Langsung ke konten utama

Trilogi Resital Oleh Ibn Sina

Bisunya Raja Pati

Bisunya Raja Pati

Panyol tak pernah tahu apa pikiran masyarakat desanya, terlalu berlebihan jika memikirkan mereka satu persatu. Tekadnya hanya menguburkan jenazah yang masih ditutup jarik batik motif parang.

Yu, mayit mau dikuburna nang endi?” Suaranya lirih kepada wanita duduk di depan mayit. Lama tak ada jawaban, hening tanpa satu vokal huruf pun yang keluar dari mulut wanita itu. Panyol terdiam kembali tanpa memberikan kata-kata, dia takut melukai hatinya.

Awan berjalan cepat ke arah barat daya hingga bertumpuk-tumpuk menjadi sebuah gumpalan hitam, suasana kampung semakin bisu bagai hutan tanpa kera. Aura mistik selalu muncul saat anak manusia meninggalkan jasadnya, hingga burung koak mencuri tahu siapa yang meninggal. Suara parau koak adalah misteri tersendiri bagi masyarakat kampung Kubangpari, bukan hanya suaranya arah terbangnya pun menjadi tanda. Ya sebuah tanda kematian.

Kematian Dan Tangisan

Kampung masih membisu dan enggan menggerakan apapun, hanya Panyol saja yang mampu bergerak kesana kemari demi seonggok mayat. Dalam setiap geraknya ia mampu menahan ucapan-ucapan yang tidak perlu, ia hanya ingin menjaga perasaan setiap insan. Lima belas pintu sudah diketuk dengan jawaban yang sama “Ngapurani, aku ra bisa” tak ada sama sekali jawaban yang berbeda. Beruntung dua perangkat desa menyediakan diri untuk mengurus semua pemulasaraan.

Suara lirih kembali terucap dengan getaran bibir yang penuh kehati-hatian “Yu nyuwun see, Kang Mukri arep dikubur nang endi? Aku wis duwe batir sing mbantuni”. Kembali tak ada jawaban hanya tangis yang menjadi, dua orang perangkat desa menenangkannya. Raung tangisan kembali mereda di tengah kesenduan pada keluarga Mukri. Wanita tua itu mencoba menggerakan bibirnya untuk sebuah kalimat, hanya terlalu berat untuk sebuah kata dan kembali menangis.

Sebuah keputusan diambil dari kesepakatan anak-anaknya dan tiga orang yang membantu keluarga Mukri. Saran Panyol cukup ampuh untuk mematahkan dua sisi keras dari sebuah pendapat yang berbeda. Baginya jalan tengah adalah jalan utama untuk meredam semua kepentingan termasuk dalam hal ini. Tidak ada pembakaran mayat dan tidak ada ritual apapun, semua berjalan sangat sederhana. Hanya landasan kemanusiaan yang tertancam sebagai pedoman keharmonisan sebuah tatanan sosial.

Tubuh kaku itu hanya dibersihkan dan diganti baju dengan sedikit wewangian. Tubuhnya yang kurus kering tak lebih dari bobot satu karung padi cukup mudah untuk digendong bergantian oleh anaknya dan Panyol, sementara dua orang perangkat desa menggali kuburan. Prosesi penguburan itu seakan jarum detik yang berjalan cepat daripada jarum menit dan jam.

“Yu, siki Kang Mukri wis dikuburna aja nangis bae, sakabeh wong ngerteni, sakabeh wong arep ninggal” Panyol menenangkan janda Mukri yang masih tersedu-sedu. Panyol paham apa yang dirasakan padanya, terlebih Mukri adalah seorang Hindu Jawa tunggal di kampung ini. Anaknya pun tak kuasa dengan prosesi ini, dengan tidak adanya fasilitas pembakaran mayat  begitu pula ketiadaan tokoh agama Hindu Jawa yang memberikan jalan spiritual seakan menjadi sebuah prosesi yang hampa.

Hanya gerak kemanusiaan yang bisa mendamaikan Mukri dalam tidurnya yang lelap. Panyol berdoa dalam setiap geraknya untuk Mukri.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Nama-nama Tai

Sega, beras yang ditanak Apa benar bahasa Jawa itu terlalu 'manut' ke bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris? Tampaknya ada benarnya juga, bahasa Jawa terpengaruh/meminjam banyak kosa kata dari bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris. Kekurangan kosakata dalam bahasa Jawa memang kebanyakan untuk hal-hal seperti teknologi ataupun hal lainnya. Jangan berkecil hati untuk penutur bahasa Jawa di seluruh dunia! Perlu diingatkan bahasa Jawa mempunyai keunikan tersendiri, misalnya saja untuk belajar bahasa Jawa 'satu paket' atau juga keseluruhan dari bahasa kasar/ngoko, bahasa sedang/madya hingga bahasa halus/kromo, sama saja belajar tiga bahasa!! Bayangkan belajar tiga bahasa, apa gak repot ya?! Itulah keistimewaan bahasa Jawa. Bersyukur! Berbagai keistimewaan bahasa Jawa juga terdapat di istilah-istilah yang sangat detail/spesifik pada suatu beda yang mengalami sebuah perubahan sedikit maupun perubahan besar. Misalnya saja untuk rangkaian nama dari sebuah padi/po...

Istilah-istilah Anak dalam Keluarga Jawa

1. Ontang-anting: anak laki-laki/perempuan tanpa saudara (semata wayang). 2. Uger-uger lawang: dua bersaudara anak laki-laki. 3. Kembang sepasang: dua bersaudara anak perempuan. 4. Kendhana-kendhini: dua anak bersaudara, laki-laki yang tua, perempuan yang muda. 5. Kendhini-kandana: dua anak bersaudara, perempuan yang tua, laki-laki yang muda. 6. Pandhawa: Kelima anak berjenis kelamin laki-laki semua. 7. Ngayoni: Kelima anak berjenis kelamin perempuan semua. 8. Madangka: Lima anak bersaudara, empat orang lelaki dan satu perempuan. 9. Apil-apil: lima bersaudara, empat orang lelaki dan satu perempuan. Sumber Serat Centhini II - UGM Press.  

Toponimi - Asal Usul Nama Tempat di Jawa Barat oleh T Bachtiar

Setiap hal mempunyai jalur ilmunya tersendiri termasuk nama tempat. Ilmu mengenai nama tempat disebut juga Toponimi, suatu hal yang baru bagi saya dewasa ini. T Bachtiar membawa saya untuk mengenal lebih lanjut apa itu Toponimi baik dari segi ilmuan, pengetahuan tentang nama-nama tempat di Jawa Barat juga pada hal hal yang sebelumnya ‘gelap’. Mendapatkan buku Toponimi adalah kecelakaan keuangan terindah tahun ini, di mana saya sudah memutuskan ‘sumpah palapa’  untuk tidak membelanjakan uang pada buku-buku baru. Lewat enam bulan tahun 2025 berjalan, buku-buku bertumpuk dalam belasan jilid dengan nilai melebihi 3.000.000 Rupiah Indonesia. Orang bilang kalap, parahnya setelah ‘sumpah palapa’ membeli 3 judul buku lagi diantaranya Toponimi.  Ada keistimewaan tersendiri pada buku yang dibeli kali ini, tanda tangan penulis. Belum pernah saya mendapatkan tanda tangan dari penulisnya langsung. Aaaaaa!!! kegirangan ini meluap melebihi sungai Nil dengan potongan harga sampai Rp 96.500 de...