Langsung ke konten utama

Kisah 1001 Malam Jilid I

Learning Javanese: Questions

An Indonesian statement become a question when it is preceded by Apa as question indicator, to which a yes or no answer can be given.

He/she is a teacher = Wong kae tulih guru

Is he/she a teacher? = Apa wong kae guru?

They want to eat = Kae wong sakabehan pengin madang

Do they want to eat? = Apa kae wong sakabehan pengin madang?

A statement become a question when it is spoken with a rising intonation at the end of the sentence. Bold word should read in rising intonation for become a question. Examples :
1. Bocah kae nyanyi? Is that child singing?

2. Kae wong pengin madang? Do they want to eat?

Basic questions word in Banyumasan Javanese dialect.

Where is? = Nang endi?

When? = Kapan?

What? = Apa? Opo?

Who? = Sapa?

Who are you?  = Sapa koe? Sapa sih kae?

Why? = Kenengapa? Nengapa?

Which? = Sing endi? 

How = Pie?  Kepriwe? Kepriben?

How much? = Pira? Piro?  (for asking price = Piranan)

What does that mean? = Apa gue artiné?

May I?  = Ulih ora Enyong?

May I come in? = Ulih ora/ra Enyong mlebu?

May I have that? = Ulih ora/ra Enyong njaluk?

Can you? = Bisa ora/ra?

Can you help me?  = Bisa ra mbantu Enyong?

Vocabulary
Tulih = Is
Wong kae = He/She
Guru = Teacher
Bocah = Child
Nyanyi = Singing
Kae = They
Pengin = Want
Madang = Eat
Mlebu = Come in
Njaluk = Asking

Written by Waluyo Ibn Dischman
Pamarican, December 13, 2016
08:00 pm

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Review Sepatu Gunung SNTA

Sepatu SNTA Jika dirunut waktu kira-kira sudah menginjak usia tiga tahun sepatu gunung merek SNTA yang ku beli dari teman satu perusahaan sewaktu masih menjadi kuli di Jakarta Raya. Saya membeli sepatu SNTA bukanlah sebuah pilihan dari hati ataupun penalaran akal, melainkan sebuah pilihan terpaksa dari sebuah ketidaktahuan yang mendalam pada peralatan out door . Bisa dikatakan aku hanya manut saran dari temanku yang sekaligus menjadi penjual dari sepatu yang ku beli.  Berawal dari niat mendaki gunung Semeru pada tahun 2016 lalu, semua tuntutan peralatan out door harus dilunasi oleh sejumlah lembaran merah biru dari dalam dompet. Sepatu gunung, jaket gunung, tongkat, sarung tangan, keril dan sejumlah aksesorir terbayar lunas tanpa berpikir merek, warna, jenis barang. Yang tergambar dalam otakku hanyalah sebuah kepemilikan saja dan berangkat mendaki.  Tidak salah pilihan dari temanku ini membawa manfaat andalan dari merek sepatu SNTA yang saya rasakan dari awal ...

Nama-nama Tai

Sega, beras yang ditanak Apa benar bahasa Jawa itu terlalu 'manut' ke bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris? Tampaknya ada benarnya juga, bahasa Jawa terpengaruh/meminjam banyak kosa kata dari bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris. Kekurangan kosakata dalam bahasa Jawa memang kebanyakan untuk hal-hal seperti teknologi ataupun hal lainnya. Jangan berkecil hati untuk penutur bahasa Jawa di seluruh dunia! Perlu diingatkan bahasa Jawa mempunyai keunikan tersendiri, misalnya saja untuk belajar bahasa Jawa 'satu paket' atau juga keseluruhan dari bahasa kasar/ngoko, bahasa sedang/madya hingga bahasa halus/kromo, sama saja belajar tiga bahasa!! Bayangkan belajar tiga bahasa, apa gak repot ya?! Itulah keistimewaan bahasa Jawa. Bersyukur! Berbagai keistimewaan bahasa Jawa juga terdapat di istilah-istilah yang sangat detail/spesifik pada suatu beda yang mengalami sebuah perubahan sedikit maupun perubahan besar. Misalnya saja untuk rangkaian nama dari sebuah padi/po...

Istilah-istilah Anak dalam Keluarga Jawa

1. Ontang-anting: anak laki-laki/perempuan tanpa saudara (semata wayang). 2. Uger-uger lawang: dua bersaudara anak laki-laki. 3. Kembang sepasang: dua bersaudara anak perempuan. 4. Kendhana-kendhini: dua anak bersaudara, laki-laki yang tua, perempuan yang muda. 5. Kendhini-kandana: dua anak bersaudara, perempuan yang tua, laki-laki yang muda. 6. Pandhawa: Kelima anak berjenis kelamin laki-laki semua. 7. Ngayoni: Kelima anak berjenis kelamin perempuan semua. 8. Madangka: Lima anak bersaudara, empat orang lelaki dan satu perempuan. 9. Apil-apil: lima bersaudara, empat orang lelaki dan satu perempuan. Sumber Serat Centhini II - UGM Press.