Langsung ke konten utama

Trilogi Resital Oleh Ibn Sina

Detoks atau Diet Media Sosial

Skema Hidup Bahagia
Kecanduan?  apa yang anda bayangkan dengan satu kata tersebut?  Tentunya sebuah hal yang berlebihan dan segala sesuatu yang berlebihan itu biasanya tidak baik. Bagaimana pun hidup di dunia ini harus mempunyai keseimbangan untuk menciptakan sebuah keindahan dalam hidup.  Hidup dalam dunia cyber juga harus dilandasi oleh konsep keseimbangan antara hidup dalam dunia nyata dan maya. 

Banyak generasi millenia memang mempunyai kecenderungan lebih banyak berinteraksi di dalam dunia dan tidak bisa dipungkiri karena kemajuan teknologi yang terus berlanjut. Berbagai macam gejala sosial tentunya berdampak positif dan negatif pada seseorang yang menggunakan teknologi tersebut. Kali ini saya ingin memberikan pengalaman saya yang sudah kecanduan media sosial.

Awal generasi millennial mungkin saja dimulai dengan adanya Facebook sebagai gantinya Friendster yang sudah terkenal oleh kalangan 'remaja kolot ' waktu itu. Facebook datang dengan fitur sosial yang gemilang sehingga membuat anak muda gandrung dengan media sosial ini, kemudahan penggunaan mempengaruhi segmen 'kolot' untuk menggunakan media sosial ini.  Terlepas dari Facebook ternyata banyak sekali media sosial yang lebih menarik seperti Instagram, Snapchat, Path, Weibo dan yang lainnya.

"Yang jauh menjadi dekat dan yang dekat menjadi jauh"  itulah kalimat yang pas pada zaman media sosial kali ini. Dimana orang didekatkan dengan sebuah jaringan media sosial dengan kekuatan jaringan internet. Dan sisi lainnya saat berkumpul bersama keluarga, rekan dan teman kerja terasa jauh karena sibuk dengan telpon genggamnya yang 'berisik' oleh cuap - cuapan media sosial. Banyak sedikitnya seseorang yang mempunyai akun media sosial pasti mendapatkan dampak negatif dan positifnya, di sini saya pribadi ingin menceritakan dampak negatif yang pernah saya alami selama ini. Dampak yang paling fatal adalah suatu keadaan dimana seseorang bisa disebut dengan 'kecanduan' dari keadaan tersebut muncul berbagai macam penyakit - penyakit psikologis yang muncul.

Tinggalkan HP Ayo Goes
Salah satu masalah psikologis yang muncul dalam diri saya adalah adanya paksaan untuk selalu membagi foto sebuah perjalanan wisata yang menyenangkan. Tiap minggu atau bulan rasanya tidak sempurna tanpa unggahan - unggahan foto wisata ke tempat indah. Dan yang 'terlalu' bagi saya adalah dimana harga diri akan turun dimana sebuah foto dengan jumlah LIKE yang kurang. Itu membuat bad mood sepanjang hari. Selain itu media sosial menuntut kita untuk berbuat sesuatu yang sempurna baik dalam segi tutur kata, pakaian dan kain sebagainya.  Padahal dalam kehidupan nyata kita hanyalah rakyat biasa yang dipaksa tampil sempurna bak artis yang penuh keglamouran.

Siksaan demi siksaan yang diciptakan sendiri mendera psikologi saya hingga saya memutuskan untuk diet atau detoks media sosial. Bagi saya detoks media sosial sangat bermanfaat sekali diantaranya menjauhkan kekacauan psikologis yang ditimbulkan media sosial, berbagai cara saya coba dan berdampak positif terhadap diri saya sendiri. Detoks media sosial yang saya lakukan diantaranya :
1. Matikan media sosial selama setengah hari,  sehari, tiga hari, seminggu atau sebulan.
2. Deactivate atau menonaktifkan sementara akun.
3. Menikmati keindahan alam sekitar tanpa membawa telpon genggam pintar.
4. Meninggalkan telpon genggam pintar saat berkumpul bersama keluarga, teman ataupun siapa saja.
5. Tahan mengunggah foto momen terbaik dan foto keindahan alam yang anda jumpai.
6. Mulailah 'berdiet' untuk membuat status di Facebook, BBM messenger, ataupun Whatapp.
7. Sempatkan waktu anda dengan kesibukan seperti berolahraga, membaca buku, bersepeda dll.
8. Dan masih banyak sekali cara untuk diet atau detoks media sosial
Demikian tips dari saya semoga bermanfaat dan kehidupan nyata lebih indah daripada dalam media sosial.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Nama-nama Tai

Sega, beras yang ditanak Apa benar bahasa Jawa itu terlalu 'manut' ke bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris? Tampaknya ada benarnya juga, bahasa Jawa terpengaruh/meminjam banyak kosa kata dari bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris. Kekurangan kosakata dalam bahasa Jawa memang kebanyakan untuk hal-hal seperti teknologi ataupun hal lainnya. Jangan berkecil hati untuk penutur bahasa Jawa di seluruh dunia! Perlu diingatkan bahasa Jawa mempunyai keunikan tersendiri, misalnya saja untuk belajar bahasa Jawa 'satu paket' atau juga keseluruhan dari bahasa kasar/ngoko, bahasa sedang/madya hingga bahasa halus/kromo, sama saja belajar tiga bahasa!! Bayangkan belajar tiga bahasa, apa gak repot ya?! Itulah keistimewaan bahasa Jawa. Bersyukur! Berbagai keistimewaan bahasa Jawa juga terdapat di istilah-istilah yang sangat detail/spesifik pada suatu beda yang mengalami sebuah perubahan sedikit maupun perubahan besar. Misalnya saja untuk rangkaian nama dari sebuah padi/po...

Istilah-istilah Anak dalam Keluarga Jawa

1. Ontang-anting: anak laki-laki/perempuan tanpa saudara (semata wayang). 2. Uger-uger lawang: dua bersaudara anak laki-laki. 3. Kembang sepasang: dua bersaudara anak perempuan. 4. Kendhana-kendhini: dua anak bersaudara, laki-laki yang tua, perempuan yang muda. 5. Kendhini-kandana: dua anak bersaudara, perempuan yang tua, laki-laki yang muda. 6. Pandhawa: Kelima anak berjenis kelamin laki-laki semua. 7. Ngayoni: Kelima anak berjenis kelamin perempuan semua. 8. Madangka: Lima anak bersaudara, empat orang lelaki dan satu perempuan. 9. Apil-apil: lima bersaudara, empat orang lelaki dan satu perempuan. Sumber Serat Centhini II - UGM Press.  

Toponimi - Asal Usul Nama Tempat di Jawa Barat oleh T Bachtiar

Setiap hal mempunyai jalur ilmunya tersendiri termasuk nama tempat. Ilmu mengenai nama tempat disebut juga Toponimi, suatu hal yang baru bagi saya dewasa ini. T Bachtiar membawa saya untuk mengenal lebih lanjut apa itu Toponimi baik dari segi ilmuan, pengetahuan tentang nama-nama tempat di Jawa Barat juga pada hal hal yang sebelumnya ‘gelap’. Mendapatkan buku Toponimi adalah kecelakaan keuangan terindah tahun ini, di mana saya sudah memutuskan ‘sumpah palapa’  untuk tidak membelanjakan uang pada buku-buku baru. Lewat enam bulan tahun 2025 berjalan, buku-buku bertumpuk dalam belasan jilid dengan nilai melebihi 3.000.000 Rupiah Indonesia. Orang bilang kalap, parahnya setelah ‘sumpah palapa’ membeli 3 judul buku lagi diantaranya Toponimi.  Ada keistimewaan tersendiri pada buku yang dibeli kali ini, tanda tangan penulis. Belum pernah saya mendapatkan tanda tangan dari penulisnya langsung. Aaaaaa!!! kegirangan ini meluap melebihi sungai Nil dengan potongan harga sampai Rp 96.500 de...