Berbagai cerita birahi telah terbaca pada jilid yang lalu, mulai dari sebuah perselingkuhan, homoseksualitas, insest dan juga bestiality (seks dengan hewan) menjadi puncak segala hal perkara duniawi. Lembar demi lembar halaman terlewati dengan cerita-cerita menakjubkan hingga akhirnya masuk pada halaman 600 menjelang akhir sebuah buku. Setelah lelah dengan keduniawian Shahrazad menceritakan berbagai kisah spiritual, mukjizat-mukjizat para perindu Allah pada jilid kali ini.
Diawali dengan kisah malaikat maut yang menjemput ajal dari para raja dan perindu-Nya. Hikmah yang tampak lebih sederhana, namun kematian adalah hal yang pasti dan tidak ada tawaran apapun. Dikisahkan segala sifat raja yang menawar waktu, kesempatan dan juga menawarkan hal lainnya untuk memperpanjang masa pencabutan nyawa. Namun semuanya itu tertolak. Berbeda dengan kisah kekasih Allah yang ditawarkan segala kemudahan untuk menghadapi maut, saking cintanya pada Allah. Tawaran perpanjangan umur ditolak karena kerinduan untuk bersatu dengan-Nya.
"Selamat datang, wahai Malaikat Maut. Segala puji hanya milik Allah. Aku sudah menunggu-nunggu kedatanganmu. Penantianku ini sudah terlalu lama," ucap si lelaki shalih dengan perasaan gembira.
"Kalau engkau masih punya urusan lain, selesaikanlah terlebih dahulu," tukas Malaikat Maut memberi kesempatan.
"Aku tak punya urusan lain lagi yang lebih penting daripada pertemuanku dengan Tuhanku yang Maha Agung lagi Maha Besar."
Para pembaca sekalian masih ingat petualangan Jumanji atau Narnia, boleh disamakan untuk cerita pada jilid ini ada dua hikayat yang menyajikan berbagai petualangan. Baik dalam kehidupan di bumi, maupun kehidupan di kalangan jin, iblis dan malaikat. Berbagai petualangan tidak masuk akal akan merasuk ke alam pikiran anda sekalian. Ada juga cerita yang mirip dengan Jaka Tarub, namun yang dinikahi dan diambil 'bajunya' agar tidak bisa terbang adalah turunan jin Islam.
Cicin Sulaiman adalah kunci dari sebuah cerita, berbagai mukjizat, keanehan-keanehan dan berbagai kisah yang menyangkut perkara jin, percintaan, harta dan takhta selalu ada. Ada suatu kutipan pada kisah ratu ular dan Hasib Karimuddin:
"Meskipun engkau berjanji dan bersumpah dengan menyebut nama Tuhan seribu kali, aku tidak akan pernah percaya kepadamu. Sebab, engkau pasti akan mengingkari janjimu. Perlu engkau ingat bahwa dirimu itu adalah anak keturunan Nabi Adam, sehingga engkau tak akan pernah kuat memegang janji. Bapakmu, Nabi Adam, dahulu juga pernah berjanji kepada Allah, tetapi ia akhirnya melanggar sendiri janjinya. Bahkan, meskipun Allah telah menciptakannya dengan sebaik-baik rupa dan memerintahkan para malaikat untuk sujud kepadanya, ia tetap saja melanggar janjinya kepada Allah".
Dari kutipan tersebut saya mengingat kembali betapa besar godaan pada manusia saat memegang janji, bahkan bangsa jin, malaikat dan iblis pun masih mengingat betapa tergesa-gesanya manusia dan betapa lemahnya manusia dalam mengangkat janji.
Sinbad Si Pelaut merupakan salah satu cerita populer, bahkan. Hollywood juga membuat versi kartunnya. Dalam perfilman Hollywood diberi judul Sinbad The Legend of Seven Seas. Persis dengan yang diceritakan pada 1001 Malam Jilid ke-5 ini bahwa Sinbad berpetualang ke tujuh samudera. Berbagai cerita bergulir tiap keberangkatannya berlayar mengarungi samudera. Berbagai cerita menakutkan nan menakjubkan menghiasi hingga laut ke-tujuh. Hal yang paling saya kagumi dari semuanya adalah selalu mengucapkan lahaula walakuata ilahi billah. Ucapan tersebut menjadi mantra mujarab setiap hal yang mengancam, hingga tangan Tuhan menyelamatkan Sinbad.
Saban perjalanan dari Sinbad mempunyai cerita tersendiri, selalu ada saja keselamatan padanya. Saya tertarik sekali pada cerita ke-4 di mana Sinbad terdampar di sebuah pulau dan diterima oleh raja. Kehidupan awal Sinbad terlalu bahagia, berbagai hadiah diterimanya baik oleh Raja maupun temannya. Yang paling unik adalah Sinbad transfer ilmu cara membuat pelana kuda yang sebelumnya tidak pernah ada dalam kehidupan mereka sehari-hari. Saking senangnya ada penemuan pelana kuda sang raja memberikan banyak hadiah, juga banyak menteri-menteri dan saudagar kaya menyuruh Sinbad untuk membuat pelana kuda. Malang Sinbad terikat aturan tradisi Pulau tersebut, walaupun dia termasuk golongan orang asing. Hukum adalah hukum menurut raja, jadi setiap salah satu pasangan meninggal dunia maka akan dikuburkan bersama. Dan saat istri Sinbad meninggal, dia pun ikut dimakamkan. Lagi-lagi Sinbad mendapatkan keberuntungan hingga akhirnya dia lolos dari maut dalam gua pekuburan. Tak mau meninggalkan kesempatan Sinbad membawa semua harta, permata, kain, emas dll yang dipakai oleh mayat-mayat yang dikubur.
Buku ini tidaklah sempurna, beberapa halaman terdapat salah ketik, tapi jarang sekali ditemukan. Sehingga tidak mengganggu jalannya cerita. Dari segi bahasapun penerjemah menggunakan bahasa kerjaan layaknya cerita rakyat dalam bahasa Indonesia, juga membawa modernitas dunia walaupun saat itu belum ada teknologi pendeteksi kehamilan. Semisal "Sang permaisuri akhirnya positif hamil" kata positif hamil merujuk pada alat deteksi kehamilan. Walaupun terdapat kata modern tersebut tidak menghalangi keindahan cerita 1001 Malam.
Judul asli: Alfu Lailah wa Lailah
Terbitan: Beirut: Maktabah asy-Syabiah
Penyusun: Abu Abdullah Muhammad al-Jihsiyari
Penerjemah: Muhammad Halabi
Penyunting: Muhammad Ali Fakih
Cetakan: Pertama, April 2019
Dimensi: 588 hlmn; 15.5x24 cm
ISBN Jilid lengkap: 978-602-391-575-0
ISBN: 978-602-391-580-4
Penerbit: Diva Press Yogyakarta
Komentar