Langsung ke konten utama

Kisah 1001 Malam Jilid I

Jika Jika Jika

Aku seorang manusia yang tercipta oleh Tuhan dan memang diinginkan oleh Tuhan. Dan aku mempunyai agama yang sudah merasuk tercekoki sejak kecil, kini otakku bertanya pada jika jika jika dan andai andai andai. Sejak kecil dulu aku sering berpikir soal ini hingga jembutku lebat pun masih berputar di sel-sel otak nan rumit. Seperti apa? 

Aku manusia, tinggal di bumi tercipta oleh Tuhan, bumi yang luas, melihat ke atas lagi tatanan galaxy begitu luas dan hingga pada seluruh jagat tak terbatas. Ini sebenarnya apa?

Tubuh besar ini dilabeli manusia, hewan yang bisa menawar. Masuk lagi pada organ, sel hingga nukleus dan pada atom. Pada partikel kecil hingga ujung tak terhingga apa maksudnya ini? Kehampaan, kosong dan ada.

Jika aku Tuhan, mungkin aku akan jenuh dan merasa kesepian karena aku satu. Tidak ada teman, keluarga ataupun tetangga. Apakah Tuhan kesepian?

Dan jika aku Tuhan, apakah Tuhan juga tercipta. Kenapa tiba-tiba ada Tuhan, di titik terjauh hingga hitam dan kosong apakah ada permulaan tentang Tuhan. Apakah tiba-tiba ada dan menjelma menjadi pencipta dengan segala yang Dia inginkan?

Di ujung alam ini melihat sangat luas luas luas dari ilmu yang dipelajari sejauh apa bentuk alam semesta yang Tuhan ciptakan. Apakah ruangan yang dibuatNya seperti mangkuk, kaleng atau hanya sebatas hamparan begitu saja.

Jika Tuhan merasa bosan, akupun merasa banyak tanya.

Pikiranku sangat mengerikan sejak mendengarkan kata Tuhan dan ciptaan di sekolah agama, melayang hingga galaxy nan luas dan menyempit mengecil hingga inti atom. Pada penciptaan Tuhan sendiri dan pada kebosanan Tuhan. 

Pernyataan ini dan jika jika jika ini bukan sebuah kesalahan, tapi ke-ada-an yang liar. Hingga bertemu pada jawaban yang melemaskan.

Pada Adam yang tercipta pertama, dan kenapa Eva tercipta setelahnya? Tidak berbarengan, apakah karena sebuah kebutuhan sehingga terjadi penciptaan kembali dengan bentuk yang melengkapi?

Pada sifat Tuhan yang sama dengan manusia, ketakutan itu menghanyut pada muara hati dan jantung saat mendengar Tuhan pun marah, mempunyai dendam, juga mempunyai rasa cemburu yang tinggi. 

Saya rasa gak bukan kegilaan semata, sebatas tulisan tertunda sedari kecil dan kini tertulis sebelum tidur.

Di samping jendela kayu, 29 Agustus 2021




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Review Sepatu Gunung SNTA

Sepatu SNTA Jika dirunut waktu kira-kira sudah menginjak usia tiga tahun sepatu gunung merek SNTA yang ku beli dari teman satu perusahaan sewaktu masih menjadi kuli di Jakarta Raya. Saya membeli sepatu SNTA bukanlah sebuah pilihan dari hati ataupun penalaran akal, melainkan sebuah pilihan terpaksa dari sebuah ketidaktahuan yang mendalam pada peralatan out door . Bisa dikatakan aku hanya manut saran dari temanku yang sekaligus menjadi penjual dari sepatu yang ku beli.  Berawal dari niat mendaki gunung Semeru pada tahun 2016 lalu, semua tuntutan peralatan out door harus dilunasi oleh sejumlah lembaran merah biru dari dalam dompet. Sepatu gunung, jaket gunung, tongkat, sarung tangan, keril dan sejumlah aksesorir terbayar lunas tanpa berpikir merek, warna, jenis barang. Yang tergambar dalam otakku hanyalah sebuah kepemilikan saja dan berangkat mendaki.  Tidak salah pilihan dari temanku ini membawa manfaat andalan dari merek sepatu SNTA yang saya rasakan dari awal ...

Nama-nama Tai

Sega, beras yang ditanak Apa benar bahasa Jawa itu terlalu 'manut' ke bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris? Tampaknya ada benarnya juga, bahasa Jawa terpengaruh/meminjam banyak kosa kata dari bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris. Kekurangan kosakata dalam bahasa Jawa memang kebanyakan untuk hal-hal seperti teknologi ataupun hal lainnya. Jangan berkecil hati untuk penutur bahasa Jawa di seluruh dunia! Perlu diingatkan bahasa Jawa mempunyai keunikan tersendiri, misalnya saja untuk belajar bahasa Jawa 'satu paket' atau juga keseluruhan dari bahasa kasar/ngoko, bahasa sedang/madya hingga bahasa halus/kromo, sama saja belajar tiga bahasa!! Bayangkan belajar tiga bahasa, apa gak repot ya?! Itulah keistimewaan bahasa Jawa. Bersyukur! Berbagai keistimewaan bahasa Jawa juga terdapat di istilah-istilah yang sangat detail/spesifik pada suatu beda yang mengalami sebuah perubahan sedikit maupun perubahan besar. Misalnya saja untuk rangkaian nama dari sebuah padi/po...

Istilah-istilah Anak dalam Keluarga Jawa

1. Ontang-anting: anak laki-laki/perempuan tanpa saudara (semata wayang). 2. Uger-uger lawang: dua bersaudara anak laki-laki. 3. Kembang sepasang: dua bersaudara anak perempuan. 4. Kendhana-kendhini: dua anak bersaudara, laki-laki yang tua, perempuan yang muda. 5. Kendhini-kandana: dua anak bersaudara, perempuan yang tua, laki-laki yang muda. 6. Pandhawa: Kelima anak berjenis kelamin laki-laki semua. 7. Ngayoni: Kelima anak berjenis kelamin perempuan semua. 8. Madangka: Lima anak bersaudara, empat orang lelaki dan satu perempuan. 9. Apil-apil: lima bersaudara, empat orang lelaki dan satu perempuan. Sumber Serat Centhini II - UGM Press.