Langsung ke konten utama

Kissah 1001 Malam Jilid 3

Candi Ronggeng Yang Dikubur Kembali

Saya lahir dan besar di Pamarican masih saja banyak yang tidak diketahui, termasuk adanya sebuah candi peninggalan kerajaan Sunda masa lampau. Banyak pemuda ataupun masyarakat tua di Pamarican yang tahu keberadaan sebuah candi di daerahnya, hanya sedikit saja yang tahu. Miris, tapi dimaklumi berhubung candi ini masih terkubur rapat dan rata dengan tanah.

Candi Ronggeng berlokasi di bantaran sungai Ciseel, tepatnya di Dusun Sukawening, Desa Sukajaya, Kecamatan Pamarican, Kabupaten Ciamis. Selain dinamai candi Ronggeng, ada juga yang menyebutnya sebagai candi Pamarican. Kenapa diberi nama Candi Ronggeng? Ciamis Selatan adalah tanah kelahiran Ronggeng Gunung, cerita rakyat berupa Dewi Semboja yang menjadi ronggeng menjadi faktor kuat dalam penamaan nama candi ini, terlebih bukti kuat ditemukan artefak berupa batu berbentuk kenong dan Nandi (patung sapi betina).

Saya sendiri sudah dua kali berkunjung ke lokasi candi Ronggeng dengan rentang waktu tiga minggu, hanya saja tidak ada titik terang yang menakjubkan tentang candi yang berlokasi di pinggir sungai ini. Jika anda berkunjung ke lokasi maka tidak akan mendapatkan stupa, artefak ataupun hal lain yang berhubungan dengan candi. Semuanya datar dan dikelilingi oleh tanaman, layaknya kebon warga yang super biasa. Hanya saya satu plang pengumuman dari Dinas Kebudayaan dan Pendidikan yang berisikan amaran dan undang-undang demi menjaga barang artefak yang terkandung di daerah tersebut.

Beberapa waktu lalu tim dari Dinas Kebudayaan dan Pendidikan melakukan penggalian di lokasi candi Ronggeng, dan mendapatkan sejumlah artefak dari batu. Namun ditutup (dikubur) kembali. Semoga saja suatu hari nanti akan digali kembali dan teka-teki sejarah yang terkubur terungkap sehingga menjadi monumen sebagai pengingat kehidupan manusia. 





Komentar

Postingan populer dari blog ini

Review Sepatu Gunung SNTA

Sepatu SNTA Jika dirunut waktu kira-kira sudah menginjak usia tiga tahun sepatu gunung merek SNTA yang ku beli dari teman satu perusahaan sewaktu masih menjadi kuli di Jakarta Raya. Saya membeli sepatu SNTA bukanlah sebuah pilihan dari hati ataupun penalaran akal, melainkan sebuah pilihan terpaksa dari sebuah ketidaktahuan yang mendalam pada peralatan out door . Bisa dikatakan aku hanya manut saran dari temanku yang sekaligus menjadi penjual dari sepatu yang ku beli.  Berawal dari niat mendaki gunung Semeru pada tahun 2016 lalu, semua tuntutan peralatan out door harus dilunasi oleh sejumlah lembaran merah biru dari dalam dompet. Sepatu gunung, jaket gunung, tongkat, sarung tangan, keril dan sejumlah aksesorir terbayar lunas tanpa berpikir merek, warna, jenis barang. Yang tergambar dalam otakku hanyalah sebuah kepemilikan saja dan berangkat mendaki.  Tidak salah pilihan dari temanku ini membawa manfaat andalan dari merek sepatu SNTA yang saya rasakan dari awal ...

Nama-nama Tai

Sega, beras yang ditanak Apa benar bahasa Jawa itu terlalu 'manut' ke bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris? Tampaknya ada benarnya juga, bahasa Jawa terpengaruh/meminjam banyak kosa kata dari bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris. Kekurangan kosakata dalam bahasa Jawa memang kebanyakan untuk hal-hal seperti teknologi ataupun hal lainnya. Jangan berkecil hati untuk penutur bahasa Jawa di seluruh dunia! Perlu diingatkan bahasa Jawa mempunyai keunikan tersendiri, misalnya saja untuk belajar bahasa Jawa 'satu paket' atau juga keseluruhan dari bahasa kasar/ngoko, bahasa sedang/madya hingga bahasa halus/kromo, sama saja belajar tiga bahasa!! Bayangkan belajar tiga bahasa, apa gak repot ya?! Itulah keistimewaan bahasa Jawa. Bersyukur! Berbagai keistimewaan bahasa Jawa juga terdapat di istilah-istilah yang sangat detail/spesifik pada suatu beda yang mengalami sebuah perubahan sedikit maupun perubahan besar. Misalnya saja untuk rangkaian nama dari sebuah padi/po...

Istilah-istilah Anak dalam Keluarga Jawa

1. Ontang-anting: anak laki-laki/perempuan tanpa saudara (semata wayang). 2. Uger-uger lawang: dua bersaudara anak laki-laki. 3. Kembang sepasang: dua bersaudara anak perempuan. 4. Kendhana-kendhini: dua anak bersaudara, laki-laki yang tua, perempuan yang muda. 5. Kendhini-kandana: dua anak bersaudara, perempuan yang tua, laki-laki yang muda. 6. Pandhawa: Kelima anak berjenis kelamin laki-laki semua. 7. Ngayoni: Kelima anak berjenis kelamin perempuan semua. 8. Madangka: Lima anak bersaudara, empat orang lelaki dan satu perempuan. 9. Apil-apil: lima bersaudara, empat orang lelaki dan satu perempuan. Sumber Serat Centhini II - UGM Press.