Langsung ke konten utama

Trilogi Resital Oleh Ibn Sina

QSL Radio Taiwan Internasional - Wayang Golek Taiwan


Radio Taiwan Internasional merupakan corong utama pemerintah Republik China atau Taiwan, di sini RTI mengemban tugas khusus untuk memperkenalkan kebudayaan Tionghoa khususnya Taiwan ke pada masyarakat dunia. Pada tahun 2006-2008 RTI mempersembahkan kartu QSL bertema wayang. Wayang khas Tiongkok ini mirip dengan wayang golek, jika anda di Semarang mungkin akan mengenalnya sebagai wayang potehi. 

Sebagai masyarakat Indonesia yang berbudaya saya merasa beruntung karena RTI memberikan informasi kecil budaya Tionghoa melalui kartu QSL. Dengan kartu tersebut saya mencicipi keindahan yang manis dari budaya Tiongkok berupa wayang. Jelas ada perbedaan antara wayang golek Indonesia dengan wayang potehi Taiwan, namun tetap semua mempunyai kemiripan yang banyak. Yok kita lihat keindahan QSL wayang ini.

Zhong Kui adalah figur mistik terpopuler. 

The Clown, merupakan badut dalam pagelaran wayang potèhi. Tokoh badut ini merupakan representasi nayata dari kehidupan petani.

Lee Tien-Lu, pada tahun 1962 dalang wayang potehi bapak Lee Tien-Lu membawakan pagelaran wayang ke acara televisi pertama. Foto diambil dari latihan keseharian sang maestro dalang wayang potehi.

Taiwan Puppet Show, Dikenal luas sebagai wayang sarung tangan (wayang potehi), wayang merupakan drama cerita rakyat yang sangat terkenal, seringnya diambil dari novel klasik Tiongkok. Gambar ini diambil dari pemenang sayembara pembuatan logo pagelaran wayang yang diselenggarakan oleh Departemen Informasi dan Penerangan Taiwan.

Theater du Petit Miroir, ditemukan oleh penggemar dalang Lee Tien-Lu yaitu Jean Luc Penso Dan Catherine Larue. Mereka menggelar pertunjukan dengan gaya klasik Barat yang diadopsi dari teknik pertunjukan wayang potehi dan wayang kulit.

Dalang Huang Hai-tai, paggelarannya sangat elegan dan dialognya sangat sastrawi, tetapi juga menggunakan bahasa prokem modern yang dicampur adukkan dengan Tionghoa klasik. Beliau mempunyai tujuan edukasi dalam setiap pagelaran wayangnya.

Stab Rattan Shield, merupakan adegan perang klasik dalam pertunjukan wayang potehi. Saat dua wayang berkelahi, satu menggunakan tombak untuk menyerang, sementara tangan yang lainnya melindungi dengan tameng. Efek yang dihasilkan dari adegan ini akan menggemparkan hati oara penonton.

Hsiao Hai Yuan Puppet Theater, ketua paguyuban wayang potehi yang diketuai oleh Bapak Hsu Wang. Bapak Hsu Wang adalah seorang dalang wayang potehi Taiwan yang sangat dihormati dan menyandang maestro dalang wayang potehi Taiwan. Dia mendedikasikan hidupnya ke wayang potehi Taiwan, dia juga komitmen untuk menurunkan tradisi pewayangan potehi ke generasi muda.

Shi Yan-yun, tokoh pahlawan dalam novel serial Dinasti Ming. Dia merupakan basis cerita untuk Huang Hai-tai "Shi Yen-Wen, the Great Hero of Yun-Chu". Pada tahun 1954, Huang Jyun-syong anak kedua dari dalang Huang Hai-tai membawa Shi Yen-Wen ke acara televisi, memulai era baru pewayangan Taiwan.

Dalang Lee Tien-Lu, murid dalang Lee yang berasal Eropa, Amerika, Korea, Jepang dan Taiwan mengadakan pagelaran wayang yang dipersembahkan untuk ulang tahun sang guru dalang yang 80 tahun. Foto ini dari Tale Of the White Serpent yang digelar oleh salah satu murid generasi ketiga dalang Lee.

Teknologi Modern, dengan kemajuan teknologi pertunjukan wayang potehi Taiwan menjadi acara televisi populer dengan efek cahaya dan pakaian yang flamboyan. Foto ini diambil dari drama terkenal berjudul Pili Drama Series. 

Huang Hai-tai, adalah seorang ketua paguyuban Taman Pagelaran Wayang Wochu. Foto ini menggambarkan manuskrip Huang Hai-tai.

Benar kan betapa kartu QSL ini sangat bermanfaat bagi kita untuk menambah ilmu pengetahuan sosial budaya masyarakat Tionghoa terutama di Taiwan. Jadi kita sebagai bangsa Indonesia yang mempunyai wayang wajib merawat kelestarian wayang, contoh saja dari wayang potehi Taiwan yang berkembang menjadi pertunjukan tv yang terkenal bagi para pemirsa. 

Kini giliran bagian belakang kartu QSL, seperti biasanya kartu QSL RTI menambah keterangan pendek tentang gambar yang disajikan. Kartu QSL ini tidak ada tahun terbit dan tidak ada urutan gambar.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Nama-nama Tai

Sega, beras yang ditanak Apa benar bahasa Jawa itu terlalu 'manut' ke bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris? Tampaknya ada benarnya juga, bahasa Jawa terpengaruh/meminjam banyak kosa kata dari bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris. Kekurangan kosakata dalam bahasa Jawa memang kebanyakan untuk hal-hal seperti teknologi ataupun hal lainnya. Jangan berkecil hati untuk penutur bahasa Jawa di seluruh dunia! Perlu diingatkan bahasa Jawa mempunyai keunikan tersendiri, misalnya saja untuk belajar bahasa Jawa 'satu paket' atau juga keseluruhan dari bahasa kasar/ngoko, bahasa sedang/madya hingga bahasa halus/kromo, sama saja belajar tiga bahasa!! Bayangkan belajar tiga bahasa, apa gak repot ya?! Itulah keistimewaan bahasa Jawa. Bersyukur! Berbagai keistimewaan bahasa Jawa juga terdapat di istilah-istilah yang sangat detail/spesifik pada suatu beda yang mengalami sebuah perubahan sedikit maupun perubahan besar. Misalnya saja untuk rangkaian nama dari sebuah padi/po...

Istilah-istilah Anak dalam Keluarga Jawa

1. Ontang-anting: anak laki-laki/perempuan tanpa saudara (semata wayang). 2. Uger-uger lawang: dua bersaudara anak laki-laki. 3. Kembang sepasang: dua bersaudara anak perempuan. 4. Kendhana-kendhini: dua anak bersaudara, laki-laki yang tua, perempuan yang muda. 5. Kendhini-kandana: dua anak bersaudara, perempuan yang tua, laki-laki yang muda. 6. Pandhawa: Kelima anak berjenis kelamin laki-laki semua. 7. Ngayoni: Kelima anak berjenis kelamin perempuan semua. 8. Madangka: Lima anak bersaudara, empat orang lelaki dan satu perempuan. 9. Apil-apil: lima bersaudara, empat orang lelaki dan satu perempuan. Sumber Serat Centhini II - UGM Press.  

Toponimi - Asal Usul Nama Tempat di Jawa Barat oleh T Bachtiar

Setiap hal mempunyai jalur ilmunya tersendiri termasuk nama tempat. Ilmu mengenai nama tempat disebut juga Toponimi, suatu hal yang baru bagi saya dewasa ini. T Bachtiar membawa saya untuk mengenal lebih lanjut apa itu Toponimi baik dari segi ilmuan, pengetahuan tentang nama-nama tempat di Jawa Barat juga pada hal hal yang sebelumnya ‘gelap’. Mendapatkan buku Toponimi adalah kecelakaan keuangan terindah tahun ini, di mana saya sudah memutuskan ‘sumpah palapa’  untuk tidak membelanjakan uang pada buku-buku baru. Lewat enam bulan tahun 2025 berjalan, buku-buku bertumpuk dalam belasan jilid dengan nilai melebihi 3.000.000 Rupiah Indonesia. Orang bilang kalap, parahnya setelah ‘sumpah palapa’ membeli 3 judul buku lagi diantaranya Toponimi.  Ada keistimewaan tersendiri pada buku yang dibeli kali ini, tanda tangan penulis. Belum pernah saya mendapatkan tanda tangan dari penulisnya langsung. Aaaaaa!!! kegirangan ini meluap melebihi sungai Nil dengan potongan harga sampai Rp 96.500 de...