Langsung ke konten utama

Kisah 1001 Malam Jilid I

Tukang Pande Besi Hari Ini

Tukang Pande Besi Di Ciawitali

Pernah dengar kata empu? Apa belum tahu artinya dari empu? Mungkin orang sekarang lebih tahu kata empu untuk sebuah gelar klasik untuk orang-orang berpengaruh dalam kerajaan di Nusantara atau Jawa. Empu merupakan sebuah kata homonim yang berarti gelar klasik yang berarti tuan, misalnya Empu Prapanca. Sementara arti kedua ialah sebutan untuk seseorang yang ahli terutama orang ahli membuat keris atau perkakas. Sebenarnya hari ini bukan si pembuat keris yang saya akan bahas tetapi si tukang pande besi yang masih kakak beradik dengan si Empu.

Sehari yang lalu saya tak sengaja menemukan tukang pande besi yang masih eksis dalam mengerjakan pekerjaannya. Kenapa diangkat ke tulisan ini? Bagiku, tukang pande besi merupakan pekerjaan istimewa yang keberadaanya cukup terancam atau bahkan mulai punah.

Mungkin saya akan jelaskan pengertian daripada pande besi, saya pikir anak muda hari ini jarang tahu soal pekerjaan ini. Pande besi merupakan sebuah pekerjaan dalam membuat perkakas pertanian dengan bahan besi. Tukang pande sendiri tidak mempunyai teknologi modern, namun peralatan tradisional yang sangat sederhana misalnya alat pompa kompor tradisional yang gunanya membarakan api untuk membakar besi/bahan; palu besar untuk membentuk bahan sesuai pesanan dan peralatan lainnya.



Saat saya masih kecil paling tidak satu dusun atau desa mempunyai satu orang tukang pande. Maklum pada zaman dulu jarang sekali pisau, pacul dan perkakas dari besi yang di-impor oleh pemerintah. Jadi hampir semua perkakas itu dibuat sendiri. Di komplek rumahku dan merupakan bapak dari teman kakaku adalah seorang tukang pande. Tiap harinya membuat perkakas yang berbahan besi. 

Minggu kemarin tak sengaja saya menemukan kembali seorang tukang pande yang masih eksis dalam melayani pelanggannya. Tukang pande yang saya temukan di bantaran sungai Ciseel, pasar Ciawitali. Tukang pande ini terdiri dari dua orang, seorang berfungsi sebagai pemompa dan satu seorang pembakar besi/bahan. 

Rumah pande ini tidak banyak orang yang datang menunggu pesanannya jadi. Lima orang lelaki mengantri, sambil menikmati setiap aksi-aksi tukang pande. Memori masa kecilku terbang melintas tahun-tahun yang berlalu hingga tahun dimana tukang pande mengalami kejayaan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Review Sepatu Gunung SNTA

Sepatu SNTA Jika dirunut waktu kira-kira sudah menginjak usia tiga tahun sepatu gunung merek SNTA yang ku beli dari teman satu perusahaan sewaktu masih menjadi kuli di Jakarta Raya. Saya membeli sepatu SNTA bukanlah sebuah pilihan dari hati ataupun penalaran akal, melainkan sebuah pilihan terpaksa dari sebuah ketidaktahuan yang mendalam pada peralatan out door . Bisa dikatakan aku hanya manut saran dari temanku yang sekaligus menjadi penjual dari sepatu yang ku beli.  Berawal dari niat mendaki gunung Semeru pada tahun 2016 lalu, semua tuntutan peralatan out door harus dilunasi oleh sejumlah lembaran merah biru dari dalam dompet. Sepatu gunung, jaket gunung, tongkat, sarung tangan, keril dan sejumlah aksesorir terbayar lunas tanpa berpikir merek, warna, jenis barang. Yang tergambar dalam otakku hanyalah sebuah kepemilikan saja dan berangkat mendaki.  Tidak salah pilihan dari temanku ini membawa manfaat andalan dari merek sepatu SNTA yang saya rasakan dari awal ...

Nama-nama Tai

Sega, beras yang ditanak Apa benar bahasa Jawa itu terlalu 'manut' ke bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris? Tampaknya ada benarnya juga, bahasa Jawa terpengaruh/meminjam banyak kosa kata dari bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris. Kekurangan kosakata dalam bahasa Jawa memang kebanyakan untuk hal-hal seperti teknologi ataupun hal lainnya. Jangan berkecil hati untuk penutur bahasa Jawa di seluruh dunia! Perlu diingatkan bahasa Jawa mempunyai keunikan tersendiri, misalnya saja untuk belajar bahasa Jawa 'satu paket' atau juga keseluruhan dari bahasa kasar/ngoko, bahasa sedang/madya hingga bahasa halus/kromo, sama saja belajar tiga bahasa!! Bayangkan belajar tiga bahasa, apa gak repot ya?! Itulah keistimewaan bahasa Jawa. Bersyukur! Berbagai keistimewaan bahasa Jawa juga terdapat di istilah-istilah yang sangat detail/spesifik pada suatu beda yang mengalami sebuah perubahan sedikit maupun perubahan besar. Misalnya saja untuk rangkaian nama dari sebuah padi/po...

Istilah-istilah Anak dalam Keluarga Jawa

1. Ontang-anting: anak laki-laki/perempuan tanpa saudara (semata wayang). 2. Uger-uger lawang: dua bersaudara anak laki-laki. 3. Kembang sepasang: dua bersaudara anak perempuan. 4. Kendhana-kendhini: dua anak bersaudara, laki-laki yang tua, perempuan yang muda. 5. Kendhini-kandana: dua anak bersaudara, perempuan yang tua, laki-laki yang muda. 6. Pandhawa: Kelima anak berjenis kelamin laki-laki semua. 7. Ngayoni: Kelima anak berjenis kelamin perempuan semua. 8. Madangka: Lima anak bersaudara, empat orang lelaki dan satu perempuan. 9. Apil-apil: lima bersaudara, empat orang lelaki dan satu perempuan. Sumber Serat Centhini II - UGM Press.