Langsung ke konten utama

Kisah 1001 Malam Jilid 2

KAWERUH BASA: Peribahasa lan Saloka Jawa #28

Huruf R

1. Raga tanpa mulè (ib). Wong sing wis ora dihormati atawa disegani.

2. Rai dingklik (ib). Wong sing ora reti isin.

3. Rai gedheg (ib). Wong sing ora nduwéni isin.

4. Rai trumpah (ib). Wong sing ora nduwéni isin.

5. Raja wisuna (ib). 1 wong Adu domba karo sesama. 2 wong sing menghubungi mata - mata.

6. Ramban - ramban tanggung (ib). Wong sing mbabit wong lia tapi ra jelas sapa sing dibabit.

7. Rampèk rampek kethek (ib). Wong sing muji wong sing wis sering gawe kejahatan.

8. Radha gabug (ib). Janda ra nduweni anak.

9. Randha kisi (ib). Janda nduweni anak lanang.

10. Rawi ratya grahana cutè. Wong sing ulih isin nang ngarep umum.

11. Rebut cukup (ib). Wong sing nduweni kerjaan kur seperlunè.

12. Rebut dhucung (ib). Wong sing rebutan gipi nang kerjaan,  lomba lan liannè.

13. Rebut koripan/tuwuh (ib). 1 wong sing ngungsi urip. 2 wong sing ngoleti keuripan.

14. Rebut seneng (ib). Milih salah siji sesuai selera.

15. Rebut tangguh (ib). Wong sing berlomba-lomba nang ramalan atawa nang ilmu.

16. Regem - regem kemarung (ib). Wong sing sifatè angel dikuasai,  dilayani, atawa kerjasama.

17. Renteng - renteng runtung - runtung (ib). Wong sing rukun seia sekata,  meng endi endi bareng.

18. Renggang gula (ib). Wong sing ora bisa pisah karo bojo.

19. Rog - rog asem. Segala sesuatu sing ora tentu.

20. Rubuh - rubuh gedhang (ib). Wong sing makmum.

21. Rubuh - rubuh gedheg (ib). Melu - melu.

22. Rumangkang rumingking (ib). Maling nembe mlebu halaman umah wis ditangkap.

23. Rupak jagadè (ib). Wong sing ora disenengi wong lia,  akeh musuh.

24. Rupak segaranè. Wong sing ora seneng ngapurani wong lia.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Review Sepatu Gunung SNTA

Sepatu SNTA Jika dirunut waktu kira-kira sudah menginjak usia tiga tahun sepatu gunung merek SNTA yang ku beli dari teman satu perusahaan sewaktu masih menjadi kuli di Jakarta Raya. Saya membeli sepatu SNTA bukanlah sebuah pilihan dari hati ataupun penalaran akal, melainkan sebuah pilihan terpaksa dari sebuah ketidaktahuan yang mendalam pada peralatan out door . Bisa dikatakan aku hanya manut saran dari temanku yang sekaligus menjadi penjual dari sepatu yang ku beli.  Berawal dari niat mendaki gunung Semeru pada tahun 2016 lalu, semua tuntutan peralatan out door harus dilunasi oleh sejumlah lembaran merah biru dari dalam dompet. Sepatu gunung, jaket gunung, tongkat, sarung tangan, keril dan sejumlah aksesorir terbayar lunas tanpa berpikir merek, warna, jenis barang. Yang tergambar dalam otakku hanyalah sebuah kepemilikan saja dan berangkat mendaki.  Tidak salah pilihan dari temanku ini membawa manfaat andalan dari merek sepatu SNTA yang saya rasakan dari awal ...

Nama-nama Tai

Sega, beras yang ditanak Apa benar bahasa Jawa itu terlalu 'manut' ke bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris? Tampaknya ada benarnya juga, bahasa Jawa terpengaruh/meminjam banyak kosa kata dari bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris. Kekurangan kosakata dalam bahasa Jawa memang kebanyakan untuk hal-hal seperti teknologi ataupun hal lainnya. Jangan berkecil hati untuk penutur bahasa Jawa di seluruh dunia! Perlu diingatkan bahasa Jawa mempunyai keunikan tersendiri, misalnya saja untuk belajar bahasa Jawa 'satu paket' atau juga keseluruhan dari bahasa kasar/ngoko, bahasa sedang/madya hingga bahasa halus/kromo, sama saja belajar tiga bahasa!! Bayangkan belajar tiga bahasa, apa gak repot ya?! Itulah keistimewaan bahasa Jawa. Bersyukur! Berbagai keistimewaan bahasa Jawa juga terdapat di istilah-istilah yang sangat detail/spesifik pada suatu beda yang mengalami sebuah perubahan sedikit maupun perubahan besar. Misalnya saja untuk rangkaian nama dari sebuah padi/po...

Istilah-istilah Anak dalam Keluarga Jawa

1. Ontang-anting: anak laki-laki/perempuan tanpa saudara (semata wayang). 2. Uger-uger lawang: dua bersaudara anak laki-laki. 3. Kembang sepasang: dua bersaudara anak perempuan. 4. Kendhana-kendhini: dua anak bersaudara, laki-laki yang tua, perempuan yang muda. 5. Kendhini-kandana: dua anak bersaudara, perempuan yang tua, laki-laki yang muda. 6. Pandhawa: Kelima anak berjenis kelamin laki-laki semua. 7. Ngayoni: Kelima anak berjenis kelamin perempuan semua. 8. Madangka: Lima anak bersaudara, empat orang lelaki dan satu perempuan. 9. Apil-apil: lima bersaudara, empat orang lelaki dan satu perempuan. Sumber Serat Centhini II - UGM Press.