Langsung ke konten utama

Trilogi Resital Oleh Ibn Sina

Sawangan Menebar Kagum

Marem dengan keindahan Menganti sekarang saya mesti melihat kegagahan dari Sawangan yang kokoh berdiri dengan otot - otot bumi yang kuat dan tegap bidangnya bebatuan yang membentuk perbukitan di sisi samudra Hindia. Sawangan tidak terlalu jauh dari pintu masuk Menganti barangkali hanya menghabiskan waktu 15 menit dengan kecepatan 20-30 km/jam menuju parkir utama Sawangan.  Jalan menuju Sawangan sebagian sudah bagus dan dicor. Namun hati - hati karena jalan cerita ini masih banyak tanah yang menempel jadi kalau ada hujan ataupun gerimis akan licin.

Sawangan yang gagah memang tidak seperti pasangannya Menganti yang ayu. Karakter Sawangan dengan berbagi gua yang indah, tebing yang berbatasan dengan samudra dan curug yang menawan karena hanya 100 meter langsung terjun ke laut.  Karena track yang agak sulit menyebabkan hanya pemuda saja yang menjadi pengunjung mayoritas. Butuh energi lebih untuk berkunjung ke sini.

Tangga Terbuat Dari Bambu
Jelas harga tiket masuk ke Sawangan lebih murah yakni 7000 rupiah perorang mungkin saja karena objek tidak seluas Menganti ataupun fasilitas tidak sebanyak di Menganti. Area parkir luas namun masih tanah merah jadi saat hujan mobil ataupun motor akan jeblog alias kotor.

Pelayanan ramah membuat saya selalu nyaman dan selalu ingin kembali ke sana.  Sopan dan ramah ala bagongan. Sekedar informasi warung makan hanya terdapat di area parkir saja jadi Anda yang tidak bawa bekal seharusnya beli di bawah karena di atas tidak ada yang dagang.  Cukup beli air mineral dan segenggap karbohidrat cukup untuk membuat energi saat naik turun bukit. Jangan khawatir harga mahal di sini pedagang sudah diatur untuk tidak menaikkan harga.  Saya saja beli air mineral merk terkenal masih dalam harga normal 3000 rupiah perbotol 600ml.

Sepenggal Pose Di Curug
Memasuki kawasan Sawangan anda mesti melalui track yang menanjak dengan adanya tangga yang terbuat dari bambu.  Tangga ini seperti sudah lama berdiri jadi ada sebagian yang sudah kropos jadi mesti hati hati saat di tracking. Di tangga bambu ini biasanya orang melakukan swafoto, jujur saja memang cakep sih tangga dan pemandanganya.

Selepas tangga, track datar dan sedikit menanjak ke arah bukit cinta ataupun ke gua walet.  Di sana ada camping ground yang cukup luas. Selepas dataran giliran naik lagi untuk mencapai keindahan samudra Hindia di atas bukit.  Selain itu anda bisa turun bukit ke lokasi curug yang menawan. Selama nada turun harus ekstra hati hati karena jalan yang licin dan hanya setapak saja selebihnya jurang. Menantang bukan?!
Rame - Rame Biar Asyik

Curug ini cukup unik karena sumber air dari dalam gunung dan keluar dari gua yang berbentuk segi empat. Air jernih yang mengalir akan menyegarkan badan anda yang banyak mengeluarkan keringat karena track yang cukup menantang. Di curug saya sempat bertemu dengan teman-teman dari Banyumas dan sempat berkenalan juga hanya saja saya tidak memotret mereka. Saat hendak naik ada salah satu dari rombongan yang tidak kuat untuk naik karena berat badan yang lumayan besar.

Muara Dari Curug Sawangan
Saya ajak rombongan Banyumas ke atas untuk menikmati keindahan samudra Hindia namun sebagian dari mereka menolak karena rasa capek yang luar biasa. Sudah terbiasa akan kesendirian dalam traveling tidak membuat saya kehilangan akal untuk mencari sebuah kebahagian. Benar juga saya menemukan tiga orang sahabat yang sedang traveling mereka berasal dari Jogja. Saya sempat mengabadikan mukanya yang lucu.

I LOVE YOU
Di atas bukit kita bisa swafoto di atas panggung bambu yang dibuat khusus untuk swasta foto selain itu ada gubug sengaja dibuat untuk membuat cerita nyata sepasang kekasih ataupun satu grup pelancong. Mengasikan bukan?!

Rupanya waktu sudah menunjukkan ke angka 11, saya pikir mata saya dan badan saya mesti diberikan haknya untuk istirahat. Salam.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Nama-nama Tai

Sega, beras yang ditanak Apa benar bahasa Jawa itu terlalu 'manut' ke bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris? Tampaknya ada benarnya juga, bahasa Jawa terpengaruh/meminjam banyak kosa kata dari bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris. Kekurangan kosakata dalam bahasa Jawa memang kebanyakan untuk hal-hal seperti teknologi ataupun hal lainnya. Jangan berkecil hati untuk penutur bahasa Jawa di seluruh dunia! Perlu diingatkan bahasa Jawa mempunyai keunikan tersendiri, misalnya saja untuk belajar bahasa Jawa 'satu paket' atau juga keseluruhan dari bahasa kasar/ngoko, bahasa sedang/madya hingga bahasa halus/kromo, sama saja belajar tiga bahasa!! Bayangkan belajar tiga bahasa, apa gak repot ya?! Itulah keistimewaan bahasa Jawa. Bersyukur! Berbagai keistimewaan bahasa Jawa juga terdapat di istilah-istilah yang sangat detail/spesifik pada suatu beda yang mengalami sebuah perubahan sedikit maupun perubahan besar. Misalnya saja untuk rangkaian nama dari sebuah padi/po...

Istilah-istilah Anak dalam Keluarga Jawa

1. Ontang-anting: anak laki-laki/perempuan tanpa saudara (semata wayang). 2. Uger-uger lawang: dua bersaudara anak laki-laki. 3. Kembang sepasang: dua bersaudara anak perempuan. 4. Kendhana-kendhini: dua anak bersaudara, laki-laki yang tua, perempuan yang muda. 5. Kendhini-kandana: dua anak bersaudara, perempuan yang tua, laki-laki yang muda. 6. Pandhawa: Kelima anak berjenis kelamin laki-laki semua. 7. Ngayoni: Kelima anak berjenis kelamin perempuan semua. 8. Madangka: Lima anak bersaudara, empat orang lelaki dan satu perempuan. 9. Apil-apil: lima bersaudara, empat orang lelaki dan satu perempuan. Sumber Serat Centhini II - UGM Press.  

Toponimi - Asal Usul Nama Tempat di Jawa Barat oleh T Bachtiar

Setiap hal mempunyai jalur ilmunya tersendiri termasuk nama tempat. Ilmu mengenai nama tempat disebut juga Toponimi, suatu hal yang baru bagi saya dewasa ini. T Bachtiar membawa saya untuk mengenal lebih lanjut apa itu Toponimi baik dari segi ilmuan, pengetahuan tentang nama-nama tempat di Jawa Barat juga pada hal hal yang sebelumnya ‘gelap’. Mendapatkan buku Toponimi adalah kecelakaan keuangan terindah tahun ini, di mana saya sudah memutuskan ‘sumpah palapa’  untuk tidak membelanjakan uang pada buku-buku baru. Lewat enam bulan tahun 2025 berjalan, buku-buku bertumpuk dalam belasan jilid dengan nilai melebihi 3.000.000 Rupiah Indonesia. Orang bilang kalap, parahnya setelah ‘sumpah palapa’ membeli 3 judul buku lagi diantaranya Toponimi.  Ada keistimewaan tersendiri pada buku yang dibeli kali ini, tanda tangan penulis. Belum pernah saya mendapatkan tanda tangan dari penulisnya langsung. Aaaaaa!!! kegirangan ini meluap melebihi sungai Nil dengan potongan harga sampai Rp 96.500 de...