Langsung ke konten utama

Trilogi Resital Oleh Ibn Sina

Membuat Gorengan Pare

Keripik Atau Gorengan Pare

Mamaku pusing karena warung kehabisan stok sayurannya. Dia kebingunggan bahan apa yang hendak dia buat makanan untuk kami. Tempe, tahu, buncis, kangkung dan sayuran umum lainnya sudah hilang ditelan oleh perut-perut lapar orang yang membeli. Hanya pare si sayur pahit penuh kasiat yang masih tersisa. Tanpa pikir panjang dia mengambilnya. 

Aku hanya sedikit merengut karena dia membawa sayur yang kurang disenangi. Jujur saja saya hanya suka olahan pare pada saat menjadi bagian dari siomai. Aku bingung! Akhirnya aku punya ide untuk menjadikan si pahit menjadi sebuah hidangan tempura alias gorengan!.

Ini kali pertama mengolah pare menjadi gorengan jadi hanya coba-coba saja. Dan beruntung saat sudah jadi rasanya endesss! Ya walaupun kurang sempurna. Baiklah tidak panjang lebar karena ini sesi resep masakan, bukan mukadimah sebuah acara pernikahan ataupun sambutan pada acara wisuda. Ayo kita siapkan saja bahan dan peralatan masaknya.

Pare Dipotong Melingkar


Alat Masak
Wajan dan seperangkat penggorengan
Pisau dan talenan
Magkok dan wadah lainnya
Cobek dan seperangkat alat ulek

Bahan-bahan
Buah/Sayur Pare (pilih pare yang pahit jangan yang manis), usahakan pare tidak matang agar tidak becek.
1-2 sendok makan ketumbar
6-7 sendok makan Garam dapur
2-3 Siung bawang putih
2-3 Siung bawang merah
1 potong terasi
100 gram tepung beras
20 gram tepung tapioka
1 telur ayam
1 botol air matang

Persiapan
Sayur/buah pare diiris tidak terlalu tipis kira-kira 5-6 cm; buang isinya.
Irisan pare ditaburi garam untuk mengeluarkan zat pahitnya. Cara mengeluarkan zat pahit bisa dengan cara rendam dengan 3-4 sendok garam sampai 30 menit dan bisa juga dengan menaburkan 3-4 garam ke irisan pare lalu remas-remas hingga mengeluarkan cairan/getah yang agak kental. Setelah itu bisa dicuci dengan air bersih tanpa garam.
Persiapan untuk pembuatan bumbu: campurkan semua bahan bumbu seperti terasi, bawang putih dan merah, ketumbar, dan satu sendok garam dapur lalu ulek sampai halus.
Persiapan untuk adonan tepung: campurkan tepung beras, tepung tapioka, telur ayam dan air, kocok sampai menyatu dan halus.

Penggorengan
Saat penggorengan baiknya diambil satu-persatu jangan langsung karena tepung akan bersatu dari pare ke pare. Goreng sampe kekuningan, angkat dan tiriskan. Hidangan bisa langsung dinikmati.
Makanan ini bisa disebut gorengan ataupun keripik, kenapa disebut keripik karena suara kres renyah terasa sekali. Saya mencoba pare yang diperas zat pahitnya dan yang tidak diperas dan hasilnya bagi saya adalah:
Pare dengan diperas zat pahitnya akan terasa masih pahit setelah menjadi keripik pare namun hanya menyisakan sekitar 20-30% saja.
Pare tanpa diperas zat pahitnya akan terasa pahit namun hanya menyisakan pahit sekitar 50-60% saja.

Jangan Ditiru Ini Nampak Sedikit Gosong

Saya sendiri lebih senang yang tanpa diperas zat pahitnya karena rasa pahit menambah ensiklopedi rasa dalam lidah. Sensasinya tak kalah menarik dengan emping melinjo yang gurih-gurih pahit.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Nama-nama Tai

Sega, beras yang ditanak Apa benar bahasa Jawa itu terlalu 'manut' ke bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris? Tampaknya ada benarnya juga, bahasa Jawa terpengaruh/meminjam banyak kosa kata dari bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris. Kekurangan kosakata dalam bahasa Jawa memang kebanyakan untuk hal-hal seperti teknologi ataupun hal lainnya. Jangan berkecil hati untuk penutur bahasa Jawa di seluruh dunia! Perlu diingatkan bahasa Jawa mempunyai keunikan tersendiri, misalnya saja untuk belajar bahasa Jawa 'satu paket' atau juga keseluruhan dari bahasa kasar/ngoko, bahasa sedang/madya hingga bahasa halus/kromo, sama saja belajar tiga bahasa!! Bayangkan belajar tiga bahasa, apa gak repot ya?! Itulah keistimewaan bahasa Jawa. Bersyukur! Berbagai keistimewaan bahasa Jawa juga terdapat di istilah-istilah yang sangat detail/spesifik pada suatu beda yang mengalami sebuah perubahan sedikit maupun perubahan besar. Misalnya saja untuk rangkaian nama dari sebuah padi/po...

Istilah-istilah Anak dalam Keluarga Jawa

1. Ontang-anting: anak laki-laki/perempuan tanpa saudara (semata wayang). 2. Uger-uger lawang: dua bersaudara anak laki-laki. 3. Kembang sepasang: dua bersaudara anak perempuan. 4. Kendhana-kendhini: dua anak bersaudara, laki-laki yang tua, perempuan yang muda. 5. Kendhini-kandana: dua anak bersaudara, perempuan yang tua, laki-laki yang muda. 6. Pandhawa: Kelima anak berjenis kelamin laki-laki semua. 7. Ngayoni: Kelima anak berjenis kelamin perempuan semua. 8. Madangka: Lima anak bersaudara, empat orang lelaki dan satu perempuan. 9. Apil-apil: lima bersaudara, empat orang lelaki dan satu perempuan. Sumber Serat Centhini II - UGM Press.  

Toponimi - Asal Usul Nama Tempat di Jawa Barat oleh T Bachtiar

Setiap hal mempunyai jalur ilmunya tersendiri termasuk nama tempat. Ilmu mengenai nama tempat disebut juga Toponimi, suatu hal yang baru bagi saya dewasa ini. T Bachtiar membawa saya untuk mengenal lebih lanjut apa itu Toponimi baik dari segi ilmuan, pengetahuan tentang nama-nama tempat di Jawa Barat juga pada hal hal yang sebelumnya ‘gelap’. Mendapatkan buku Toponimi adalah kecelakaan keuangan terindah tahun ini, di mana saya sudah memutuskan ‘sumpah palapa’  untuk tidak membelanjakan uang pada buku-buku baru. Lewat enam bulan tahun 2025 berjalan, buku-buku bertumpuk dalam belasan jilid dengan nilai melebihi 3.000.000 Rupiah Indonesia. Orang bilang kalap, parahnya setelah ‘sumpah palapa’ membeli 3 judul buku lagi diantaranya Toponimi.  Ada keistimewaan tersendiri pada buku yang dibeli kali ini, tanda tangan penulis. Belum pernah saya mendapatkan tanda tangan dari penulisnya langsung. Aaaaaa!!! kegirangan ini meluap melebihi sungai Nil dengan potongan harga sampai Rp 96.500 de...