawa telah terkumpul, termasuk ajaran seks. Bukan tidak sengaja, saya tertarik sekali akan ajaran seks di dunia Jawa sehingga beberapa buku dibeli untuk dipelajari. Setelah scrolling ratusan kali di Tokopedia, akhirnya saya mendapatkan beberapa buku tentang Jawa dan seks dengan harga murah. Buku yang saya dapatkan original alias asli, namun sudah 'ternodai' oleh pembeli awal. Padat kata saya membeli 'buku janda' alias buku bekas. Buku bekas tersebut dikirim langsung dari Ambon, Maluku. Jauh sekali ya. Saya hanya menambah 5000 rupiah untuk tambahan ongkos kirim. Rasa Sejati - Misteri Seks Dunia Kejawen yang ditulis kleh Suwardi Endraswara diterbitkan pada Maret 2006, buku ini termasuk lawas untuk dunia literasi. Pada umumnya untuk menjadi buku sumber paling tida...

Jenang dan Filosofinya

Artikel ini pernah disiarkan oleh Radio Taiwan Internasional seksi Bahasa Indonesia pada tanggal 12 & 19 September 2022.  Manusia selalu berdampingan dengan makanan, entah itu dalam keadaan suka maupun duka. Dan bahkan sampai pada sebuah kematian makanan selalu disajikan. Beberapa filsuf sering menyebut kaliamat hidup untuk makan, melainkan makan untuk hidup. Berbagai simbol disematkan pada sebuah hidangan makanan, baik pada simbol nasionalisme, keagamaan, dan tentu saja simbol budaya. Hingga pada suatu kesimpulan manusia takkan lepas dari makanan. Berangkat dari cerita Jurnal Maria tentang makanan tradisional pengingat masa kecil, saya sebagai pendengar tertarik untuk mengangkat makanan tradisional dari budayaku sendiri. Makanan ini membuat banyak orang minder untuk membuatnya, sebab apa? Ya makanan ini dibuat dengan penuh ketelitian dan kesabaran. Layaknya seorang Jawa yang katanya penuh kesabaran, ketelatenan dan ketelitian. Begitulah makanan ini dibuat sebagai hadiah bangsa...

Hikayat Kalilah dan Dimnah Terbitan Balai Pustaka

Fabel dari Hindustan ini tak lekang oleh waktu dan wilayah, dari zaman dulu sampai sekarang masih saja dicetak dengan berbagai bahasa. Kali ini saya membeli beberapa versi buku tabel Kalilah dan Dimnah baik versi terjemahan langsung dari bahasa Arab dan penerjemah Eropa. Beruntung beberapa toko daring menyediakan buku-buku lawas termasuk fabel termasyur ini.  Halaman awal pada umumnya diberikan kata pengantar pendek, disusul dengan daftar isi yang berjumlah enam bab. Pada bab akhir terdapat 24 hikayat yang disajikan. Sama seperti terbitan Qisthi Press awal buku ditulis sejarah hikayat Kalilah dan Dimnah, mungkin inilah suatu pesan yang abadi dari penulis dan penerjemah awal  yang menginginkan setiap buku yang diproduksi harus menuliskan riwayatnya mengenai karya ini. Penerjemahan ke dalam bahasa asing diceritakan juga. Bahasa pertama yang menerjemahkan karya ini bukanlah bahasa Persia, melainkan bahasa Tibet. Buku ini juga menceritakan bagaimana Kalipah dan  D...

Khalilah & Dimnah Terbitan Qisthi Press

Keilmuan dunia dari peradaban satu ke peradaban lainnya ibarat estafet obor, dari satu orang ke orang lainnya hingga paling ujung. Begitulah perjalanan sebuah keilmuan. Sebagai contoh obor keilmuan Eropa didapat dari gemilang keilmuan yang menyala di Timur Tengah pada masa kejayaan Islam, dan begitupun mereka yang dari Timur Tengah mendapat obornya dari berbagai sumber seperti Hindustan dan wilayah lainnya. Perkembangan ilmu tidak bisa diklaim oleh sepihak saja, namun berlari untuk menuju kesempurnaan. Begitu pula pada perkembangan dunia sastra, dari peradaban lain diolah dan disempurnakan oleh peradaban lainnya.  Kalillah dan Dimnah salah satu 'estafet obor ' sastra dari Hindustan dan diolah disempurnakan oleh Persia dan dunia sastra Arab. Dari peradaban Arab berkembang menjadi Kalilah dan Dimnah dalam berbagai bahasa dan jelas setiap bahasa dan kawasan menggubahnya untuk disempurnakan sesuai budaya lokal mereka. Pada buku Kalillah & Dimnah versi Qisthi press dibagi dalam ...