Detoks atau Diet Media Sosial

Skema Hidup Bahagia
Kecanduan?  apa yang anda bayangkan dengan satu kata tersebut?  Tentunya sebuah hal yang berlebihan dan segala sesuatu yang berlebihan itu biasanya tidak baik. Bagaimana pun hidup di dunia ini harus mempunyai keseimbangan untuk menciptakan sebuah keindahan dalam hidup.  Hidup dalam dunia cyber juga harus dilandasi oleh konsep keseimbangan antara hidup dalam dunia nyata dan maya. 

Banyak generasi millenia memang mempunyai kecenderungan lebih banyak berinteraksi di dalam dunia dan tidak bisa dipungkiri karena kemajuan teknologi yang terus berlanjut. Berbagai macam gejala sosial tentunya berdampak positif dan negatif pada seseorang yang menggunakan teknologi tersebut. Kali ini saya ingin memberikan pengalaman saya yang sudah kecanduan media sosial.

Awal generasi millennial mungkin saja dimulai dengan adanya Facebook sebagai gantinya Friendster yang sudah terkenal oleh kalangan 'remaja kolot ' waktu itu. Facebook datang dengan fitur sosial yang gemilang sehingga membuat anak muda gandrung dengan media sosial ini, kemudahan penggunaan mempengaruhi segmen 'kolot' untuk menggunakan media sosial ini.  Terlepas dari Facebook ternyata banyak sekali media sosial yang lebih menarik seperti Instagram, Snapchat, Path, Weibo dan yang lainnya.

"Yang jauh menjadi dekat dan yang dekat menjadi jauh"  itulah kalimat yang pas pada zaman media sosial kali ini. Dimana orang didekatkan dengan sebuah jaringan media sosial dengan kekuatan jaringan internet. Dan sisi lainnya saat berkumpul bersama keluarga, rekan dan teman kerja terasa jauh karena sibuk dengan telpon genggamnya yang 'berisik' oleh cuap - cuapan media sosial. Banyak sedikitnya seseorang yang mempunyai akun media sosial pasti mendapatkan dampak negatif dan positifnya, di sini saya pribadi ingin menceritakan dampak negatif yang pernah saya alami selama ini. Dampak yang paling fatal adalah suatu keadaan dimana seseorang bisa disebut dengan 'kecanduan' dari keadaan tersebut muncul berbagai macam penyakit - penyakit psikologis yang muncul.

Tinggalkan HP Ayo Goes
Salah satu masalah psikologis yang muncul dalam diri saya adalah adanya paksaan untuk selalu membagi foto sebuah perjalanan wisata yang menyenangkan. Tiap minggu atau bulan rasanya tidak sempurna tanpa unggahan - unggahan foto wisata ke tempat indah. Dan yang 'terlalu' bagi saya adalah dimana harga diri akan turun dimana sebuah foto dengan jumlah LIKE yang kurang. Itu membuat bad mood sepanjang hari. Selain itu media sosial menuntut kita untuk berbuat sesuatu yang sempurna baik dalam segi tutur kata, pakaian dan kain sebagainya.  Padahal dalam kehidupan nyata kita hanyalah rakyat biasa yang dipaksa tampil sempurna bak artis yang penuh keglamouran.

Siksaan demi siksaan yang diciptakan sendiri mendera psikologi saya hingga saya memutuskan untuk diet atau detoks media sosial. Bagi saya detoks media sosial sangat bermanfaat sekali diantaranya menjauhkan kekacauan psikologis yang ditimbulkan media sosial, berbagai cara saya coba dan berdampak positif terhadap diri saya sendiri. Detoks media sosial yang saya lakukan diantaranya :
1. Matikan media sosial selama setengah hari,  sehari, tiga hari, seminggu atau sebulan.
2. Deactivate atau menonaktifkan sementara akun.
3. Menikmati keindahan alam sekitar tanpa membawa telpon genggam pintar.
4. Meninggalkan telpon genggam pintar saat berkumpul bersama keluarga, teman ataupun siapa saja.
5. Tahan mengunggah foto momen terbaik dan foto keindahan alam yang anda jumpai.
6. Mulailah 'berdiet' untuk membuat status di Facebook, BBM messenger, ataupun Whatapp.
7. Sempatkan waktu anda dengan kesibukan seperti berolahraga, membaca buku, bersepeda dll.
8. Dan masih banyak sekali cara untuk diet atau detoks media sosial
Demikian tips dari saya semoga bermanfaat dan kehidupan nyata lebih indah daripada dalam media sosial.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kata Serapan Bahasa Portugis dalam Bahasa Indonesia

Parfum Garuda Indonesia: Parfum Yang Mempunyai Hukum

KAWERUH BASA: Peribahasa lan Saloka Jawa #27