Langsung ke konten utama

Kisah 1001 Malam Jilid 2

Plesiran Meng Ujung Kulon #3

Nerusna cerita sing wingi. Mbokan kelalen nang aku tek flashbackna ya. Tes kang pulau Jawa ndleng Banteng Jawa siki mangkat pindah tempat maning tepaté meng pulau Handeleum. Perjalanan nganggo prau sekitar telung (3) jam lewih gutul - gutul jam woluan (8) ket asar tekan isa nang tengah laut. Jan aku nembe ngraksana urip nang tengah laut wengi - wengi rasa sepi mbanget nang tengah-tengah laut ombaké gedhe - gedhe anginé uga gedhe, kur nang tengah-tengah laut ra weruh lumba - lumba maning. 

Canoeing Ujung Kulon - Banten
Tekan Pulau Handeleum langsung mlebu guest house beberes tas karo kamar sing arep dienggoni. Tes beberes langsung adus, banyuné rasané mandan asin soalé pulau gie ra gedhe paling kur seErTe (RT)  thok. Nang pulau gie akeh banget uncal (rusa). Tes adus sedurung turu ana acara bakaran iwak laut soal bumbu ra usah khawatir soalé wis ngawa kang pulau Jawa seurungé. Janjanéh mandan bosen ket awal madangé karo iwak laut bae. 

Ora ana suara pitik kluruk nang pulau gie kur akeh suara manuk. Isuk isuk rasané mandan gerah - gerah atis tapi ya lumayan akeh anginé. Jam pitu (7) teng pada kumpul go pindah dari pulau maning. Siki rencanané arep meng pulau Jawa go dolanan prau cilik (canoeing). 

Nang pulau Jawa ora ana dermaga dadhiné dijemput prau cilik go meng daratan soalé prau sing gedhe ra bisa tekan daratan. Kang pulau Handeleum kira-kira tekan 30 menitan. Ana lewih kang 5 pulau cilik - cilik sekitar Pulau Handeleum. Akeh - akehé sih alas bakau hewan - hewané juga akeh sing keton kaya menjangan,  merak,  manuk - manuk lan lian sejabané . 

Jog pulau Jawa langsung ketemu baya (buaya) wah sapa sing ora gilap (wedi) weruh baya langsung nang muara. Alhamdulillah pemandu langsung ngurah baya. Meng daratan langsung munggah prau cilik (cano) go nyusuri kali. Akeh hewan - hewan sing ditemukna nang sepanjang kali gue ana wuncal,  baya, manuk - manuk,  landak,  biawak lan lian sejabané. Kur 1 kilo lah dawané kali sing go canoeing. Bar canoeing balik maning meng pulau Handeleum go madang!!!  Alhamdulillah siki madang karo iwak pitik. Enak banget!!!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Review Sepatu Gunung SNTA

Sepatu SNTA Jika dirunut waktu kira-kira sudah menginjak usia tiga tahun sepatu gunung merek SNTA yang ku beli dari teman satu perusahaan sewaktu masih menjadi kuli di Jakarta Raya. Saya membeli sepatu SNTA bukanlah sebuah pilihan dari hati ataupun penalaran akal, melainkan sebuah pilihan terpaksa dari sebuah ketidaktahuan yang mendalam pada peralatan out door . Bisa dikatakan aku hanya manut saran dari temanku yang sekaligus menjadi penjual dari sepatu yang ku beli.  Berawal dari niat mendaki gunung Semeru pada tahun 2016 lalu, semua tuntutan peralatan out door harus dilunasi oleh sejumlah lembaran merah biru dari dalam dompet. Sepatu gunung, jaket gunung, tongkat, sarung tangan, keril dan sejumlah aksesorir terbayar lunas tanpa berpikir merek, warna, jenis barang. Yang tergambar dalam otakku hanyalah sebuah kepemilikan saja dan berangkat mendaki.  Tidak salah pilihan dari temanku ini membawa manfaat andalan dari merek sepatu SNTA yang saya rasakan dari awal ...

Nama-nama Tai

Sega, beras yang ditanak Apa benar bahasa Jawa itu terlalu 'manut' ke bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris? Tampaknya ada benarnya juga, bahasa Jawa terpengaruh/meminjam banyak kosa kata dari bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris. Kekurangan kosakata dalam bahasa Jawa memang kebanyakan untuk hal-hal seperti teknologi ataupun hal lainnya. Jangan berkecil hati untuk penutur bahasa Jawa di seluruh dunia! Perlu diingatkan bahasa Jawa mempunyai keunikan tersendiri, misalnya saja untuk belajar bahasa Jawa 'satu paket' atau juga keseluruhan dari bahasa kasar/ngoko, bahasa sedang/madya hingga bahasa halus/kromo, sama saja belajar tiga bahasa!! Bayangkan belajar tiga bahasa, apa gak repot ya?! Itulah keistimewaan bahasa Jawa. Bersyukur! Berbagai keistimewaan bahasa Jawa juga terdapat di istilah-istilah yang sangat detail/spesifik pada suatu beda yang mengalami sebuah perubahan sedikit maupun perubahan besar. Misalnya saja untuk rangkaian nama dari sebuah padi/po...

Istilah-istilah Anak dalam Keluarga Jawa

1. Ontang-anting: anak laki-laki/perempuan tanpa saudara (semata wayang). 2. Uger-uger lawang: dua bersaudara anak laki-laki. 3. Kembang sepasang: dua bersaudara anak perempuan. 4. Kendhana-kendhini: dua anak bersaudara, laki-laki yang tua, perempuan yang muda. 5. Kendhini-kandana: dua anak bersaudara, perempuan yang tua, laki-laki yang muda. 6. Pandhawa: Kelima anak berjenis kelamin laki-laki semua. 7. Ngayoni: Kelima anak berjenis kelamin perempuan semua. 8. Madangka: Lima anak bersaudara, empat orang lelaki dan satu perempuan. 9. Apil-apil: lima bersaudara, empat orang lelaki dan satu perempuan. Sumber Serat Centhini II - UGM Press.