Langsung ke konten utama

Trilogi Resital Oleh Ibn Sina

Cerita Awal Tahun

Tahun baru ini diawali dengan cerita kehidupan dariku, dimana boleh diambil sebagai bekal nanti. Pagi di tahun sebelumnya saya mendapatkan pesan WhatsApp dari saudara, Asri. Dia meminta tolong untuk dijengukkan ayahnya (sifat kakak) yang sedang dirawat di Inabah. Saya pun menyanggupi permintaannya. 

Kebetulan saya mendapatkan hari libur dadakan di tanggal 1 Januari, jelas kesempatan emas untuk melaksanakan amanat dari Asri. Pagi sekitar jam 09:00 saya berangkat sendiri menuju Bojingmengger untuk melihat wajah yang pernah aku kenal sejak kecil, Ang Timin. Duku Ang Timin adalah salah satu orang yang suka mengendong saya selagi kecil. Badannya tambun sejahtera dengan segala banda yang ia punya. Kini dia seorang pesakit yang jauh dari kata sejahtera. Wajahnya penuh timbunan masalah hidup, gurat-gurat di dahi seperti lukisan tumpukan psikologis yang dalam. Ucapan demi ucapan menjadi sebuah makna yang bisa saya ambil sebagai bekal nanti.

Ia dinyatakan sembuh 80% dan bisa diurus di rumah, asal ada yang menjaga dan memberi kegiatan yang layak agar psikologisnya tidak ambruk lagi. Beberapa faktor penyebab sudah diceritakan dan aku paham ini adalah sebuah kesalahan dalam bergaul, bagiku titik awal sehat mental adalah dimana seseorang membawa 'racun' atau tidak saat menjalin hubungan sosial. Dan kekuatan mental kita yang membawa untuk menjadi kuat.

Pasien di inabah tidaklah banyak, ada sekitar 6-7 orang dengan permasalahannya masing-masing. Satu dua orang mendekati saya dengan gayanya sendiri. Tampak satu orang yang pintar ceramah 'membawakan' isi ceramah dengan tiba-tiba ketawa keras dan menangis sedih. Satu lagi pemuda tampan yang mengaku orang Salopa, namun besar di Purwokerto. Dia bisa berbahasa Jawa, akhirnya saya berkomunikasi dengan bahasa Jawa untuk mendekatkan hubungan yang lebih dalam.

Dengan percakapan ringan mengalir lebih jauh hingga dia membuka cerita yang sangat dalam padaku. Usianya 18 tahun dengan permasalahan narkoba yang ia konsumsi sejak SMP. Dia mengajukan diri untuk sebuah 'pertobatan' di Inabah ini. Dengan jawaban santai "saya bersedia ke sini untuk menata hidup"

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Nama-nama Tai

Sega, beras yang ditanak Apa benar bahasa Jawa itu terlalu 'manut' ke bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris? Tampaknya ada benarnya juga, bahasa Jawa terpengaruh/meminjam banyak kosa kata dari bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris. Kekurangan kosakata dalam bahasa Jawa memang kebanyakan untuk hal-hal seperti teknologi ataupun hal lainnya. Jangan berkecil hati untuk penutur bahasa Jawa di seluruh dunia! Perlu diingatkan bahasa Jawa mempunyai keunikan tersendiri, misalnya saja untuk belajar bahasa Jawa 'satu paket' atau juga keseluruhan dari bahasa kasar/ngoko, bahasa sedang/madya hingga bahasa halus/kromo, sama saja belajar tiga bahasa!! Bayangkan belajar tiga bahasa, apa gak repot ya?! Itulah keistimewaan bahasa Jawa. Bersyukur! Berbagai keistimewaan bahasa Jawa juga terdapat di istilah-istilah yang sangat detail/spesifik pada suatu beda yang mengalami sebuah perubahan sedikit maupun perubahan besar. Misalnya saja untuk rangkaian nama dari sebuah padi/po...

Istilah-istilah Anak dalam Keluarga Jawa

1. Ontang-anting: anak laki-laki/perempuan tanpa saudara (semata wayang). 2. Uger-uger lawang: dua bersaudara anak laki-laki. 3. Kembang sepasang: dua bersaudara anak perempuan. 4. Kendhana-kendhini: dua anak bersaudara, laki-laki yang tua, perempuan yang muda. 5. Kendhini-kandana: dua anak bersaudara, perempuan yang tua, laki-laki yang muda. 6. Pandhawa: Kelima anak berjenis kelamin laki-laki semua. 7. Ngayoni: Kelima anak berjenis kelamin perempuan semua. 8. Madangka: Lima anak bersaudara, empat orang lelaki dan satu perempuan. 9. Apil-apil: lima bersaudara, empat orang lelaki dan satu perempuan. Sumber Serat Centhini II - UGM Press.  

Toponimi - Asal Usul Nama Tempat di Jawa Barat oleh T Bachtiar

Setiap hal mempunyai jalur ilmunya tersendiri termasuk nama tempat. Ilmu mengenai nama tempat disebut juga Toponimi, suatu hal yang baru bagi saya dewasa ini. T Bachtiar membawa saya untuk mengenal lebih lanjut apa itu Toponimi baik dari segi ilmuan, pengetahuan tentang nama-nama tempat di Jawa Barat juga pada hal hal yang sebelumnya ‘gelap’. Mendapatkan buku Toponimi adalah kecelakaan keuangan terindah tahun ini, di mana saya sudah memutuskan ‘sumpah palapa’  untuk tidak membelanjakan uang pada buku-buku baru. Lewat enam bulan tahun 2025 berjalan, buku-buku bertumpuk dalam belasan jilid dengan nilai melebihi 3.000.000 Rupiah Indonesia. Orang bilang kalap, parahnya setelah ‘sumpah palapa’ membeli 3 judul buku lagi diantaranya Toponimi.  Ada keistimewaan tersendiri pada buku yang dibeli kali ini, tanda tangan penulis. Belum pernah saya mendapatkan tanda tangan dari penulisnya langsung. Aaaaaa!!! kegirangan ini meluap melebihi sungai Nil dengan potongan harga sampai Rp 96.500 de...