Langsung ke konten utama

Kissah 1001 Malam Jilid 3

Retorika Aristotles

Semenjak belajar filsafat otakku menjadi liar, kesana kemari mencari buku refrensi semakin hari semakin addicted! Otak yang kian hari kian berasap karena dimasuki 'bahan bakar' panas tetap selalu menerimanya dengan senang hati. Kali ini Saya membaca karya dari filsuf dunia yakni Aristotleles, karya ini sangat berpengaruh sekali pada dunia pidato. Judul bukunya Retorika, sederhana dan langsung tertuju. Buku ini Saya beli di Blok M Jakarta, dengan sangat menyesal aku membeli buku bajakan. Mohon maaf kepada penyunting, penerjemah dan yang lainnya yang sudah saya rugikan dengan membeli buku bajakan. Nasib menjadi kaum papa tak kuasa membeli buku asli dengan cepat, mampu membeli hanya saja butuh waktu lama untuk menabung. Sekali lagi maafkan saya.

Buku berjilid merah dengan gambar Aristotleles ini cukup mencolok dan tak perlu diragukan itu buku apa! Orang bisa menebak dengan tepat dari kejauhan. Buku ini sepertinya didedikasikan untuk dunia pidato ataupun para orang yang memang bekerja dengan menggunakan retorika sebagai alatnya. Bukan saja mereka yang bekerja dengan retorika, tapi juga pada manusia biasa yang ingin berbicara dengan menggunakan seni yang indah sehingga pendengar akan merasa nyaman saat ngobrol dengan Anda.

Bahasa yang digunakan pada buku ini bagi saya sangat ringan, sederhana sehingga pembaca mudah sekali menerima materi yang terkandung. 

Artikel ini belum selesai penuh, tapi dah mangkrak lama. 

Judul buku: Retorika Seni Berbicara
Penulis: Aristotleles
Penerjemah: Dedeh Sry Handayani
Penyunting: Deddy Arysa
Tata sampul: Miftah Paulus
Cetakan: Pertama, April 2018
Penerbit: Basabasi
ISBN: 978-602-6651-98-3
Jumlah halaman: 416

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Review Sepatu Gunung SNTA

Sepatu SNTA Jika dirunut waktu kira-kira sudah menginjak usia tiga tahun sepatu gunung merek SNTA yang ku beli dari teman satu perusahaan sewaktu masih menjadi kuli di Jakarta Raya. Saya membeli sepatu SNTA bukanlah sebuah pilihan dari hati ataupun penalaran akal, melainkan sebuah pilihan terpaksa dari sebuah ketidaktahuan yang mendalam pada peralatan out door . Bisa dikatakan aku hanya manut saran dari temanku yang sekaligus menjadi penjual dari sepatu yang ku beli.  Berawal dari niat mendaki gunung Semeru pada tahun 2016 lalu, semua tuntutan peralatan out door harus dilunasi oleh sejumlah lembaran merah biru dari dalam dompet. Sepatu gunung, jaket gunung, tongkat, sarung tangan, keril dan sejumlah aksesorir terbayar lunas tanpa berpikir merek, warna, jenis barang. Yang tergambar dalam otakku hanyalah sebuah kepemilikan saja dan berangkat mendaki.  Tidak salah pilihan dari temanku ini membawa manfaat andalan dari merek sepatu SNTA yang saya rasakan dari awal ...

Nama-nama Tai

Sega, beras yang ditanak Apa benar bahasa Jawa itu terlalu 'manut' ke bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris? Tampaknya ada benarnya juga, bahasa Jawa terpengaruh/meminjam banyak kosa kata dari bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris. Kekurangan kosakata dalam bahasa Jawa memang kebanyakan untuk hal-hal seperti teknologi ataupun hal lainnya. Jangan berkecil hati untuk penutur bahasa Jawa di seluruh dunia! Perlu diingatkan bahasa Jawa mempunyai keunikan tersendiri, misalnya saja untuk belajar bahasa Jawa 'satu paket' atau juga keseluruhan dari bahasa kasar/ngoko, bahasa sedang/madya hingga bahasa halus/kromo, sama saja belajar tiga bahasa!! Bayangkan belajar tiga bahasa, apa gak repot ya?! Itulah keistimewaan bahasa Jawa. Bersyukur! Berbagai keistimewaan bahasa Jawa juga terdapat di istilah-istilah yang sangat detail/spesifik pada suatu beda yang mengalami sebuah perubahan sedikit maupun perubahan besar. Misalnya saja untuk rangkaian nama dari sebuah padi/po...

Istilah-istilah Anak dalam Keluarga Jawa

1. Ontang-anting: anak laki-laki/perempuan tanpa saudara (semata wayang). 2. Uger-uger lawang: dua bersaudara anak laki-laki. 3. Kembang sepasang: dua bersaudara anak perempuan. 4. Kendhana-kendhini: dua anak bersaudara, laki-laki yang tua, perempuan yang muda. 5. Kendhini-kandana: dua anak bersaudara, perempuan yang tua, laki-laki yang muda. 6. Pandhawa: Kelima anak berjenis kelamin laki-laki semua. 7. Ngayoni: Kelima anak berjenis kelamin perempuan semua. 8. Madangka: Lima anak bersaudara, empat orang lelaki dan satu perempuan. 9. Apil-apil: lima bersaudara, empat orang lelaki dan satu perempuan. Sumber Serat Centhini II - UGM Press.