Langsung ke konten utama

Trilogi Resital Oleh Ibn Sina

Aku Dan Ketelanjangan

Ternyata Aku sudah lama telanjang! Aku terpukul dengan kehidupanku yang ditelanjangi diri sendiri dengan begitu nista nan menyenangkan bak seorang kecanduan dadah. Mungkin bukan aku saja, melainkan semua orang yang kenal teknologi informasi dan mempunyai alatnya. Semua telanjang!.

Aku sendiri sudah mengetahui dampak negative dari sebuah teknologi informasi baik yang bersifat jasmani maupun kejiwaan, semua sudah terekam dalam otak namun mandek dalam pelaksanaan. Ketagihan dan kegilaan menjadi bendungan besar untuk menghindari semua ketelanjangan ini.

Bisa disebut telanjang! Betapa tidak setiap sisi kehidupan menarik (sedih, bahagia, kebimbangan etc) selalu dibagikan dalam sebuah tulisan, foto, video maupun tag lokasi. Ketelanjangan itu sama sekali tidak memberikan ruang kemisteriusan kehidupan seseorang ataupun sama sekali tidak ada ruang privasi, semua dilucuti dalam sebuah aplikasi. 

Cermah virtual dari Dr. Fahrudin Faiz menggugahkan saya dari euforia ketelanjangan ini. Sama halnya dengan ektasi, sebuah media sosial mempunyai efek sama besar dengan manfaatnya. Beliau menjelaskan beberapa efek negative tersebut:

1. Kelebihan informasi/komunikasi yang mengakibatkan essensi komunikasi menjadi dangkal. Kedangakalan komunikasi pada media sosial merupakan efek dari keterbatasan komunikasi singkat aplikasi. Kelebihan informasi/komunikasi mengakibatkan sulitnya memilih informasi yang benar.

2. Keterbukaan tanpa batas, ketelanjangan diri dalam media sosial.

3. Efek pskologi yang mengakibatkan tidak pekanya pada kebaikan, kebenaran dan cenderung lebih mempercayai rumor.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Nama-nama Tai

Sega, beras yang ditanak Apa benar bahasa Jawa itu terlalu 'manut' ke bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris? Tampaknya ada benarnya juga, bahasa Jawa terpengaruh/meminjam banyak kosa kata dari bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris. Kekurangan kosakata dalam bahasa Jawa memang kebanyakan untuk hal-hal seperti teknologi ataupun hal lainnya. Jangan berkecil hati untuk penutur bahasa Jawa di seluruh dunia! Perlu diingatkan bahasa Jawa mempunyai keunikan tersendiri, misalnya saja untuk belajar bahasa Jawa 'satu paket' atau juga keseluruhan dari bahasa kasar/ngoko, bahasa sedang/madya hingga bahasa halus/kromo, sama saja belajar tiga bahasa!! Bayangkan belajar tiga bahasa, apa gak repot ya?! Itulah keistimewaan bahasa Jawa. Bersyukur! Berbagai keistimewaan bahasa Jawa juga terdapat di istilah-istilah yang sangat detail/spesifik pada suatu beda yang mengalami sebuah perubahan sedikit maupun perubahan besar. Misalnya saja untuk rangkaian nama dari sebuah padi/po...

Istilah-istilah Anak dalam Keluarga Jawa

1. Ontang-anting: anak laki-laki/perempuan tanpa saudara (semata wayang). 2. Uger-uger lawang: dua bersaudara anak laki-laki. 3. Kembang sepasang: dua bersaudara anak perempuan. 4. Kendhana-kendhini: dua anak bersaudara, laki-laki yang tua, perempuan yang muda. 5. Kendhini-kandana: dua anak bersaudara, perempuan yang tua, laki-laki yang muda. 6. Pandhawa: Kelima anak berjenis kelamin laki-laki semua. 7. Ngayoni: Kelima anak berjenis kelamin perempuan semua. 8. Madangka: Lima anak bersaudara, empat orang lelaki dan satu perempuan. 9. Apil-apil: lima bersaudara, empat orang lelaki dan satu perempuan. Sumber Serat Centhini II - UGM Press.  

Toponimi - Asal Usul Nama Tempat di Jawa Barat oleh T Bachtiar

Setiap hal mempunyai jalur ilmunya tersendiri termasuk nama tempat. Ilmu mengenai nama tempat disebut juga Toponimi, suatu hal yang baru bagi saya dewasa ini. T Bachtiar membawa saya untuk mengenal lebih lanjut apa itu Toponimi baik dari segi ilmuan, pengetahuan tentang nama-nama tempat di Jawa Barat juga pada hal hal yang sebelumnya ‘gelap’. Mendapatkan buku Toponimi adalah kecelakaan keuangan terindah tahun ini, di mana saya sudah memutuskan ‘sumpah palapa’  untuk tidak membelanjakan uang pada buku-buku baru. Lewat enam bulan tahun 2025 berjalan, buku-buku bertumpuk dalam belasan jilid dengan nilai melebihi 3.000.000 Rupiah Indonesia. Orang bilang kalap, parahnya setelah ‘sumpah palapa’ membeli 3 judul buku lagi diantaranya Toponimi.  Ada keistimewaan tersendiri pada buku yang dibeli kali ini, tanda tangan penulis. Belum pernah saya mendapatkan tanda tangan dari penulisnya langsung. Aaaaaa!!! kegirangan ini meluap melebihi sungai Nil dengan potongan harga sampai Rp 96.500 de...