Langsung ke konten utama

Kisah 1001 Malam Jilid I

Aku Dan Ketelanjangan

Ternyata Aku sudah lama telanjang! Aku terpukul dengan kehidupanku yang ditelanjangi diri sendiri dengan begitu nista nan menyenangkan bak seorang kecanduan dadah. Mungkin bukan aku saja, melainkan semua orang yang kenal teknologi informasi dan mempunyai alatnya. Semua telanjang!.

Aku sendiri sudah mengetahui dampak negative dari sebuah teknologi informasi baik yang bersifat jasmani maupun kejiwaan, semua sudah terekam dalam otak namun mandek dalam pelaksanaan. Ketagihan dan kegilaan menjadi bendungan besar untuk menghindari semua ketelanjangan ini.

Bisa disebut telanjang! Betapa tidak setiap sisi kehidupan menarik (sedih, bahagia, kebimbangan etc) selalu dibagikan dalam sebuah tulisan, foto, video maupun tag lokasi. Ketelanjangan itu sama sekali tidak memberikan ruang kemisteriusan kehidupan seseorang ataupun sama sekali tidak ada ruang privasi, semua dilucuti dalam sebuah aplikasi. 

Cermah virtual dari Dr. Fahrudin Faiz menggugahkan saya dari euforia ketelanjangan ini. Sama halnya dengan ektasi, sebuah media sosial mempunyai efek sama besar dengan manfaatnya. Beliau menjelaskan beberapa efek negative tersebut:

1. Kelebihan informasi/komunikasi yang mengakibatkan essensi komunikasi menjadi dangkal. Kedangakalan komunikasi pada media sosial merupakan efek dari keterbatasan komunikasi singkat aplikasi. Kelebihan informasi/komunikasi mengakibatkan sulitnya memilih informasi yang benar.

2. Keterbukaan tanpa batas, ketelanjangan diri dalam media sosial.

3. Efek pskologi yang mengakibatkan tidak pekanya pada kebaikan, kebenaran dan cenderung lebih mempercayai rumor.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Review Sepatu Gunung SNTA

Sepatu SNTA Jika dirunut waktu kira-kira sudah menginjak usia tiga tahun sepatu gunung merek SNTA yang ku beli dari teman satu perusahaan sewaktu masih menjadi kuli di Jakarta Raya. Saya membeli sepatu SNTA bukanlah sebuah pilihan dari hati ataupun penalaran akal, melainkan sebuah pilihan terpaksa dari sebuah ketidaktahuan yang mendalam pada peralatan out door . Bisa dikatakan aku hanya manut saran dari temanku yang sekaligus menjadi penjual dari sepatu yang ku beli.  Berawal dari niat mendaki gunung Semeru pada tahun 2016 lalu, semua tuntutan peralatan out door harus dilunasi oleh sejumlah lembaran merah biru dari dalam dompet. Sepatu gunung, jaket gunung, tongkat, sarung tangan, keril dan sejumlah aksesorir terbayar lunas tanpa berpikir merek, warna, jenis barang. Yang tergambar dalam otakku hanyalah sebuah kepemilikan saja dan berangkat mendaki.  Tidak salah pilihan dari temanku ini membawa manfaat andalan dari merek sepatu SNTA yang saya rasakan dari awal ...

Nama-nama Tai

Sega, beras yang ditanak Apa benar bahasa Jawa itu terlalu 'manut' ke bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris? Tampaknya ada benarnya juga, bahasa Jawa terpengaruh/meminjam banyak kosa kata dari bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris. Kekurangan kosakata dalam bahasa Jawa memang kebanyakan untuk hal-hal seperti teknologi ataupun hal lainnya. Jangan berkecil hati untuk penutur bahasa Jawa di seluruh dunia! Perlu diingatkan bahasa Jawa mempunyai keunikan tersendiri, misalnya saja untuk belajar bahasa Jawa 'satu paket' atau juga keseluruhan dari bahasa kasar/ngoko, bahasa sedang/madya hingga bahasa halus/kromo, sama saja belajar tiga bahasa!! Bayangkan belajar tiga bahasa, apa gak repot ya?! Itulah keistimewaan bahasa Jawa. Bersyukur! Berbagai keistimewaan bahasa Jawa juga terdapat di istilah-istilah yang sangat detail/spesifik pada suatu beda yang mengalami sebuah perubahan sedikit maupun perubahan besar. Misalnya saja untuk rangkaian nama dari sebuah padi/po...

Istilah-istilah Anak dalam Keluarga Jawa

1. Ontang-anting: anak laki-laki/perempuan tanpa saudara (semata wayang). 2. Uger-uger lawang: dua bersaudara anak laki-laki. 3. Kembang sepasang: dua bersaudara anak perempuan. 4. Kendhana-kendhini: dua anak bersaudara, laki-laki yang tua, perempuan yang muda. 5. Kendhini-kandana: dua anak bersaudara, perempuan yang tua, laki-laki yang muda. 6. Pandhawa: Kelima anak berjenis kelamin laki-laki semua. 7. Ngayoni: Kelima anak berjenis kelamin perempuan semua. 8. Madangka: Lima anak bersaudara, empat orang lelaki dan satu perempuan. 9. Apil-apil: lima bersaudara, empat orang lelaki dan satu perempuan. Sumber Serat Centhini II - UGM Press.