Sampai ke jilid ke-6 mempunyai upaya yang tak mudah, dengan segala kerelaan waktu, pikiran dan semangat merupakan kunci. Halaman hingga halaman terakhir menjadi bukti nyata untuk menyelam penuh ketakjuban dari 1001 Malam haruslah ber-effort. Merupakan jilid tertebal ke-3 dari serangkaian Kisah 1001 Malam yang berjumlah 8 jilid.
Jilid ke-6 diawali dari sambungan cerita perihal tipu daya perempuan, hikayat ini bermula di akhir jilid ke-5 dimana banyak tipuan dari permaisuri raja untuk membunuh atau menghukum mati putra mahkota. Berbagai cara tipuan telah diutarakan oleh permaisuri baik melalui kisah yang diceritakan ataupun rayuan mautnya, namun semua dipatahkan oleh sang wazir dengan segala cerita pendukung agar hukuman mati pada putra mahkota gagal.
Walaupun masuk dalam bab Hikayat Tipu Daya Perempuan, tidak sepenuhnya cerita tentang kelicikan perempuan. Pada bab ini sebenarnya adu cerita kelicikan antara perempuan dan laki-laki, hanya saja judul lebih menyudutkan perempuan. Mungkin saja saat itu banyak permaisuri yang menyeleweng dengan para budak negro ataupun para menteri lainnya. Judulnya memang mengarah pada penyudutan kaum perempuan, sangat disayangkan.
Beberapa banyak kisah menarik dan menguncang rasa nurani, rasanya ingin misuh-misuh karena kelakuan saudara yang tamak kepada saudara bungsunya. Cerita itu berjudul Jaudar & Kedua Kakaknya, kisah ini mengenai dua saudara yang sangat tamak. Menghabiskan harta warisan orang tua dan menghabisi harta ibu juga menghabiskan harta adik bungsunya. Suatu ketika Jaudar (si bungsu) mendapat banyak ikan dari laut, danau dan ssungai atas usahanya menjadi nelayan. Hari demi hari rejekinya selalu bertambah hingga kedua kakaknya datang untuk meminta bantuan. Dengan setulus hati Jaudar memberikan nafkah berupa makan bersama dengan kedua kakaknya juga ibunya. Saban hari Jaudar menafkahi 3 orang sehingga harta yang dimilikinya habis dan hutangnya bertumpuk tumpuk menjadi gunung. Singkat cerita Jaudar bertemu saudara Maroko yang memberikan 100 Dinar lebih atas jasanya yang menenggelamkan saudagar-saudagar Maroko.
Setelah harta itu habis dan menjadi gelandangan Salim dan Sulaim kembali ke rumah Jaudar untuk meminta bantuan, terlebih membujuk ibunya. Hal ini berulang kali terjadi, namun orang tua dan Jaudar selalu menerimanya. Hingga suatu ketika Jaudar mendapatkan keranjang berisi jin Khadam yang bisa membantu manusia, hadiah dari saudagar Maroko. Cerita berakhir saat Jaudar menjadi raja dan diracun oleh kakaknya yang tamak. Sungguh hikayat ini membuat saya kesal, kenapa dua saudaranya terlalu tamak begitu pula ibunya yang terlalu bodoh untuk memberikan cintanya pada anaknya yang biadab.
Kekesalan saya sebagai seorang pembaca tidak hanyaa sampai pada hikayat Jaudar melainkan pada cerita Dalillah si penipu ulung. Berulang-ulang kali Dalillah menipu dengan berbagai intrik, cara unik, dan hal yang paling gila. Jelas cerita ini berkali-kali membuat saya muak dan kesal akan trik penipuan. Walaupun akhirnya sang Khalifah memberikan pekerjaan dan jaminan pada Dalillah, tak hanya sampai di situ cerita perkara penipuan ini juga terus berlanjut.
Judul asli: Alfu Lailah wa Lailah
Terbitan: Beirut: Maktabah asy-Syabiah
Penyusun: Abu Abdullah Muhammad al-Jihsiyari
Penerjemah: Muhammad Halabi
Penyunting: Muhammad Ali Fakih
Cetakan: Pertama, Agustus 2019
Dimensi: 604 hlmn; 15.5x24 cm
ISBN Jilid lengkap: 978-602-391-575-0
ISBN: 978-602-391-581-1
Penerbit: Diva Press Yogyakarta
Komentar