Langsung ke konten utama

Trilogi Resital Oleh Ibn Sina

Bukan Aku

Zaman teknologi ini membuat semuanya menjadi dadah yang terus menagih dan menagih tanpa batas, kecuali mati atau insyaf. Komunikasi menjadi pendek, cepat dan kurang bermakna, detik ke detik lainnya muncul pesan baru. Semua semakin liar saja.

Sore itu layar kecil mengedipkan lampu pertanda pesan baru masuk ke gawai. Percakapan saling silang menjalin keteraturan bak rajutan, tenun dan karpet persia. Semua terjalin dengan harmonis hingga pada kerapatan yang baik. Rapat, saling berhadap hingga degup jantung terdengar satu sama lain. Satu sisi jatuh hati, sisi lain belum terlihat.

Akulah sisi yang jatuh hati, segala yang ada ditumpahkan untuk perasaan yang semakin hari semakin menghimpit. Sesak rasanya entah saat senang ataupun iri pada dirinya yang dekat dengan yang lain. Itulah sehari-hari perasaan yang dialamiku, persis seperti Majnun. Gila.

Segala waktu terbuka, segala kesempatan teruntuknya. Semua melebihi penyembahan pada yang Kuasa, aku paham ini racun yang bisa menelan waktu. Rasa dadah yang menagih, lagi dan lagi. Sesat! 

Dari pertemuan ke pertemuan, benda ke benda dan semua untuknya hingga menjadi rasa yang aneh. Aku tak bisa menyimpulkan apa yang dirasakan padanya, hingga aku merasa bahwa aku sendiri. Tidak berlawan dan hambar. Pesan demi pesan dari gawai meluncur tak terkendali demi perasaan yang menyesakan. Bagiku seperti sayupnya lirik To Love You More dari Celine Dion, sakit. Dan aku sadar itu adalah luka, hanya luka yang diperjuangkan untuk menjadi nanah busuk.

Yang kini tersadar betapa busuknya nanah yang ku hasilkan. Dan aku bukan sesiapa dan aku terasa asing untuk diriku sendiri dalam himpitan perasaan yang tidak dapat dijelaskan. 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Nama-nama Tai

Sega, beras yang ditanak Apa benar bahasa Jawa itu terlalu 'manut' ke bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris? Tampaknya ada benarnya juga, bahasa Jawa terpengaruh/meminjam banyak kosa kata dari bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris. Kekurangan kosakata dalam bahasa Jawa memang kebanyakan untuk hal-hal seperti teknologi ataupun hal lainnya. Jangan berkecil hati untuk penutur bahasa Jawa di seluruh dunia! Perlu diingatkan bahasa Jawa mempunyai keunikan tersendiri, misalnya saja untuk belajar bahasa Jawa 'satu paket' atau juga keseluruhan dari bahasa kasar/ngoko, bahasa sedang/madya hingga bahasa halus/kromo, sama saja belajar tiga bahasa!! Bayangkan belajar tiga bahasa, apa gak repot ya?! Itulah keistimewaan bahasa Jawa. Bersyukur! Berbagai keistimewaan bahasa Jawa juga terdapat di istilah-istilah yang sangat detail/spesifik pada suatu beda yang mengalami sebuah perubahan sedikit maupun perubahan besar. Misalnya saja untuk rangkaian nama dari sebuah padi/po...

Istilah-istilah Anak dalam Keluarga Jawa

1. Ontang-anting: anak laki-laki/perempuan tanpa saudara (semata wayang). 2. Uger-uger lawang: dua bersaudara anak laki-laki. 3. Kembang sepasang: dua bersaudara anak perempuan. 4. Kendhana-kendhini: dua anak bersaudara, laki-laki yang tua, perempuan yang muda. 5. Kendhini-kandana: dua anak bersaudara, perempuan yang tua, laki-laki yang muda. 6. Pandhawa: Kelima anak berjenis kelamin laki-laki semua. 7. Ngayoni: Kelima anak berjenis kelamin perempuan semua. 8. Madangka: Lima anak bersaudara, empat orang lelaki dan satu perempuan. 9. Apil-apil: lima bersaudara, empat orang lelaki dan satu perempuan. Sumber Serat Centhini II - UGM Press.  

Toponimi - Asal Usul Nama Tempat di Jawa Barat oleh T Bachtiar

Setiap hal mempunyai jalur ilmunya tersendiri termasuk nama tempat. Ilmu mengenai nama tempat disebut juga Toponimi, suatu hal yang baru bagi saya dewasa ini. T Bachtiar membawa saya untuk mengenal lebih lanjut apa itu Toponimi baik dari segi ilmuan, pengetahuan tentang nama-nama tempat di Jawa Barat juga pada hal hal yang sebelumnya ‘gelap’. Mendapatkan buku Toponimi adalah kecelakaan keuangan terindah tahun ini, di mana saya sudah memutuskan ‘sumpah palapa’  untuk tidak membelanjakan uang pada buku-buku baru. Lewat enam bulan tahun 2025 berjalan, buku-buku bertumpuk dalam belasan jilid dengan nilai melebihi 3.000.000 Rupiah Indonesia. Orang bilang kalap, parahnya setelah ‘sumpah palapa’ membeli 3 judul buku lagi diantaranya Toponimi.  Ada keistimewaan tersendiri pada buku yang dibeli kali ini, tanda tangan penulis. Belum pernah saya mendapatkan tanda tangan dari penulisnya langsung. Aaaaaa!!! kegirangan ini meluap melebihi sungai Nil dengan potongan harga sampai Rp 96.500 de...