Kuliner Lebaran: Wajik

Penjemuran Wajik Sebagai Pengawet Alami

Lebaran tentunya identik dengan silaturahmi dengan tetangga maupun sanak saudara. Dalam proses silaturahmi ini juga harus ada sesuatu yang spesial terlebih lagi pada hari istimewa, hari yang penuh keberkahan. Berbagai cara memaksimalkan keberkahan tersebut sesama manusia berlomba berbuat baik skala maksimal daripada hari-hari lainnya misalnya dengan menyuguhkan hidangan baik makanan berat maupun makanan ringan, dan tak kalah menarik lagi saling memberi uang (angpao). 

Setiap orang merasakan kebahagian yang luar biasa saat lebaran, suatu puncak kebahagiaan!. Semua lapisan masyarakat merayakan dengan gaya masing-masing sesuai dengan batas-batas mereka. Adat budaya dalam perayaan lebaran sangat berpengaruh sekali dalam kehidupan seseorang, misalnya saja saya sendiri yang hidup di Jawa Barat selalu merayakan lebaran dengan sajian tradisional yang tak kalah menarik. Sajian tradisional mungkin bagi sebagian orang akan merasa takjub karena sudah lama tidak memakannya, sebagian lagi ada yang menganggap kuno, apapun pandangan itu bisa kalah saat mulut mengunyah dan merasakan kenikmatan juga kenyang.

Sajian tradisional populer di Jawa Barat tentu saja Wajik, orang Jawa biasanya menyebutnya sama seperti orang Sunda kadang juga ada yang menyebutnya Wajit. Makanan tradisional ini termasuk katagori makanan ringan berjenis manisan. Wajik sendiri bukan hanya disajikan saat lebaran saja melainkan pada hari-hari istimewa lainnya seperti pernikahan maupun pesta sunatan (circumcisions), jarang sekali orang sengaja membuat wajik saat hari-hari biasa. 

Berbagai rasa wajik bergantung pada bahan utama yang digunakan, misalnya saja nanas, kacang hijau, kacang merah, sirsak, ketan merah, peyeum/puyum, dan bahan lainnya. Dahulu rasa nanas paling jarang karena kemungkinan rasa gatal yang diperoleh, tapi jangan khawatir nanas sekarang sudah jarang yang gatal. 

Wajik Dibungkus Dengan Kertas

Tak kalah menarik dengan pegangan lebaran lainnya, wajik dibungkus dengan sesuatu yang menarik dan sangat tradisional. Pada umumnya wajik dibungkus dengan kertas khusus yang juga disebut sebagai kertas wajik, kertas ini juga biasa digunakan sebagai kertas layangan. Kertas wajik biasanya berwarna putih, merah, dan kuning; untuk hidangan lebaran biasanya hanya memilih satu hingga dua warna saja. Selain dengan kertas, wajik sendiri sering dibungkus dengan daun jagung maupun kulit dari pelapah pohon pinang. Pada umumnya menggunakan daun jagung karena wangi daun tidak terlalu terasa, berbeda dengan pelapah pohon pinang yang lumayan menyengat.

Manisan ini termasuk makanan yang lumayan awet, bisa awet karena penyimpanan atau mungkin awet karena banyak anak muda sekarang kurang tertarik untuk memakannya saat lebaran, jadi wajik termasuk penganan lebaran kelas dua yang habis pada minggu ke-dua ataupun minggu ke-tiga lebaran. 

Proses pembuatan wajik tidak semudah membuat agar-agar ataupun membuat goreng pisang. Sama halnya dengan dodol, wajik diproses cukup lama dan termasuk rumit. Perlu kesabaran dan keuletan yang ekstra. Kalau anda sekalian belum pernah mencobanya, silakan mencoba untuk membuat. Berikut langkah-langkah sederhana pembuatan wajik.

Alat Dan Bahan

Alat masak (wajan, spatula, kompor dll).
Kertas wajik maupun kulit jagung
Gunting
Parutan kelapa
Tepung ketan putih
Kelapa agak tua
Gula (gula merah ataupun gula pasir)
Bahan tambahan untuk perasa alami misalnya (kacang merah/hijau, nanas, sirsak dll)
Sendok

Cara Pembuatan

1. Parut kelapa sehingga menghasilkan santan
2. Masukan santan ke dalam wadah dan campurkan bahan-bahan lainnya seperti tepung ketan putih, gula merah/putih dan bahan tambahan untuk perasa. Bahan tambahan untuk kacang merah/hijau biasanya kacang sebelumnya dimasak sampai seperti bubur, sementara nanas cukup dijus maupun diparut.
3. Nyalakan kompor dengan api sedang
4. Masukan adonan tersebut ke wajan
5. Bolak-balik adonan dengan sepatula hingga adonan berubah menjadi lengket. Saat adonan berubah menjadi setengah matang api kompor diturunkan menjadi kecil agar adonan paling bawah tidak gosong. Selalu bolak-balik adonan dengan sepatula
6. Jika adonan sudah berubah menjadi wajik yang berwarna kecokelatan, angkat wajan ke tempat yang aman dan tiriskan
7. Persiapkan kertas wajik atau bahan pembungkus lainnya, gunting sesuai ukuran yang diinginkan.
8. Wajik sudah tiris/dingin, bungkus dengan kertas pembungkus yang sudah disiapkan
9. Wajik telah dibungkus, pindahkan ke wadah seperti rigen (tempat penjemuran) ataupun wadah lainnya dan jemur selama dua sampai tiga hari untuk memperoleh keawetan alami
10. Wajik yang sudah tampak kering karena panas matahari bisa langsung dimasukan ke dalam wadah/toples kue. 

Wajik Kacang Hijau Yang Masih Lembek

Wajik sendiri jarang menggunakan bahan pengawet, hanya saja wajik menggunakan teknik penjemuran matahari untuk memperoleh keawetan alami. Wajik yang dijemur biasanya awet dalam waktu cukup lama, kurang lebih dua bulan dan tergantung pada tempat penyimpanan.

Bagi saya sendiri wajik yang enak itu tidak terlalu manis dan tidak terlalu keras konsistensinya. Wajik yang terlalu manis akan berdampak buruk pada orang yang mempunyai diabetes ataupun mempunyai dampak giung. Biasanya karena giung orang malas makan ataupun sudah merasakan kekenyangan karena asupan gula yang banyak. 

Jika pembungkus wajik dari kertas, usahakan jangan menjemur terlalu kering karena kertas akan sangat susah dilepaskan saat memakannya. Jika menggunakan daun jagung, wajik yang keras ataupun lembek tidak ada persoalan serius.

Baiklah semoga artikel ini bermanfaat bagi Anda sekalian. Puji Tuhan, saya telah membungkus wajik dan menjemurnya di sawah. Lumayan capek!. Mudah-mudahan wajik masih banyak yang makan nanti saat lebaran.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kata Serapan Bahasa Portugis dalam Bahasa Indonesia

Parfum Garuda Indonesia: Parfum Yang Mempunyai Hukum

KAWERUH BASA: Peribahasa lan Saloka Jawa #27