Langsung ke konten utama

Kisah 1001 Malam Jilid I

Sebelum Makan

Hutan Wakakak menyimpan sejuta kehidupan makhluk hidup, hewan liar beranak pinak dari generasi ke generasi. Hijaunya dedaunan membuat kelimpahan bahan makanan, setiap hewan mempunyai mangsanya sendiri. Termasuk si itik, musang dan burung elang.

Dalam perjalanan iringan itik terlihat santai dan membuat perut musang terasa keroncongan, rasa lapar menikam setiap sudut dalam lambung dan usus. Begitupun sang elang melihat kedua jenis hewan itu. Sorotan mata tajam dan semakin liar seiring perut yang mulai kosong.

Seketika musang mencegat itik dengan kasarnya akan memangsa anak-anak itik. 

Itik: "Tolong kasihinlah hamba tuan, hamba hanya ingin hidup dan bahagia bersama anak-anak hamba".

Musang: "Tidak ada kasihan di sini, apa guna kamu memelas! Semua tiada guna!"

Itik: "Tolonglah hamba, lihatlah anak-anakku baru berumur tujuh hari. Janganlah mangsa anak-anakku, aku sangat mencintainya. Apakah tuan tidak mempunyai rasa kasihan pada anak-anak? Dimana hati nurani tuan?"

Musang: "Aku sendiri mencintai anak-anakku dan mereka sedang lapar sekarang".

Itik: "Tuan dimana nurani tuan sekarang?"

Musang: "Apa hal soal nurani?"

Itik: "Cinta kasih adalah bentuk suatu rasa dari nurani yang datang langsung dari Tuhan. Apa tuan tidak malu pada Tuhan, padahal tuan sendiri dikenal dengan ahli ibadah".

Musang: "Hai itik perutku dan anak-anakku tidaklah bisa diisi dengan sayuran dan kau perlu tahu bahwa Tuhan menciptakan mahluknya untuk sesuatu yang tidak dapat dimengerti. Apa kamu tahu maksud semua ini?!"

Keak...keak...keak.... Burung elang terbang membentuk lingkaran di atas mereka dengan mata tajam untuk seonggok daging.

Cerita ini saya persembahkan untuk orang yang perlu disemangati hingga akhirnya nanti. 21:49 - Pamarican 1 Agustus 2020.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Review Sepatu Gunung SNTA

Sepatu SNTA Jika dirunut waktu kira-kira sudah menginjak usia tiga tahun sepatu gunung merek SNTA yang ku beli dari teman satu perusahaan sewaktu masih menjadi kuli di Jakarta Raya. Saya membeli sepatu SNTA bukanlah sebuah pilihan dari hati ataupun penalaran akal, melainkan sebuah pilihan terpaksa dari sebuah ketidaktahuan yang mendalam pada peralatan out door . Bisa dikatakan aku hanya manut saran dari temanku yang sekaligus menjadi penjual dari sepatu yang ku beli.  Berawal dari niat mendaki gunung Semeru pada tahun 2016 lalu, semua tuntutan peralatan out door harus dilunasi oleh sejumlah lembaran merah biru dari dalam dompet. Sepatu gunung, jaket gunung, tongkat, sarung tangan, keril dan sejumlah aksesorir terbayar lunas tanpa berpikir merek, warna, jenis barang. Yang tergambar dalam otakku hanyalah sebuah kepemilikan saja dan berangkat mendaki.  Tidak salah pilihan dari temanku ini membawa manfaat andalan dari merek sepatu SNTA yang saya rasakan dari awal ...

Nama-nama Tai

Sega, beras yang ditanak Apa benar bahasa Jawa itu terlalu 'manut' ke bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris? Tampaknya ada benarnya juga, bahasa Jawa terpengaruh/meminjam banyak kosa kata dari bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris. Kekurangan kosakata dalam bahasa Jawa memang kebanyakan untuk hal-hal seperti teknologi ataupun hal lainnya. Jangan berkecil hati untuk penutur bahasa Jawa di seluruh dunia! Perlu diingatkan bahasa Jawa mempunyai keunikan tersendiri, misalnya saja untuk belajar bahasa Jawa 'satu paket' atau juga keseluruhan dari bahasa kasar/ngoko, bahasa sedang/madya hingga bahasa halus/kromo, sama saja belajar tiga bahasa!! Bayangkan belajar tiga bahasa, apa gak repot ya?! Itulah keistimewaan bahasa Jawa. Bersyukur! Berbagai keistimewaan bahasa Jawa juga terdapat di istilah-istilah yang sangat detail/spesifik pada suatu beda yang mengalami sebuah perubahan sedikit maupun perubahan besar. Misalnya saja untuk rangkaian nama dari sebuah padi/po...

Istilah-istilah Anak dalam Keluarga Jawa

1. Ontang-anting: anak laki-laki/perempuan tanpa saudara (semata wayang). 2. Uger-uger lawang: dua bersaudara anak laki-laki. 3. Kembang sepasang: dua bersaudara anak perempuan. 4. Kendhana-kendhini: dua anak bersaudara, laki-laki yang tua, perempuan yang muda. 5. Kendhini-kandana: dua anak bersaudara, perempuan yang tua, laki-laki yang muda. 6. Pandhawa: Kelima anak berjenis kelamin laki-laki semua. 7. Ngayoni: Kelima anak berjenis kelamin perempuan semua. 8. Madangka: Lima anak bersaudara, empat orang lelaki dan satu perempuan. 9. Apil-apil: lima bersaudara, empat orang lelaki dan satu perempuan. Sumber Serat Centhini II - UGM Press.