Langsung ke konten utama

Trilogi Resital Oleh Ibn Sina

Antara Kaca Rumah Dan Burung

Kelestarian Alam Dan Adat Budaya

Kesegaran udara berbanding lurus dengan jumlah pohon dan kelestarian lingkungan begitu juga ekosistem yang ada. Pagi yang segar dengan keriuhan alam yang menggembirakan, cicit burung liar tidak henti-hentinya ngoceh ke sana ke mari bagai seorang kecanduan kesenangan yang tak pernah lelah. Keramahan petani membuat burung-burung betah berlama-lama di kampung ini. Hanya anak kecil saja yang sedikit buas karena rasa ingin memiliki, semua sarang burung dirusak bahkan terjadi penyiksaan yang sia-sia.

Berbagai jenis burung banyak berkeliaran, menguasai berbagai sektor sesuai dengan keahlian masing-masing. Elang hitam yang biasa kami sebut alap-alap datang dari arah selatan, arah rumah besarnya di Gegerbentang. Elang hitam menguasai seluruh kawasan udara paling tinggi dan hanya menginginkan daging saja. Bisa saja kalangan burung menyebutnya sang preman buas yang bisa memangsa sesamanya atau bahkan hewan lainnya. Rangkaian kejadian ganas itu bukan hal sia-sia dan bukan karena nafsu durja melainkan untuk keseimbangan ekosistem. Berbanding terbaik dengan manusia saat ini.

Kaca Rumah Yang Sudah Tua

Burung pipit hanya datang saat ranumnya bulir padi, terkadang petani marah dan merundung karena hal ini tapi semuanya bisa tertahankan karena berbagai macam cara damai untuk mengusirnya. Kuk deruk  si pemakan biji-bijian tidak terlalu rakus untuk padi ranum di sawah, entah kenapa dia lebih menahan diri daripada si kecil pipit yang rakus.

Sesekali dari jauh terdengar kekehan dan gelak tawa sinis dari burung ekek yang selalu menertawakan semua kehidupan di dunia ini. Kēkēk....kēkēk....kēkēkkkkk... terdengar melemah di rimbunan pohon albasia seperti ungkapan kepuasan menertawakan lelucon kehidupan selama seharian. Di ujung ranting pohon tinggi itu terdengar dzikir suci dari tekukur, terasa merdu menyayat hati dengan tembang-tembang uro-uro (bernyanyi untuk diri sendiri dengan pesan-pesan yang menginggatkan diri).

Pohon Albasia Tempat Burung Ekek Terkekeh-kekeh Menertawakan Lelucon Hidup

Kesederhanaan petani kecil itu sedikit terusik dengan sebuah keinginan untuk memperindah rumahnya. Tak satupun burung protes pada keinginan sang petani, hanya istri petani yang usar akan rumahnya yang akan diberi kaca. Bagi sang istri kaca merupakan simbol keningratan yang membawa nilai tersendiri. Sehari penuh pikirannya melayang jauh karena hal yang tak biasa akan terjadi di rumahnya.

Kini rumah berkaca bening, tampak mewah. Siapapun akan takjub dengan gaya arsitektur Jawa modern dengan kaca-kaca bening. Pak tani sedikit berbangga dengan apa yang dia dapatkan.

Darrrr.... Kaca rumah terbentur oleh benda keras. "Siapa yang berani melempari kaca rumahku ?!" Gumam pak tani, dengan langkah cepat ke bale rumah dekat kaca. Tak ada satu petak kaca pun yang pecah dan tak ada benda keras yang menjadi barang bukti keluarnya suara benturan itu. Tampak misterius. Pak tani enggan bertahayul berlebihan, dia mencari penyebab suara benturan kaca itu. 

Kaca Bening Rumah Yang Takkan Terhapus Oleh Kotornya Zaman

Cit..cit...cit... Suara aduhan dan tangisan burung pipit yang cedera akibat menabrak kaca bening. Sayapnya tampak bergerak tidak beraturan, seperti ayam yang disembelih. Erangan itu menjadi petunjuk kuat sebagai benda yang menabrak kaca bening rumah. Sang petani menemukannya dan memberikan cipratan air demi meredakan nyeri dan pusingnya menabrak benda keras. 

Bukan sekali dua kali burung pipit menabrak kaca bening rumah, melainkan sering terlebih musim panen dimana pipit sedang pesta pora dan lalu lalang ke sana ke mari. Terkadang burung besar sekelas kukderuk, raja udang dan jenis burung lainnya ikut menabrak kaca bening rumah. Kenapa bisa terjadi?! Apakah ada kerusakan navigasi pada otak burung? Atau para burung yang belum pernah tahu tentang kaca bening?! Yang pasti banyaknya burung dan kaca bening masih langka sehingga burung melihatnya seperti tidak ada halangan (kaca).

Duapuluh Tiga Tahun Menemani

Kini anak kecil buas itu tumbuh besar dengan keturunannya yang tak kalah buas, kampung terasa pengap dan sesak oleh mereka. Burung mana yang ingin bersesakan dengan mahluk buas segala hal?! Jangankan burung, semut pun pernah mengunggkapkan tidak mau terlalu dekat dengan manusia buas.

Kaca bening rumah itu sudah usang dimakan usia dan burung sudah terbiasa akan adanya kaca bening. Tapi mungkin saja jumlah burung yang terus berkurang karena laknatnya nafsu manusia. Entahlah yang pasti kaca bening rumah selalu menginggatkan pada keindahan tempo itu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Nama-nama Tai

Sega, beras yang ditanak Apa benar bahasa Jawa itu terlalu 'manut' ke bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris? Tampaknya ada benarnya juga, bahasa Jawa terpengaruh/meminjam banyak kosa kata dari bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris. Kekurangan kosakata dalam bahasa Jawa memang kebanyakan untuk hal-hal seperti teknologi ataupun hal lainnya. Jangan berkecil hati untuk penutur bahasa Jawa di seluruh dunia! Perlu diingatkan bahasa Jawa mempunyai keunikan tersendiri, misalnya saja untuk belajar bahasa Jawa 'satu paket' atau juga keseluruhan dari bahasa kasar/ngoko, bahasa sedang/madya hingga bahasa halus/kromo, sama saja belajar tiga bahasa!! Bayangkan belajar tiga bahasa, apa gak repot ya?! Itulah keistimewaan bahasa Jawa. Bersyukur! Berbagai keistimewaan bahasa Jawa juga terdapat di istilah-istilah yang sangat detail/spesifik pada suatu beda yang mengalami sebuah perubahan sedikit maupun perubahan besar. Misalnya saja untuk rangkaian nama dari sebuah padi/po...

Istilah-istilah Anak dalam Keluarga Jawa

1. Ontang-anting: anak laki-laki/perempuan tanpa saudara (semata wayang). 2. Uger-uger lawang: dua bersaudara anak laki-laki. 3. Kembang sepasang: dua bersaudara anak perempuan. 4. Kendhana-kendhini: dua anak bersaudara, laki-laki yang tua, perempuan yang muda. 5. Kendhini-kandana: dua anak bersaudara, perempuan yang tua, laki-laki yang muda. 6. Pandhawa: Kelima anak berjenis kelamin laki-laki semua. 7. Ngayoni: Kelima anak berjenis kelamin perempuan semua. 8. Madangka: Lima anak bersaudara, empat orang lelaki dan satu perempuan. 9. Apil-apil: lima bersaudara, empat orang lelaki dan satu perempuan. Sumber Serat Centhini II - UGM Press.  

Toponimi - Asal Usul Nama Tempat di Jawa Barat oleh T Bachtiar

Setiap hal mempunyai jalur ilmunya tersendiri termasuk nama tempat. Ilmu mengenai nama tempat disebut juga Toponimi, suatu hal yang baru bagi saya dewasa ini. T Bachtiar membawa saya untuk mengenal lebih lanjut apa itu Toponimi baik dari segi ilmuan, pengetahuan tentang nama-nama tempat di Jawa Barat juga pada hal hal yang sebelumnya ‘gelap’. Mendapatkan buku Toponimi adalah kecelakaan keuangan terindah tahun ini, di mana saya sudah memutuskan ‘sumpah palapa’  untuk tidak membelanjakan uang pada buku-buku baru. Lewat enam bulan tahun 2025 berjalan, buku-buku bertumpuk dalam belasan jilid dengan nilai melebihi 3.000.000 Rupiah Indonesia. Orang bilang kalap, parahnya setelah ‘sumpah palapa’ membeli 3 judul buku lagi diantaranya Toponimi.  Ada keistimewaan tersendiri pada buku yang dibeli kali ini, tanda tangan penulis. Belum pernah saya mendapatkan tanda tangan dari penulisnya langsung. Aaaaaa!!! kegirangan ini meluap melebihi sungai Nil dengan potongan harga sampai Rp 96.500 de...