Langsung ke konten utama

Kisah 1001 Malam Jilid I

Jika Terlalu Sering Sariawan, Mungkin Salah Pilih Pasta Gigi

Mulut dan gigi bagai gerbang awal kehidupan, dimana makanan masuk dan akan memupuk miliyaran titik sel dalam tubuh manusia. Dari fungsinya gerbang makanan tersebut, manusia yakin bahwa gerbang makanan tersebut adalah hal vital kehidupan. Vitalnya gerbang makanan tersebut haruslah dijaga dengan benar agar tidak ada kerusakan yang menyebabkan makanan masuk tidak dengan sempurna atau memiliki kedala.

Berbagai cara telah dilakukan manusia untuk menjaga gerbang makanan tersebut mulai dari menggosokan akar, serat kelapa, menyepah daun sirih hingga pada sebuah pasta gigi. Semua ditemukan dan dijalankan manusia demi gerbang makanan terpelihara dengan baik sehingga makanan yang masuk menjadi nutrisi yang baik bagi tubuh. Satu engsel saja rusak dalam gerbang makanan tersebut akan membawa celaka pada si empunya, terlebih lagi jika kerusakan engsel gerbang berjumlah banyak pastilah akan menyengsarakan. 

Berbagai kerusakan engsel pada gerbang makanan seperti nyeri gusi, nyeri akar gigi, gigi bolong, gigi omopong, sariawan dan yang lainnya. Semua akan terasa sengsara, maka dari itu banyak cara manusia dapat untuk memepertahankan gerbang makanan tersebut agar terpelihara baik. Namun beberapa cara baik modern maupun tradisional tidaklah selalu jodoh dari mulut satu dengan mulut lainnya. Contohnya saya, walaupun sudah bergosok gigi baik pagi, siang, sore dan menjelang tidur masih saja dinding mulut, gusi dan wilayah mulut lainnya sering kena koreng mulut alias sariawan. 

Tahu kenapa bisa selalu sariawan padahal sudah rajin menggosokan pasta gigi? Ternyata setiap mulut itu mempunyai karakter yang berbeda-beda ada yang sensitive ada yang kebal seperti kulit badak maupun gajah, kuat dari berbagai zat yang terkandung daripada pasta gigi. Mulut saya termasuk pada katagori sensitive jadi tak boleh kena busa-busa yang pedas atau terasa mint yang kuat. Jadi para pembaca sekalian jika anda seperti saya bolehlah berganti pasta gigi ke pasta gigi tanpa kandungan detergent. Seperti pasta gigi enzim. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Review Sepatu Gunung SNTA

Sepatu SNTA Jika dirunut waktu kira-kira sudah menginjak usia tiga tahun sepatu gunung merek SNTA yang ku beli dari teman satu perusahaan sewaktu masih menjadi kuli di Jakarta Raya. Saya membeli sepatu SNTA bukanlah sebuah pilihan dari hati ataupun penalaran akal, melainkan sebuah pilihan terpaksa dari sebuah ketidaktahuan yang mendalam pada peralatan out door . Bisa dikatakan aku hanya manut saran dari temanku yang sekaligus menjadi penjual dari sepatu yang ku beli.  Berawal dari niat mendaki gunung Semeru pada tahun 2016 lalu, semua tuntutan peralatan out door harus dilunasi oleh sejumlah lembaran merah biru dari dalam dompet. Sepatu gunung, jaket gunung, tongkat, sarung tangan, keril dan sejumlah aksesorir terbayar lunas tanpa berpikir merek, warna, jenis barang. Yang tergambar dalam otakku hanyalah sebuah kepemilikan saja dan berangkat mendaki.  Tidak salah pilihan dari temanku ini membawa manfaat andalan dari merek sepatu SNTA yang saya rasakan dari awal ...

Nama-nama Tai

Sega, beras yang ditanak Apa benar bahasa Jawa itu terlalu 'manut' ke bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris? Tampaknya ada benarnya juga, bahasa Jawa terpengaruh/meminjam banyak kosa kata dari bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris. Kekurangan kosakata dalam bahasa Jawa memang kebanyakan untuk hal-hal seperti teknologi ataupun hal lainnya. Jangan berkecil hati untuk penutur bahasa Jawa di seluruh dunia! Perlu diingatkan bahasa Jawa mempunyai keunikan tersendiri, misalnya saja untuk belajar bahasa Jawa 'satu paket' atau juga keseluruhan dari bahasa kasar/ngoko, bahasa sedang/madya hingga bahasa halus/kromo, sama saja belajar tiga bahasa!! Bayangkan belajar tiga bahasa, apa gak repot ya?! Itulah keistimewaan bahasa Jawa. Bersyukur! Berbagai keistimewaan bahasa Jawa juga terdapat di istilah-istilah yang sangat detail/spesifik pada suatu beda yang mengalami sebuah perubahan sedikit maupun perubahan besar. Misalnya saja untuk rangkaian nama dari sebuah padi/po...

Istilah-istilah Anak dalam Keluarga Jawa

1. Ontang-anting: anak laki-laki/perempuan tanpa saudara (semata wayang). 2. Uger-uger lawang: dua bersaudara anak laki-laki. 3. Kembang sepasang: dua bersaudara anak perempuan. 4. Kendhana-kendhini: dua anak bersaudara, laki-laki yang tua, perempuan yang muda. 5. Kendhini-kandana: dua anak bersaudara, perempuan yang tua, laki-laki yang muda. 6. Pandhawa: Kelima anak berjenis kelamin laki-laki semua. 7. Ngayoni: Kelima anak berjenis kelamin perempuan semua. 8. Madangka: Lima anak bersaudara, empat orang lelaki dan satu perempuan. 9. Apil-apil: lima bersaudara, empat orang lelaki dan satu perempuan. Sumber Serat Centhini II - UGM Press.