Langsung ke konten utama

Review Mie Gaga 100 Extra Pedas Kuah Habanero Level 7

Review Mie Gaga 100 Extra Pedas Kuah Habanero Level 7

Kegemaran terhadap mie instan tidak hilang begitu saja, entah atas alasan apapun. Jika masih aman untuk tubuh dan tubuh tidak menolak, siapa takut! Sikat sampe habis. Kali ini saya mencoba mie instan dari produk Gaga yang konon pecahan sebelum adanya Indomie. Mungkin saudara tiri atau saudara yang gak mau dianggap lagi, secara kualitas mie seperti emang gak beda jauh ketimbang produk dari Wings. Gaga menyediakan dan memproduksi banyak jenis mie instan, termasuk series pedasnya. Beberapa level pernah saya coba di tahun sebelumnya baik berupa mie goreng maupun mie kuah.

Packing dan Isi
Didominasi warna hitam dan hijau baik di depan maupun belakang kemasan. Hijau sebagai pertanda pedasnya di kecil Habanero dan hitam sebagai tanda hal yang serius dann menyeramkan. Dalam kemasan terdapat empat bahasa yang digunakan yakni Bahasa inggris, Inggris, Tionghoa dan Arab. Banyaknya penggunaan bahasa kemungkinan mie instan ini masuk ke pasar mancanegara. Series Habanero mempunyai takaran saji 50 gram dengan jumlah kalori 220 kkal dan Natrium 1370 mg. 

Ada tiga bumbu tersedia: bubuk bumbu berwarna hijau muda, minyak pedas berwarna kuning kehitaman dan sambal hijau dari Habanero. 

Cara Pembuatan dan Rasa
Seperti pada umumnya memasak mie instan Gaga 100 Series Habanero Level 7 dimasak menggunakan air panas selama 3 menit. Tuangkan bumbu, sambal dan minyak ke dalam mangkuk dan masukan mie berserta kuahnya. Aduk merata dan sajikan.

Dari segi rasa bagiku tidak terlalu membuat pusing karena kelebihan micin, rasa gurih cukup memuaskan. Kandungan garam yang cukup banyak membuat lidah dan alat pencernaan serasa tersedot sehingga menimbulkan rasa haus dan kering. Adalah hal yang jamak untuk sebuah mie instan dengan beberapa gram natrium. Tekstur mie kenyal dan mirip seperti Indomie, sangat beda dengan produk Wings seperti sebelumnya saya katakan. Kuah yang cenderung kehijauan dari bumbu dan minyak yang berwarna hijau, merupakan tanda hijau dari cabe Habanero. Bagiku rasa dari varian ini seperti rasa sambel ijo di restauran masakan Minangkabau alias Padang. Sambel ijo yang menggoda ditambah rasa gurih yang tepat membuat lidah bergoyang melebihi Inul Daratista. 

Awal dikunyah dan diseruput rasa pedas belum terasa cenderung rasa panas dari kuah yang mengawali menempel pada bibir dan lidah. Waktu berlanjut hingga menit menit selanjutnya bibir terasa pedas oleh kandungan capcaisin Habanero. Menurut keterangan masuk katagori level 7, namun lidahku masih merasa level 4 atau 5. Belum terbakar. Rasa terbakar di bibir hilang dengan waktu yang telah terbuang bersama kuah yang habis, kini giliran perut. Perut masih tahap aman, rasa mules atau panas pedas dari cabe tidak terasa seperti mie instan pedas lainnya. Walaupun level 7 rasa pedas di lidah, bibir dan perut masih bisa teratasi. Entahlah kalau saat di WC nanti, apakah 'si matahari' terasa terik panas membara atau tidak.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Review Sepatu Gunung SNTA

Sepatu SNTA Jika dirunut waktu kira-kira sudah menginjak usia tiga tahun sepatu gunung merek SNTA yang ku beli dari teman satu perusahaan sewaktu masih menjadi kuli di Jakarta Raya. Saya membeli sepatu SNTA bukanlah sebuah pilihan dari hati ataupun penalaran akal, melainkan sebuah pilihan terpaksa dari sebuah ketidaktahuan yang mendalam pada peralatan out door . Bisa dikatakan aku hanya manut saran dari temanku yang sekaligus menjadi penjual dari sepatu yang ku beli.  Berawal dari niat mendaki gunung Semeru pada tahun 2016 lalu, semua tuntutan peralatan out door harus dilunasi oleh sejumlah lembaran merah biru dari dalam dompet. Sepatu gunung, jaket gunung, tongkat, sarung tangan, keril dan sejumlah aksesorir terbayar lunas tanpa berpikir merek, warna, jenis barang. Yang tergambar dalam otakku hanyalah sebuah kepemilikan saja dan berangkat mendaki.  Tidak salah pilihan dari temanku ini membawa manfaat andalan dari merek sepatu SNTA yang saya rasakan dari awal ...

Nama-nama Tai

Sega, beras yang ditanak Apa benar bahasa Jawa itu terlalu 'manut' ke bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris? Tampaknya ada benarnya juga, bahasa Jawa terpengaruh/meminjam banyak kosa kata dari bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris. Kekurangan kosakata dalam bahasa Jawa memang kebanyakan untuk hal-hal seperti teknologi ataupun hal lainnya. Jangan berkecil hati untuk penutur bahasa Jawa di seluruh dunia! Perlu diingatkan bahasa Jawa mempunyai keunikan tersendiri, misalnya saja untuk belajar bahasa Jawa 'satu paket' atau juga keseluruhan dari bahasa kasar/ngoko, bahasa sedang/madya hingga bahasa halus/kromo, sama saja belajar tiga bahasa!! Bayangkan belajar tiga bahasa, apa gak repot ya?! Itulah keistimewaan bahasa Jawa. Bersyukur! Berbagai keistimewaan bahasa Jawa juga terdapat di istilah-istilah yang sangat detail/spesifik pada suatu beda yang mengalami sebuah perubahan sedikit maupun perubahan besar. Misalnya saja untuk rangkaian nama dari sebuah padi/po...

Istilah-istilah Anak dalam Keluarga Jawa

1. Ontang-anting: anak laki-laki/perempuan tanpa saudara (semata wayang). 2. Uger-uger lawang: dua bersaudara anak laki-laki. 3. Kembang sepasang: dua bersaudara anak perempuan. 4. Kendhana-kendhini: dua anak bersaudara, laki-laki yang tua, perempuan yang muda. 5. Kendhini-kandana: dua anak bersaudara, perempuan yang tua, laki-laki yang muda. 6. Pandhawa: Kelima anak berjenis kelamin laki-laki semua. 7. Ngayoni: Kelima anak berjenis kelamin perempuan semua. 8. Madangka: Lima anak bersaudara, empat orang lelaki dan satu perempuan. 9. Apil-apil: lima bersaudara, empat orang lelaki dan satu perempuan. Sumber Serat Centhini II - UGM Press.