Langsung ke konten utama

Trilogi Resital Oleh Ibn Sina

KAWERUH BASA: Peribahasa lan Saloka Jawa #28

Huruf R

1. Raga tanpa mulè (ib). Wong sing wis ora dihormati atawa disegani.

2. Rai dingklik (ib). Wong sing ora reti isin.

3. Rai gedheg (ib). Wong sing ora nduwéni isin.

4. Rai trumpah (ib). Wong sing ora nduwéni isin.

5. Raja wisuna (ib). 1 wong Adu domba karo sesama. 2 wong sing menghubungi mata - mata.

6. Ramban - ramban tanggung (ib). Wong sing mbabit wong lia tapi ra jelas sapa sing dibabit.

7. Rampèk rampek kethek (ib). Wong sing muji wong sing wis sering gawe kejahatan.

8. Radha gabug (ib). Janda ra nduweni anak.

9. Randha kisi (ib). Janda nduweni anak lanang.

10. Rawi ratya grahana cutè. Wong sing ulih isin nang ngarep umum.

11. Rebut cukup (ib). Wong sing nduweni kerjaan kur seperlunè.

12. Rebut dhucung (ib). Wong sing rebutan gipi nang kerjaan,  lomba lan liannè.

13. Rebut koripan/tuwuh (ib). 1 wong sing ngungsi urip. 2 wong sing ngoleti keuripan.

14. Rebut seneng (ib). Milih salah siji sesuai selera.

15. Rebut tangguh (ib). Wong sing berlomba-lomba nang ramalan atawa nang ilmu.

16. Regem - regem kemarung (ib). Wong sing sifatè angel dikuasai,  dilayani, atawa kerjasama.

17. Renteng - renteng runtung - runtung (ib). Wong sing rukun seia sekata,  meng endi endi bareng.

18. Renggang gula (ib). Wong sing ora bisa pisah karo bojo.

19. Rog - rog asem. Segala sesuatu sing ora tentu.

20. Rubuh - rubuh gedhang (ib). Wong sing makmum.

21. Rubuh - rubuh gedheg (ib). Melu - melu.

22. Rumangkang rumingking (ib). Maling nembe mlebu halaman umah wis ditangkap.

23. Rupak jagadè (ib). Wong sing ora disenengi wong lia,  akeh musuh.

24. Rupak segaranè. Wong sing ora seneng ngapurani wong lia.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Nama-nama Tai

Sega, beras yang ditanak Apa benar bahasa Jawa itu terlalu 'manut' ke bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris? Tampaknya ada benarnya juga, bahasa Jawa terpengaruh/meminjam banyak kosa kata dari bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris. Kekurangan kosakata dalam bahasa Jawa memang kebanyakan untuk hal-hal seperti teknologi ataupun hal lainnya. Jangan berkecil hati untuk penutur bahasa Jawa di seluruh dunia! Perlu diingatkan bahasa Jawa mempunyai keunikan tersendiri, misalnya saja untuk belajar bahasa Jawa 'satu paket' atau juga keseluruhan dari bahasa kasar/ngoko, bahasa sedang/madya hingga bahasa halus/kromo, sama saja belajar tiga bahasa!! Bayangkan belajar tiga bahasa, apa gak repot ya?! Itulah keistimewaan bahasa Jawa. Bersyukur! Berbagai keistimewaan bahasa Jawa juga terdapat di istilah-istilah yang sangat detail/spesifik pada suatu beda yang mengalami sebuah perubahan sedikit maupun perubahan besar. Misalnya saja untuk rangkaian nama dari sebuah padi/po...

Istilah-istilah Anak dalam Keluarga Jawa

1. Ontang-anting: anak laki-laki/perempuan tanpa saudara (semata wayang). 2. Uger-uger lawang: dua bersaudara anak laki-laki. 3. Kembang sepasang: dua bersaudara anak perempuan. 4. Kendhana-kendhini: dua anak bersaudara, laki-laki yang tua, perempuan yang muda. 5. Kendhini-kandana: dua anak bersaudara, perempuan yang tua, laki-laki yang muda. 6. Pandhawa: Kelima anak berjenis kelamin laki-laki semua. 7. Ngayoni: Kelima anak berjenis kelamin perempuan semua. 8. Madangka: Lima anak bersaudara, empat orang lelaki dan satu perempuan. 9. Apil-apil: lima bersaudara, empat orang lelaki dan satu perempuan. Sumber Serat Centhini II - UGM Press.  

Toponimi - Asal Usul Nama Tempat di Jawa Barat oleh T Bachtiar

Setiap hal mempunyai jalur ilmunya tersendiri termasuk nama tempat. Ilmu mengenai nama tempat disebut juga Toponimi, suatu hal yang baru bagi saya dewasa ini. T Bachtiar membawa saya untuk mengenal lebih lanjut apa itu Toponimi baik dari segi ilmuan, pengetahuan tentang nama-nama tempat di Jawa Barat juga pada hal hal yang sebelumnya ‘gelap’. Mendapatkan buku Toponimi adalah kecelakaan keuangan terindah tahun ini, di mana saya sudah memutuskan ‘sumpah palapa’  untuk tidak membelanjakan uang pada buku-buku baru. Lewat enam bulan tahun 2025 berjalan, buku-buku bertumpuk dalam belasan jilid dengan nilai melebihi 3.000.000 Rupiah Indonesia. Orang bilang kalap, parahnya setelah ‘sumpah palapa’ membeli 3 judul buku lagi diantaranya Toponimi.  Ada keistimewaan tersendiri pada buku yang dibeli kali ini, tanda tangan penulis. Belum pernah saya mendapatkan tanda tangan dari penulisnya langsung. Aaaaaa!!! kegirangan ini meluap melebihi sungai Nil dengan potongan harga sampai Rp 96.500 de...