Langsung ke konten utama

Trilogi Resital Oleh Ibn Sina

Review Mie Instan TipTop Rasa Ayam Bawang

Bungkus Tip Top Rasa Ayam Bawang

Hajatan sepupu kemarin merupakan nostalgia rasa untuk lidahku. Terutama makanan ringan khas Sunda seperti wajik, renginang, sambel khas Sunda dan yang lainnya. Sepulangnya dari undangan hajatan saya diberi oleh-oleh yang di dalamnya terdapat satu teh botol, satu wafer dan satu mie instan. Lumayan lah buat makan sore nanti! Eh tapi ada yang tidak familiar nih.... Mie instan bungkus warna pink membuatku penasaran. Baru pertama kali aku melihat produk mie instan bermerek Tip Top. Sesuatu yang baru!

Saat tinggal di kota besar saya belum pernah melihat merek tersebut baik di swalayan, warung kecil hingga toko modern. Baru kali ini aku melihatnya, mungkin produk baru atau memang merek ini diproduksi dan diedarkan terbatas. Mie instan yang ada di genggaman tanganku mempunyai rasa ayam bawang, rasa yang biasanya ada pada setiap merek mie instan baik yang terkenal bahkan yang tidak terkenal mempunyai rasa ayam bawang.

Bungkus Bumbu Yang Berbahasa Korea

Harga mie instan Tip Top sejujurnya saya tidak tahu karena di kampung sendiri belum ada yang menjualnya. Telusur di mesin pencari Google, ternyata mie ini dijual dengan harga Rp 2.200 per-peces. Dari kemasan cukup menarik berwarna pink, namun foto mienya tidak menarik tampak polos tanpa bumbu! Tapi gambar itu ada benernya juga.

Tanpa basa-basi lagi saya memasak sesuai petunjuk yang terdapat di belakang kemasan mie. Hanya ditambah telur ayam sebagai lauknya. Dalam kemasan terdapat dua bungkus plastik kecil berisi minyak bumbu dan bumbu bubuk, anehnya plastik bumbu terdapat tulisan Hangul Korea! Entah apa maksudnya padahal di kemasan luar tidak ada tulisan berbahasa Korea. Aneh juga ya! Setelah mie dimasak dengan ketentuan waktu sesuai petunjuk umum di kemasan, akhirnya aku mencicipinya! 

Siap Dilahap!

Konsistensi mie terasa lembut, kenyal dan enak bagiku lebih enak daripada mie Suksess. Hanya sayang bumbu kurang nendang!!! Bumbu terasa kekurangan bahan sehingga rasa terlalu nanggung. Padahal lidah saya termasuk lidah yang cukup sensitive pada bumbu. Untuk mengakalinya mungkin mengurangi air kuah sebelum diberi bumbu dan jangan mencampur lauk sebelum bumbu diaduk dengan sempurna ke mie yang tersaji. 

Bagiku mie ini cukup enak, boleh lah bisa menjadi alternative selain mie indomie atau mie sedaap. Di saat dompet kering kerontang, kere mencre atau saat mendamba sensasi lidah yang lainnya bisa menjadi pilihan yang top!

Komentar

SnekNOTSnake mengatakan…
Halo. Halo. Hanya sekedar berkomentar karena agak terkejut. Jaman sekarang sudah jarang ada yang pakai blogger XD XD

Saya lagi nunggu kiriman mie ini sebanyak 2 dus. Saya beli di toko oren harganya 50rb untuk 40 pcs. Dikurangi diskon jadi 40rb.

Moga2 aja sampai rumah rasanya memang enak. Saya sudah pernah beli Supermi 68rb dan Sarimi 75rb. Dua2nya kaldu ayam, dua2nya ga pake minyak. Nah yang Tiptop ini lihat reviewnya kok ada bumbu minyak padahal murah. Jadi penasaran deh.

Postingan populer dari blog ini

Nama-nama Tai

Sega, beras yang ditanak Apa benar bahasa Jawa itu terlalu 'manut' ke bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris? Tampaknya ada benarnya juga, bahasa Jawa terpengaruh/meminjam banyak kosa kata dari bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris. Kekurangan kosakata dalam bahasa Jawa memang kebanyakan untuk hal-hal seperti teknologi ataupun hal lainnya. Jangan berkecil hati untuk penutur bahasa Jawa di seluruh dunia! Perlu diingatkan bahasa Jawa mempunyai keunikan tersendiri, misalnya saja untuk belajar bahasa Jawa 'satu paket' atau juga keseluruhan dari bahasa kasar/ngoko, bahasa sedang/madya hingga bahasa halus/kromo, sama saja belajar tiga bahasa!! Bayangkan belajar tiga bahasa, apa gak repot ya?! Itulah keistimewaan bahasa Jawa. Bersyukur! Berbagai keistimewaan bahasa Jawa juga terdapat di istilah-istilah yang sangat detail/spesifik pada suatu beda yang mengalami sebuah perubahan sedikit maupun perubahan besar. Misalnya saja untuk rangkaian nama dari sebuah padi/po...

Istilah-istilah Anak dalam Keluarga Jawa

1. Ontang-anting: anak laki-laki/perempuan tanpa saudara (semata wayang). 2. Uger-uger lawang: dua bersaudara anak laki-laki. 3. Kembang sepasang: dua bersaudara anak perempuan. 4. Kendhana-kendhini: dua anak bersaudara, laki-laki yang tua, perempuan yang muda. 5. Kendhini-kandana: dua anak bersaudara, perempuan yang tua, laki-laki yang muda. 6. Pandhawa: Kelima anak berjenis kelamin laki-laki semua. 7. Ngayoni: Kelima anak berjenis kelamin perempuan semua. 8. Madangka: Lima anak bersaudara, empat orang lelaki dan satu perempuan. 9. Apil-apil: lima bersaudara, empat orang lelaki dan satu perempuan. Sumber Serat Centhini II - UGM Press.  

Toponimi - Asal Usul Nama Tempat di Jawa Barat oleh T Bachtiar

Setiap hal mempunyai jalur ilmunya tersendiri termasuk nama tempat. Ilmu mengenai nama tempat disebut juga Toponimi, suatu hal yang baru bagi saya dewasa ini. T Bachtiar membawa saya untuk mengenal lebih lanjut apa itu Toponimi baik dari segi ilmuan, pengetahuan tentang nama-nama tempat di Jawa Barat juga pada hal hal yang sebelumnya ‘gelap’. Mendapatkan buku Toponimi adalah kecelakaan keuangan terindah tahun ini, di mana saya sudah memutuskan ‘sumpah palapa’  untuk tidak membelanjakan uang pada buku-buku baru. Lewat enam bulan tahun 2025 berjalan, buku-buku bertumpuk dalam belasan jilid dengan nilai melebihi 3.000.000 Rupiah Indonesia. Orang bilang kalap, parahnya setelah ‘sumpah palapa’ membeli 3 judul buku lagi diantaranya Toponimi.  Ada keistimewaan tersendiri pada buku yang dibeli kali ini, tanda tangan penulis. Belum pernah saya mendapatkan tanda tangan dari penulisnya langsung. Aaaaaa!!! kegirangan ini meluap melebihi sungai Nil dengan potongan harga sampai Rp 96.500 de...