Langsung ke konten utama

Kisah 1001 Malam Jilid I

Dalam Rumah Bambu

Sederhana, begitulah setiap orang bisa menyebutkan keadaan dirinya yang tinggal di sebuah gubug bambu. Gubug yang dijadikan sebuah tempat tinggal sehari - hari ini sudah membuat beribu eksemplar cerita dalam kehidupan. Ya saya termasuk aktor dalam gubug bambu itu. Setiap penghuni mempunyai versi cerita masing-masing yang jelas tiap paragraf kehidupan akan menarik bila disajikan kalau pun tidak disajikan akan indah dalam setiap sanubari sang empunya cerita.

Bahasan kali ini adalah hal yang terjadi dalam kehidupan sehari - hari saya yang tinggal di gubug bambu. Baiklah saya mulai dengan perkenalan awal kehidupan dengan suka duka di rumah bambu ini. Semoga tulisan ini menghibur anda sekalian.

Dinding Bambu
Rumah bambu saya memang benar-benar dibangun dengan sebagian bahan dari bambu terutama dindingnya jadi memang tidak seratus persen dari bambu hanya saya bahan lainnya dari kayu - kayu kuat macam kayu jati. Rumah ini sudah berdiri lama sebelum saya lahir dan sudah mengalami perbaikan dua kali saja. Tidak ada satupun bahan lain selain kayu di rumah sederhana ini. Karena bahan dari alam jadi tidak ada penghalang yang kuat untuk segala jenis suara. Jadi suara denting jam pun terdengar jelas saat malam hari. Baiklah saya bawa anda ke kehidupan saya yang lebih dalam lagi.

Suara - suara
Rumah bambu tentu saja tidak ada penghalang suara yang berarti jadi maklum saja ya jika Anda menjadi tamu di rumah saya. Menjadi tamu di rumah saya siap - siap kaget dengan banyak suara yang muncul saat malam hari. Heningnya malam membuat suara lebih jelas terdengar daripada siang hari. Karena saking sepinya saat malam hari suara igauan dari anggota keluarga pun terdengar jelas. Jadi kadang saya malu kalau pagi-pagi diceritakan sama ibu atau kakak yang mendengar suara saya saat mengigau. Bunyi toke pun tak kalah mengagetkan para tamu. Tapi bagi saya suara yang menyebalkan yakni suara desahan - desahan dari aktivitas kebutuhan dasar manusia yang mesti dilakukan oleh seorang yang sudah menikah. Suara ini lah yang membuat saya risih. Tapi apa daya, saya masih satu rumah yang mau tidak mau kuping saya harus mendengarkanya.
Rumah Bambu

Angin
Kipas angin atau pun pendingin ruangan tidak ada di rumah saya ini. Cukup dengan hembusan angin segar dari belakang rumah (sawah) sudah membuat semua ruangan segar. Hanya sewaktu saja hawa di dalam ruangan menjadi panas atau sangat dingin misalnya saat musim kemarau dimana saat malam dan pagi hari terasa dingin sekali dan di siang hari sangat panas. Udara segar adalah persembahan utama di rumah saya tapi jangan salahkan kami saat Anda mendapatkan bau yang khas misalnya dari pembakaran jerami, bau khas jerami busuk dan bau khas tanah gembur sawah. Yang paling saya suka yakni saat dimana padi mulai berbunga rasanya udara terasa segar dan beraroma khas.


Cahaya
Tidak perlu repot - repot untuk membangunkan saya ataupun yang lainnya karena banyak cahaya yang masuk ke rumah melalui celah dinding bambu. Jadi jangan khawatir anda akan bangun pagi lebih awal dari biasanya. Kemungkinan bangun awal mungkin lebih besar dari pada biasanya.

Demikian sedikit dari keadaan saya di rumah gubug.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Review Sepatu Gunung SNTA

Sepatu SNTA Jika dirunut waktu kira-kira sudah menginjak usia tiga tahun sepatu gunung merek SNTA yang ku beli dari teman satu perusahaan sewaktu masih menjadi kuli di Jakarta Raya. Saya membeli sepatu SNTA bukanlah sebuah pilihan dari hati ataupun penalaran akal, melainkan sebuah pilihan terpaksa dari sebuah ketidaktahuan yang mendalam pada peralatan out door . Bisa dikatakan aku hanya manut saran dari temanku yang sekaligus menjadi penjual dari sepatu yang ku beli.  Berawal dari niat mendaki gunung Semeru pada tahun 2016 lalu, semua tuntutan peralatan out door harus dilunasi oleh sejumlah lembaran merah biru dari dalam dompet. Sepatu gunung, jaket gunung, tongkat, sarung tangan, keril dan sejumlah aksesorir terbayar lunas tanpa berpikir merek, warna, jenis barang. Yang tergambar dalam otakku hanyalah sebuah kepemilikan saja dan berangkat mendaki.  Tidak salah pilihan dari temanku ini membawa manfaat andalan dari merek sepatu SNTA yang saya rasakan dari awal ...

Nama-nama Tai

Sega, beras yang ditanak Apa benar bahasa Jawa itu terlalu 'manut' ke bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris? Tampaknya ada benarnya juga, bahasa Jawa terpengaruh/meminjam banyak kosa kata dari bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris. Kekurangan kosakata dalam bahasa Jawa memang kebanyakan untuk hal-hal seperti teknologi ataupun hal lainnya. Jangan berkecil hati untuk penutur bahasa Jawa di seluruh dunia! Perlu diingatkan bahasa Jawa mempunyai keunikan tersendiri, misalnya saja untuk belajar bahasa Jawa 'satu paket' atau juga keseluruhan dari bahasa kasar/ngoko, bahasa sedang/madya hingga bahasa halus/kromo, sama saja belajar tiga bahasa!! Bayangkan belajar tiga bahasa, apa gak repot ya?! Itulah keistimewaan bahasa Jawa. Bersyukur! Berbagai keistimewaan bahasa Jawa juga terdapat di istilah-istilah yang sangat detail/spesifik pada suatu beda yang mengalami sebuah perubahan sedikit maupun perubahan besar. Misalnya saja untuk rangkaian nama dari sebuah padi/po...

Istilah-istilah Anak dalam Keluarga Jawa

1. Ontang-anting: anak laki-laki/perempuan tanpa saudara (semata wayang). 2. Uger-uger lawang: dua bersaudara anak laki-laki. 3. Kembang sepasang: dua bersaudara anak perempuan. 4. Kendhana-kendhini: dua anak bersaudara, laki-laki yang tua, perempuan yang muda. 5. Kendhini-kandana: dua anak bersaudara, perempuan yang tua, laki-laki yang muda. 6. Pandhawa: Kelima anak berjenis kelamin laki-laki semua. 7. Ngayoni: Kelima anak berjenis kelamin perempuan semua. 8. Madangka: Lima anak bersaudara, empat orang lelaki dan satu perempuan. 9. Apil-apil: lima bersaudara, empat orang lelaki dan satu perempuan. Sumber Serat Centhini II - UGM Press.