Langsung ke konten utama

Hutan Lindung Gunung Gegerbentang Pamarican dan Refleksi Diri

Ngaji Bareng Cak Nun Di Mangunjaya Pangandaran

Hari Rabu tanggal 10 September 2019 ada acara Ngaji Desa di Mangunjaya Pangandaran dengan penceramah Cak Nun, berikut kutipan yang saya tulis langsung saat mendengarkan materi atau isi pembicaraan saat itu: 

Asalamualaykum menjadi awal belajar dari Cak Nun, asalam sebagai hubungan horizontal antara manusia yang lainnya sebagai hubungan kasih, sementara hubungan vertikal antara manusia dan Tuhan. Nilai filosofi-nya begitu menggugah para manusia yang hilang akan hakekatnya sebagai manusia yang mempunyai fungsi dualisme. 

Jalan sempit adalah jalan yang mengharuskan manusia akan teloransi antara manusia, kita mengalah kepada manusia yang lainnya untuk berjalan lebih dulu. Pada jalan sempit ini juga berbagai jenis manfaat sosial ditemukan untuk kemuliaan ahlak manusia.

Suasana Ngaji Desa di Mangunjaya Pangandaran

Manusia mempunyai formula baku dengan fungsi yang sempurna, sementara jin tidak tercipta dalam ketentuan baku, misalnya kepala lebih besar, kaki lebih panjang dan sebagainya. Jin adalah mahluk yang tercipta sebagai mahluk ke-dua tercipta sebelum manusia.

Prilaku Tuhan kepada manusia yang dipengaruhi langsung oleh manusia itu sendiri diantaranya: Hidayah, di mana manusia dikehendaki Tuhan dengan baik karena perilaku manusia yang menjurus kepada kebaikan. Idzin, manusia mencari atau menghendaki dan Allah mengizinkannya. Istidrot, Allah memberikan sebagai 'jebakan' karena manusia telah melakukan hal yang tak terpuji. Idlal, dimana Allah memberikan nikmat kepada manusia untuk menyesatkan hingga lebih jauh. Ada dua sifat Allah sebagai maha memberi petunjuk dan maha pemberi kesesatan. Kenapa tidak ada Maha Pemberi Kesesatan dalam asmaul husna? Ada beberapa nama Allah yang disebutkan dalam alquran, namun tidak disebutkan dalam asmaul husna seperti Maha Penyembuh, dan yang lainnya. 

Pusat kehidupan manusia dan alam semesta adalah pada diri Allah. Tidak ada tempat yang spesifik untuk menyebut dimana Allah berada, karena Allah berada pada ciptaanNya dalam semesta. Manusia tetsusun dari organ, jaringan, sel, dan dalam sel terdapat neutron dan terdapat quadroon dan dalam quadroon terdapat kekosongan. Jika disimpulkan maka manusia adalah kekosongan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Nama-nama Tai

Sega, beras yang ditanak Apa benar bahasa Jawa itu terlalu 'manut' ke bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris? Tampaknya ada benarnya juga, bahasa Jawa terpengaruh/meminjam banyak kosa kata dari bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris. Kekurangan kosakata dalam bahasa Jawa memang kebanyakan untuk hal-hal seperti teknologi ataupun hal lainnya. Jangan berkecil hati untuk penutur bahasa Jawa di seluruh dunia! Perlu diingatkan bahasa Jawa mempunyai keunikan tersendiri, misalnya saja untuk belajar bahasa Jawa 'satu paket' atau juga keseluruhan dari bahasa kasar/ngoko, bahasa sedang/madya hingga bahasa halus/kromo, sama saja belajar tiga bahasa!! Bayangkan belajar tiga bahasa, apa gak repot ya?! Itulah keistimewaan bahasa Jawa. Bersyukur! Berbagai keistimewaan bahasa Jawa juga terdapat di istilah-istilah yang sangat detail/spesifik pada suatu beda yang mengalami sebuah perubahan sedikit maupun perubahan besar. Misalnya saja untuk rangkaian nama dari sebuah padi/po...

Istilah-istilah Anak dalam Keluarga Jawa

1. Ontang-anting: anak laki-laki/perempuan tanpa saudara (semata wayang). 2. Uger-uger lawang: dua bersaudara anak laki-laki. 3. Kembang sepasang: dua bersaudara anak perempuan. 4. Kendhana-kendhini: dua anak bersaudara, laki-laki yang tua, perempuan yang muda. 5. Kendhini-kandana: dua anak bersaudara, perempuan yang tua, laki-laki yang muda. 6. Pandhawa: Kelima anak berjenis kelamin laki-laki semua. 7. Ngayoni: Kelima anak berjenis kelamin perempuan semua. 8. Madangka: Lima anak bersaudara, empat orang lelaki dan satu perempuan. 9. Apil-apil: lima bersaudara, empat orang lelaki dan satu perempuan. Sumber Serat Centhini II - UGM Press.  

Menegang dan Mengeras Oleh Nyai Gowok

Ah...sialan! Padahal aku sudah kenal buku ini sejak Jakarta Islamic Book Fair tahun 2014 lalu! Menyesal-menyesal gak beli saat itu, kupikir buku itu akan sehambar novel-novel dijual murah. Ternyata aku salah, kenapa mesti sekarang untuk meneggang dan mengeras bersama Nyai Gowok . Dari cover buku saya sedikit kenal dengan buku tersebut, bang terpampang di Gramedia , Gunung Agung , lapak buku di Blok M dan masih banyak tempat lainnya termasuk di Jakarta Islamic Book Fair. Kala itu aku lebih memilih Juragan Teh milik Hella S Hasse dan beberapa buku agama, yah begitulah segala sesuatu memerlukan waktu yang tepat agar maknyus dengan enak. Judul Nyai Gowok dan segala isinya saya peroleh dari podcast favorit ( Kepo Buku ) dengan pembawa acara Bang Rame , Steven dan Mas Toto . Dari podcast mereka saya menjadi tahu Nyai Gowok dan isi alur cerita yang membuat beberapa organ aktif menjadi keras dan tegang, ah begitulah Nyi Gowok. Jujur saja ini novel kamasutra pertama yang saya baca, sebelumn...