Langsung ke konten utama

Kisah 1001 Malam Jilid I

Saudara Apa Tentangga?

Saudara adalah suatu ikatan keluarga baik dari urutan darah daging, ikatan pernikahan ataupun hukum. Indah sekali jika seseorang menceritakan tentang saudara terlebih lagi isi pembicaraan tentang hal-hal yang baik dari saudara kita. Tapi beberapa orang kadang menjadi sebuah bumerang! Entah apa alasannya, apakah karena adanya superior dan inferior, kaya miskin? Atau apa?!

Artikel ini tumbuh dari pengamalan pribadi yang sudah kesal mau kemana lagi dibuang. Dan ini bukan perasasti dendamku untuk mereka yang 'menyisihkanku' tapi ini sebagai penginggat diri untuk selalu mencintai saudara sendiri.

Singkat cerita: suatu hari dalam pendaftaran sekolah, kami bertiga ikut mendaftarkan seorang saudara. Aku sebagai alumni tentu, guru ku bertanya "siapa dia?" Aku jawab "saudara" sementara jawaban tidak mengenakan hati saat guru lain bertanya ke saudaraku "siapa dia?" (ke aku) dan alangkah terkejutnya saya ketika dia mengatakan bahwa saya adalah tetangganya!

Aduhai mama, salah apa mereka dikandung?! Dosa manusia kah?arau setan apa yang masuk dalam dirinya, mama?! Aku terdiam dan sedikit mengiyakan agar saudaraku yang menganggap aku sebagai tetangga menjadi tenang dan tidak turun martabatnya karena mempunyai saudara seperti ku.

Banyak sekali alasan seorang saudara menganggap saudara lainnya sebagai tetangga di hadapan orang lain. Biasanya mereka orang kaya, superior yang tidak mau mempunyai 'noda' miskin dalam keluarga terhormatnya. Inilah alasan keretakan sebuah persaudaraan dalam ikatan darah. Lebih jauh lagi jika sudah ada yang menganggap dirinya superior maka ikatan persaudaraan hanya terjadi jika ada pesta pernikahan/khitan, dan kematian. Barulah mereka berkumpul dan menganggap diri mereka bersaudara satu sama lainnya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Review Sepatu Gunung SNTA

Sepatu SNTA Jika dirunut waktu kira-kira sudah menginjak usia tiga tahun sepatu gunung merek SNTA yang ku beli dari teman satu perusahaan sewaktu masih menjadi kuli di Jakarta Raya. Saya membeli sepatu SNTA bukanlah sebuah pilihan dari hati ataupun penalaran akal, melainkan sebuah pilihan terpaksa dari sebuah ketidaktahuan yang mendalam pada peralatan out door . Bisa dikatakan aku hanya manut saran dari temanku yang sekaligus menjadi penjual dari sepatu yang ku beli.  Berawal dari niat mendaki gunung Semeru pada tahun 2016 lalu, semua tuntutan peralatan out door harus dilunasi oleh sejumlah lembaran merah biru dari dalam dompet. Sepatu gunung, jaket gunung, tongkat, sarung tangan, keril dan sejumlah aksesorir terbayar lunas tanpa berpikir merek, warna, jenis barang. Yang tergambar dalam otakku hanyalah sebuah kepemilikan saja dan berangkat mendaki.  Tidak salah pilihan dari temanku ini membawa manfaat andalan dari merek sepatu SNTA yang saya rasakan dari awal ...

Nama-nama Tai

Sega, beras yang ditanak Apa benar bahasa Jawa itu terlalu 'manut' ke bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris? Tampaknya ada benarnya juga, bahasa Jawa terpengaruh/meminjam banyak kosa kata dari bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris. Kekurangan kosakata dalam bahasa Jawa memang kebanyakan untuk hal-hal seperti teknologi ataupun hal lainnya. Jangan berkecil hati untuk penutur bahasa Jawa di seluruh dunia! Perlu diingatkan bahasa Jawa mempunyai keunikan tersendiri, misalnya saja untuk belajar bahasa Jawa 'satu paket' atau juga keseluruhan dari bahasa kasar/ngoko, bahasa sedang/madya hingga bahasa halus/kromo, sama saja belajar tiga bahasa!! Bayangkan belajar tiga bahasa, apa gak repot ya?! Itulah keistimewaan bahasa Jawa. Bersyukur! Berbagai keistimewaan bahasa Jawa juga terdapat di istilah-istilah yang sangat detail/spesifik pada suatu beda yang mengalami sebuah perubahan sedikit maupun perubahan besar. Misalnya saja untuk rangkaian nama dari sebuah padi/po...

Istilah-istilah Anak dalam Keluarga Jawa

1. Ontang-anting: anak laki-laki/perempuan tanpa saudara (semata wayang). 2. Uger-uger lawang: dua bersaudara anak laki-laki. 3. Kembang sepasang: dua bersaudara anak perempuan. 4. Kendhana-kendhini: dua anak bersaudara, laki-laki yang tua, perempuan yang muda. 5. Kendhini-kandana: dua anak bersaudara, perempuan yang tua, laki-laki yang muda. 6. Pandhawa: Kelima anak berjenis kelamin laki-laki semua. 7. Ngayoni: Kelima anak berjenis kelamin perempuan semua. 8. Madangka: Lima anak bersaudara, empat orang lelaki dan satu perempuan. 9. Apil-apil: lima bersaudara, empat orang lelaki dan satu perempuan. Sumber Serat Centhini II - UGM Press.