Langsung ke konten utama

Anak Rusa Mencari Tuhan: Novel Filsafat Khusus Kanak-kanak

Akhir Agustus

Cerita hidupku terasa klise, ada titik itam dan putih. Aneh bagiku dan sisi lainnya merasa inilah sebuah kehidupan adanya hitam dan putih disetiap jiwa manusia. Putih yang mesti dijaga agar selalu bersinar tanpa menyakiti dan hitam yang harus dijaga agar menjadi titik yang kecil. Titik kecil ini akan menjadi besar dikala nafsu dan omongan orang lain yang meraja lela di kalangan masa. 

Semalam titik hitam itu aku lakukan dengan nafsu jahanam yang selalu memanggil, aku paham ini salah. Inilah kelemahan dari pribadi rapuh. Baiklah, hitam dijaga agar tidak membesar.

Pagi hari di Ahad akhir Agustus. Aku bersiap untuk swab test virus Corona. Ini adalah bagian dari hidupku yang cinta pada orang rumah, agar aman dan cinta itu begitu berkembang. Ada sisi lain yang aku harapkan dari tes ini, sisi dimana saya mencintai keluarga, dengan mengetahui kejelasan status kesehatan saya berarti menjamin keberlangsungan hidup keluarga di rumah. Aku sangat terharu dengan Kak Maria Sukamto, seorang penyiar Radio Taiwan Internasional seksi bahasa Indonesia, kekhawatiranya atas kesehatanku sebagai sahabat dan pendengar setia. Aku berharap beliau mendoakan diriku agar selalu sehat dan dapat melayani masyarakat.

Pada pemeriksaan swab ada sisi lain yang aku kurang suka dari teman sekerja. Pertama, tidak adanya rasa hormat kepada orang lain yang sudah mengantri lama. Baju kebesaran menjadi dasar untuk bersombong hati, angkuh dengan antrean yang dianggap sederhana dan remeh. Padahal hal kecil ini yang jadi dasar sikap orang untuk menghargai orang lain. Hal kedua adalah hal soal keramahan yang menjadi langka. Aku tak mau menjadi mereka. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Nama-nama Tai

Sega, beras yang ditanak Apa benar bahasa Jawa itu terlalu 'manut' ke bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris? Tampaknya ada benarnya juga, bahasa Jawa terpengaruh/meminjam banyak kosa kata dari bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris. Kekurangan kosakata dalam bahasa Jawa memang kebanyakan untuk hal-hal seperti teknologi ataupun hal lainnya. Jangan berkecil hati untuk penutur bahasa Jawa di seluruh dunia! Perlu diingatkan bahasa Jawa mempunyai keunikan tersendiri, misalnya saja untuk belajar bahasa Jawa 'satu paket' atau juga keseluruhan dari bahasa kasar/ngoko, bahasa sedang/madya hingga bahasa halus/kromo, sama saja belajar tiga bahasa!! Bayangkan belajar tiga bahasa, apa gak repot ya?! Itulah keistimewaan bahasa Jawa. Bersyukur! Berbagai keistimewaan bahasa Jawa juga terdapat di istilah-istilah yang sangat detail/spesifik pada suatu beda yang mengalami sebuah perubahan sedikit maupun perubahan besar. Misalnya saja untuk rangkaian nama dari sebuah padi/po...

Istilah-istilah Anak dalam Keluarga Jawa

1. Ontang-anting: anak laki-laki/perempuan tanpa saudara (semata wayang). 2. Uger-uger lawang: dua bersaudara anak laki-laki. 3. Kembang sepasang: dua bersaudara anak perempuan. 4. Kendhana-kendhini: dua anak bersaudara, laki-laki yang tua, perempuan yang muda. 5. Kendhini-kandana: dua anak bersaudara, perempuan yang tua, laki-laki yang muda. 6. Pandhawa: Kelima anak berjenis kelamin laki-laki semua. 7. Ngayoni: Kelima anak berjenis kelamin perempuan semua. 8. Madangka: Lima anak bersaudara, empat orang lelaki dan satu perempuan. 9. Apil-apil: lima bersaudara, empat orang lelaki dan satu perempuan. Sumber Serat Centhini II - UGM Press.  

Toponimi - Asal Usul Nama Tempat di Jawa Barat oleh T Bachtiar

Setiap hal mempunyai jalur ilmunya tersendiri termasuk nama tempat. Ilmu mengenai nama tempat disebut juga Toponimi, suatu hal yang baru bagi saya dewasa ini. T Bachtiar membawa saya untuk mengenal lebih lanjut apa itu Toponimi baik dari segi ilmuan, pengetahuan tentang nama-nama tempat di Jawa Barat juga pada hal hal yang sebelumnya ‘gelap’. Mendapatkan buku Toponimi adalah kecelakaan keuangan terindah tahun ini, di mana saya sudah memutuskan ‘sumpah palapa’  untuk tidak membelanjakan uang pada buku-buku baru. Lewat enam bulan tahun 2025 berjalan, buku-buku bertumpuk dalam belasan jilid dengan nilai melebihi 3.000.000 Rupiah Indonesia. Orang bilang kalap, parahnya setelah ‘sumpah palapa’ membeli 3 judul buku lagi diantaranya Toponimi.  Ada keistimewaan tersendiri pada buku yang dibeli kali ini, tanda tangan penulis. Belum pernah saya mendapatkan tanda tangan dari penulisnya langsung. Aaaaaa!!! kegirangan ini meluap melebihi sungai Nil dengan potongan harga sampai Rp 96.500 de...