Langsung ke konten utama

Kisah 1001 Malam Jilid I

Menjadi Orang Awam Yang Baik

Gambar Ilustrasi

Pernah baca komentar di media sosial? Apa isinya? Apakah mereka ahli di bidang yang dikomentarinya? Apakah mereka sadar akan dirinya dan ilmunya?

Umumnya masyarakat dunia maya (netizen) senang sekali berkomentar tanpa memperhitungkan kapasitas keilmuan ataupun hal lain yang menyangkut akan dunia tertentu. Mereka dengan mudah melontarkan sebuah komentar hingga terjadilah kekacauan, kebencian, saling membenci. Apa sebenarnya yang terjadi?!#
Ghazali mempunyai teori yang dunia barat dan dunia pada umumnya melupakan hal kecil ini. Dunia barat dan dunia pada umumnya mengarahkan manusia untuk menjadi professional sementara Ghazali sebaliknya. Ghazali dalam bukunya yang berjudul Menjadi Orang Awam Yang Baik mengajarkan kita untuk selalu paham pada dirinya sendiri.

Banyak orang awam yang tidak sadar bahwa dirinya awam sehingga terjadilah kekacauan. Bidang kedokteran dikomentarinya, bidang teknologi pangan dikomentarinya padahal dirinya awam. Apa yang menyebabkan kekacauan (chaos) karena keawaman yang tidak disadari. Kita boleh mengomentari tentang dunia kedokteran namun perlu kesadaran akan batas kelimuan yang kita miliki. Dan memang setiap manusia tidak perlu ahli menjadi mekanik, kedokteran, pertanian dan lain sebagainya. Oleh karena itu jadilah manusia yang paham dan sadar akan keawaman-nya.

Resep menjadi awam: paham dan sadar akan keawaman-nya dan tahu batas.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Review Sepatu Gunung SNTA

Sepatu SNTA Jika dirunut waktu kira-kira sudah menginjak usia tiga tahun sepatu gunung merek SNTA yang ku beli dari teman satu perusahaan sewaktu masih menjadi kuli di Jakarta Raya. Saya membeli sepatu SNTA bukanlah sebuah pilihan dari hati ataupun penalaran akal, melainkan sebuah pilihan terpaksa dari sebuah ketidaktahuan yang mendalam pada peralatan out door . Bisa dikatakan aku hanya manut saran dari temanku yang sekaligus menjadi penjual dari sepatu yang ku beli.  Berawal dari niat mendaki gunung Semeru pada tahun 2016 lalu, semua tuntutan peralatan out door harus dilunasi oleh sejumlah lembaran merah biru dari dalam dompet. Sepatu gunung, jaket gunung, tongkat, sarung tangan, keril dan sejumlah aksesorir terbayar lunas tanpa berpikir merek, warna, jenis barang. Yang tergambar dalam otakku hanyalah sebuah kepemilikan saja dan berangkat mendaki.  Tidak salah pilihan dari temanku ini membawa manfaat andalan dari merek sepatu SNTA yang saya rasakan dari awal ...

Nama-nama Tai

Sega, beras yang ditanak Apa benar bahasa Jawa itu terlalu 'manut' ke bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris? Tampaknya ada benarnya juga, bahasa Jawa terpengaruh/meminjam banyak kosa kata dari bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris. Kekurangan kosakata dalam bahasa Jawa memang kebanyakan untuk hal-hal seperti teknologi ataupun hal lainnya. Jangan berkecil hati untuk penutur bahasa Jawa di seluruh dunia! Perlu diingatkan bahasa Jawa mempunyai keunikan tersendiri, misalnya saja untuk belajar bahasa Jawa 'satu paket' atau juga keseluruhan dari bahasa kasar/ngoko, bahasa sedang/madya hingga bahasa halus/kromo, sama saja belajar tiga bahasa!! Bayangkan belajar tiga bahasa, apa gak repot ya?! Itulah keistimewaan bahasa Jawa. Bersyukur! Berbagai keistimewaan bahasa Jawa juga terdapat di istilah-istilah yang sangat detail/spesifik pada suatu beda yang mengalami sebuah perubahan sedikit maupun perubahan besar. Misalnya saja untuk rangkaian nama dari sebuah padi/po...

Istilah-istilah Anak dalam Keluarga Jawa

1. Ontang-anting: anak laki-laki/perempuan tanpa saudara (semata wayang). 2. Uger-uger lawang: dua bersaudara anak laki-laki. 3. Kembang sepasang: dua bersaudara anak perempuan. 4. Kendhana-kendhini: dua anak bersaudara, laki-laki yang tua, perempuan yang muda. 5. Kendhini-kandana: dua anak bersaudara, perempuan yang tua, laki-laki yang muda. 6. Pandhawa: Kelima anak berjenis kelamin laki-laki semua. 7. Ngayoni: Kelima anak berjenis kelamin perempuan semua. 8. Madangka: Lima anak bersaudara, empat orang lelaki dan satu perempuan. 9. Apil-apil: lima bersaudara, empat orang lelaki dan satu perempuan. Sumber Serat Centhini II - UGM Press.